The Lost Hour Tavern
Kata Pengantar
Sebagian besar kisah perang ditulis dalam bahasa strategi, korban, dan kemenangan. Namun, di antara halaman-halaman sejarah yang terbakar waktu, ada cerita yang tidak pernah dimasukkan ke dalam laporan resmi. Velinovac adalah salah satunya—sebuah desa yang tidak tercatat, di mana delapan prajurit Inggris dikirim untuk sebuah misi pengintaian yang tak pernah kembali.
Cerita ini lahir dari keinginan untuk menelusuri sisi lain peperangan—bukan yang penuh ledakan dan artileri, melainkan ruang hening di mana realitas mulai retak, dan manusia dipaksa menghadapi sesuatu yang lebih tua dari logika. Di tempat-tempat seperti itulah, sejarah dan mitos saling bertabrakan. Dalam kabut yang tidak pernah pergi, siapa pun bisa kehilangan arah—bukan hanya secara geografis, tapi secara spiritual.
Aku menulis kisah ini sebagai penghormatan bagi semua yang pernah tersesat, baik dalam medan tempur maupun dalam medan batin. Velinovac bukan hanya cerita tentang delapan prajurit. Ini adalah cerita tentang kita—manusia yang mencari arti dalam kegelapan, dan kadang menemukannya… di tempat yang seharusnya tidak ada.
Sinopsis
Tahun 1915. Sebuah regu kecil dari Royal Fusiliers ditugaskan untuk patroli pengintaian ke wilayah terpencil di Serbia, sebuah jalur tanpa komunikasi yang tidak tercantum di peta militer. Mereka tiba di sebuah desa tua bernama Velinovac—sunyi, kosong, namun terasa seperti baru saja ditinggalkan. Rumah-rumah masih utuh, kapel berdiri tenang, dan suara lonceng terdengar… meskipun tak ada angin.
Saat hari-hari berlalu, para tentara mulai mengalami mimpi aneh, bisikan dalam bahasa asing, dan penampakan sosok-sosok misterius. Jejak sejarah kelam mulai terkuak: ritual berdarah untuk menghentikan wabah kolera ratusan tahun lalu, pengorbanan anak-anak, dan roh tua bernama Veznik yang menuntut perjanjian ditepati.
Satu per satu dari mereka menghilang. Yang tersisa hanyalah dua orang—Maynard dan Ellis—yang ditemukan beberapa hari kemudian di desa tetangga dalam keadaan linglung dan terguncang. Namun, penyelidikan militer tidak menemukan jejak Velinovac. Tak ada bukti, tak ada koordinat, hanya cerita dan jurnal yang nyaris tak bisa dipercaya.
Velinovac adalah novel horor atmosferik yang menelusuri batas rapuh antara kenyataan dan mitos. Sebuah kisah tentang keterasingan, perang, dan pertemuan manusia dengan sesuatu yang lebih tua dari waktu itu sendiri.
Bab 1 - Perintah Dari Markas (Oktober 1915)
Kabut musim dingin menggantung rendah di atas garis bukit, membungkus barak komando Divisi Infanteri ke-28 seperti jubah yang enggan dilepas. Di kejauhan, dentuman artileri terdengar samar—seolah Perang Dunia hanya gema jauh di balik hutan. Di markas sementara itu, tenda-tenda berdiri setengah lelah di tengah lumpur yang tak pernah kering, sementara para perwira menunduk di bawah lampu gas, mencoret peta dan menyusun rencana yang bahkan mereka sendiri tak benar-benar yakini.
Di dalam tenda utama, Sersan Charles Hargreaves berdiri tegak, kedua tangannya menyilang di belakang punggung. Wajahnya keras, tak bisa dibaca—seperti tanah beku yang belum tersentuh musim semi. Di hadapannya, Letnan Harold Spencer membacakan perintah patroli dengan nada resmi, tapi tak bisa menyembunyikan sedikit kebimbangan yang menyusup di akhir kalimatnya.
“Rute pengintaian bergerak ke sektor timur laut, melewati koordinat yang belum dicatat. Sebuah jalur tua, tidak ada laporan gerakan musuh. Tujuan: pemetaan lokasi, pencarian sumber air, dan verifikasi apakah area bisa dimanfaatkan untuk pos logistik pendukung. Kode sandi: ‘Velinovac’.”
“Velinovac?” tanya Maynard lirih, berdiri setengah langkah di belakang Hargreaves. Nama itu asing, aneh di lidah, seperti bukan bahasa yang lazim terdengar di telinga Inggris.
“Nama lokal,” jawab Spencer, sekilas memandangi catatan usang yang dilampirkan pada berkas. “Bukan desa yang ada dalam peta resmi. Tapi laporan dari pengungsi Serbia menyebut area itu pernah dihuni.”
Private Ellis, yang berdiri paling belakang, merasakan tengkuknya dingin meski tenda cukup hangat. Ia menatap pelan dari balik helmnya, memperhatikan peta usang yang ditunjuk dengan jari telunjuk Spencer—sebuah titik nyaris tak terlihat, di antara lekukan hutan dan lereng bukit. Tak ada nama. Tak ada jalan. Hanya selembar garis kabur.
“Berapa hari perjalanan?” tanya Hargreaves, datar.
“Dua hari berjalan kaki. Medan berbatu. Hutan di sisi barat kemungkinan berlumpur. Tidak ada dukungan radio. Jalur telepon terputus sejak dua minggu lalu,” kata Spencer.
“Artinya, jika terjadi sesuatu...”
“Tidak akan ada kabar balik.”
Tak ada yang berbicara sesudahnya. Hanya suara dengung lampu gas dan helaan napas Ellis yang tak sengaja terdengar lebih berat.
Di luar, Griggs—si tukang canda dari Liverpool—sedang mengikat ulang tali sepatunya sambil menyumpah pada lumpur yang menempel seperti kutukan. Di sebelahnya, McCrae mengamati langit. “Kabut datang lebih awal hari ini,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. Billy Fenton meludah ke tanah, gelisah sejak pagi. Barrow dan Doyle sedang membersihkan senjata mereka dalam diam—ritual yang mengalihkan mereka dari fakta bahwa tak satu pun dari mereka tahu apa yang menanti di luar peta.
Malam itu, perintah resmi disampaikan. Regu Royal Fusiliers akan berangkat esok subuh. Tidak dengan kendaraan, tidak dengan peta lengkap, dan tidak dengan jaminan pulang. Hanya delapan orang—sebuah regu kecil untuk tugas yang katanya “pengintaian ringan”.
“Tak ada musuh di sana,” kata Spencer, seolah ingin menghibur. Tapi ucapannya melayang hampa di udara, seperti asap di ruang tertutup.
Hargreaves menyampaikan perintah itu pada anak buahnya dengan singkat. Tidak ada pidato, tidak ada semangat palsu. Hanya sebaris kalimat: “Kita jalan jam lima. Siapkan semuanya.”
Di malam sebelum keberangkatan, Maynard duduk di tepi tenda, menulis sesuatu dalam buku sakunya. Ellis menggambar bentuk bukit dan pepohonan dari ingatannya, tanpa alasan yang jelas. Sementara yang lain tidur, bicara pelan, atau menatap api unggun, diam-diam menyadari—misi ini terasa berbeda.
Bukan karena jaraknya. Bukan karena medan. Tapi karena tak satu pun dari mereka tahu apa yang akan mereka temukan di tempat bernama Velinovac itu. Nama yang bahkan peta pun enggan mencantumkan.
Dan di tempat yang tak punya nama, hukum-hukum yang mereka kenal tak selalu berlaku.
Bab 2 - Delapan Orang Menuju Timur
Kabut itu bukan kabut biasa. Ia tidak menggulung seperti awan basah dari lembah, tapi menggantung rendah, menyelimuti batang pohon dan tanah seolah mencoba menutupi sesuatu—atau menyambut sesuatu yang datang. Kabut itu seperti kulit tipis dunia lain, dan delapan pria Inggris yang melangkah perlahan ke dalamnya seolah sedang menyibak tabir dari realitas yang tak mereka mengerti.
Perjalanan dimulai dari markas pos kecil di selatan Novi Sad, dengan hanya peta tak lengkap, sepucuk perintah tertulis, dan rasa penasaran yang perlahan berubah menjadi kegelisahan. Mereka bukan tentara yang mudah takut. Mereka telah melihat kematian dari jarak dekat, mencium bau mesiu dan daging terbakar, menahan tangis di antara puing dan parit. Tapi kali ini berbeda. Tidak ada peluru yang menyambut, tidak ada ledakan—hanya keheningan yang terlalu sempurna untuk disebut alam.
“Peta ini… seolah menuntun kita ke tempat yang sengaja disembunyikan,” gumam Maynard, sambil memandangi garis samar yang membelah perbukitan dan hutan di peta lusuh itu.
“Kita sudah keluar dari dunia yang kita kenal,” jawab McCrae, yang sejak fajar tadi terlihat gelisah, matanya menyapu pepohonan dengan kewaspadaan naluriah. “Tempat seperti ini… tak ingin dikunjungi.”
Hargreaves tidak menanggapi. Ia terus berjalan paling depan, bahunya tegak, langkahnya mantap. Tapi di balik ketegasannya, wajahnya terlihat menegang. Pria itu tidak bicara banyak, tapi dalam diamnya hari itu, ada sesuatu yang berubah.
Mereka mendaki tanjakan curam, jalan setapak penuh kerikil dan akar pohon. Griggs sempat mengeluh, tapi hanya sebentar, sebelum kembali diam seperti yang lain. Fenton terengah-engah di belakang, sesekali melihat ke belakang, seolah takut ada yang mengikutinya.
Ellis berjalan paling akhir, sambil mencatat diam-diam di buku kecil yang selalu ia bawa. Ia mencoret sketsa pohon bengkok yang seolah membentuk sosok manusia, lalu berhenti menulis saat suara ranting patah terdengar dari arah kiri jalur.
“Berhenti.” Perintah Hargreaves pelan, tapi tegas.
Delapan orang itu menunduk, mendengarkan. Hening. Tidak ada burung, tidak ada angin. Lalu—desingan peluru.
Serangan datang dari balik pepohonan. Ledakan kecil menghantam jalur di depan mereka, membuat tanah dan daun berhamburan. Teriakan dalam bahasa Jermanik menggema, diikuti tembakan senapan dari arah atas.
“Posisi bertahan!” teriak Hargreaves.
Pasukan Inggris itu berpencar, berlindung di balik batu dan batang pohon. Maynard menarik Ellis dari bahaya saat peluru menghantam tanah tempatnya berdiri beberapa detik lalu.
McCrae membalas tembakan, matanya merah oleh ketegangan, sedangkan Fenton justru membeku, tubuhnya gemetar di balik pohon besar.
Griggs, meskipun biasa bercanda, kini menggertakkan gigi sambil menembakkan peluru ke arah asal tembakan. Darah mengucur dari pipinya karena pecahan batu, tapi ia tak peduli. “Bukan penyambutan hangat, ya?” serunya pahit.
Pertempuran berlangsung kurang dari sepuluh menit. Tapi bagi mereka, waktu terasa seperti diregangkan oleh rasa panik. Lalu, secepat datangnya, musuh itu mundur. Tanpa jejak, tanpa pengejaran. Hanya keheningan kembali, dan bau mesiu yang tertinggal.
“Kenapa mereka berhenti?” tanya Doyle dengan napas memburu.
“Karena mereka hanya ingin kita tahu… bahwa kita dilihat,” bisik McCrae.
Maynard duduk di atas tanah, matanya masih menatap kosong ke arah musuh pergi. “Itu bukan serangan untuk membunuh. Itu peringatan.”
“Dari siapa?” tanya Barrow tajam, sambil mengikat perban di lengannya yang tergores.
Tak ada yang menjawab.
Kabut semakin tebal. Bahkan jalur yang baru saja mereka lewati kini hampir tidak terlihat. Hargreaves berdiri, menatap ke arah timur, ke jalan yang tertutup putih seperti kapas mati.
“Kita lanjut,” katanya datar.
“Masuk ke sana lagi?” Griggs terdengar setengah berharap jawaban yang berbeda.
“Tugas adalah tugas,” ulang Hargreaves, kali ini dengan suara lebih pelan.
Satu per satu, mereka berdiri. Luka ringan, tapi mental mereka mulai retak—bukan karena musuh, tapi karena rasa yang tak bisa dijelaskan: bahwa tanah yang mereka injak tidak menginginkan kehadiran mereka.
Mereka kembali melangkah. Delapan orang, menuju tempat yang bahkan Tuhan mungkin sudah tinggalkan.
Bab 3 - Jejak yang Tak Menuju Ke Mana-Mana
Kabut tidak menghilang bahkan setelah matahari mencapai titik tertingginya. Cahaya hanya menyaring tipis melalui pucuk pepohonan tinggi, membentuk pancaran redup yang lebih mirip saringan cahaya di ruang bawah tanah daripada sinar siang. Jalur yang mereka lalui makin tak jelas. Ranting dan semak menutupinya, seolah hutan itu sendiri tumbuh menolak dilalui.
Mereka telah berjalan lebih dari dua jam sejak serangan mendadak itu. Tak ada lagi suara tembakan, tapi rasa waspada tetap menempel di tengkuk mereka, seperti tangan dingin yang tak pernah benar-benar pergi. Di satu titik, Sersan Hargreaves mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti. “Istirahat tigapuluh menit,” ucapnya pendek.
Mereka memilih dataran sedikit terbuka di dekat batang pohon besar yang tumbang. Daun basah berserakan, dan tanahnya lembap, tapi tak ada yang mengeluh. Barrow duduk dengan menggerutu pelan sambil menggosok bahunya yang masih dibalut perban. Ellis membuka ransel, mengeluarkan kaleng kecil berlabel pudar, lalu menyodorkannya pada Fenton.
“Ambil duluan. Kau paling banyak terbakar tadi,” kata Ellis sambil tersenyum tipis.
Fenton menerima kalengnya—daging kornet padat yang agak dingin dan minyaknya mulai memisah. Ia membuka dengan pisau lipat kecil, mencungkil bagian atasnya. Maynard dan McCrae menyiapkan rebusan dari bubuk kaldu yang dicampur air sungai yang sudah direbus. Aromanya asin dan logam, tapi lebih baik daripada perut kosong.
Mereka duduk melingkar, masing-masing dengan kaleng di tangan. Suara sendok logam beradu pelan dengan pinggir kaleng terdengar seperti musik aneh dalam hutan yang nyaris membeku.
“Jalan ini... makin lama makin aneh,” gumam Griggs, mulutnya masih penuh. “Kayak kita jalan di perut hewan mati.”
“Aku rasa kita sedang dimakan pelan-pelan,” sahut McCrae, tak tersenyum.
“Aku tadi lihat sesuatu di belakang kita,” tambah Doyle. “Bayangan. Mungkin rusa. Atau bukan.”
“Diam dan makan,” potong Hargreaves. “Paranoia tidak akan bantu.”
Maynard tidak bicara, tapi matanya menyapu hutan di sekitar mereka. Ada sesuatu yang menekan udara, seperti gravitasi asing. Ia menunduk, menatap tanah, dan berhenti.
“Apa itu?” tanyanya pelan, menunjuk ke tanah tak jauh dari tempat duduk mereka.
Mereka semua menoleh.
Jejak sepatu.
Bukan jejak mereka. Ini lebih kecil, bentuknya lebih sempit, dan terlihat tua—sebagian ujungnya sudah dirayapi lumut. Di sampingnya, jejak tumit lain, lalu pecahan batu bata merah yang seharusnya tidak ada di jalur ini.
Mereka berdiri, perlahan, mengikuti jejak itu. Tidak jauh dari sana, hanya beberapa langkah ke balik semak tebal, mereka menemukan sesuatu yang tak tercantum di peta atau laporan mana pun.
Sebuah pondasi bangunan tua. Runtuhan dinding batu setinggi pinggang, jendela tanpa bingkai, dan sisa-sisa lantai kayu yang sudah rapuh dimakan waktu. Ada simbol di dinding—lambang salib Ortodoks yang tergores sebagian, seperti mencoba disembunyikan atau dihancurkan.
“Tempat ini... tidak ada dalam laporan apa pun,” kata Ellis pelan, tangannya menyentuh batu yang dinginnya terasa tak wajar.
Maynard berjongkok, mengamati potongan kayu di lantai. “Ini bukan reruntuhan militer. Ini seperti... rumah atau kapel kecil.”
“Dan tak ada tanda penghuni selama bertahun-tahun,” sahut McCrae.
Hargreaves berjalan memutar, melihat ke sekeliling. “Tempat ini tak masuk akal. Lokasinya terlalu dalam. Tapi pondasinya kokoh.”
“Ada jejak yang mengarah ke dalam hutan. Tapi... tak ada jejak keluar,” bisik Doyle.
Kata-kata itu membuat mereka semua diam. Tidak ada suara lain. Bahkan sendok kaleng yang tadi beradu pun kini seolah tak berani mengeluarkan bunyi.
Maynard menatap jalur jejak itu. “Kita harus terus. Tapi kita tandai tempat ini. Ini... bukan reruntuhan biasa.”
Fenton mencatat koordinat kasar di peta mereka. Ellis menggambar bentuk pondasi di bukunya. Griggs hanya berdiri, menggenggam senapan erat, matanya tak lepas dari hutan di sekeliling mereka.
Hargreaves akhirnya berkata, suaranya rendah tapi tegas, “Istirahat selesai. Kita lanjutkan perjalanan.”
Dan dengan langkah berat, delapan orang itu kembali bergerak—meninggalkan jejak yang tak menuju ke mana-mana, dan reruntuhan yang tak pernah dibangun untuk dilihat kembali.
Bab 4 - Desa Velinovac
Mereka menemukannya tanpa tahu bahwa mereka telah tiba.
Jalur setapak yang mereka ikuti melandai, lalu menghilang begitu saja di bawah bayang-bayang pepohonan pinus tua. Kabut mulai berubah warna—dari abu terang menjadi kelabu kebiruan—dan udara terasa lebih berat, seperti disaring melalui air yang lamban. Langkah-langkah mereka melambat, bukan karena lelah, tetapi karena semacam insting primitif di dalam dada mereka mulai berteriak tanpa suara.
Lalu, dari sela kabut, muncul bangunan.
Rumah. Beberapa. Terbuat dari kayu dan batu, berjendela kecil. Atapnya sebagian tertutup lumut, tapi dinding-dindingnya utuh, nyaris bersih. Seperti belum lama ditinggalkan. Seperti penghuninya masih menyimpan api di tungku, dan hanya keluar sebentar untuk mencari kayu bakar.
“Ini dia…” Maynard berkata pelan, seolah takut desanya akan menghilang jika ia mengucapkannya terlalu keras.
Hargreaves memberi isyarat untuk menyebar. Mereka masuk ke halaman desa yang kecil—dua baris rumah, satu sumur di tengah, dan sebuah kapel kecil di ujung utara. Tidak ada suara. Tidak ada burung, jangkrik, atau angin. Hanya suara langkah sepatu mereka sendiri yang bergema, terlalu keras, di antara dinding kayu dan kaca yang retak.
Griggs mengetuk pintu rumah pertama. Tidak terkunci. Ia mendorongnya perlahan, lalu melangkah masuk, senapan siap di tangan. Ellis mengikutinya. Di dalam, mereka menemukan meja makan dengan taplak renda abu-abu. Tiga piring tersusun rapi. Sisa remah roti. Cangkir keramik kecil yang masih memiliki noda kopi kering di dasarnya.
“Ini… seperti mereka pergi dalam satu tarikan napas,” bisik Ellis.
Griggs membuka lemari di dinding. Pakaian masih tergantung. Sepatu diletakkan rapi di bawahnya. Tidak ada debu. Tidak ada bau pembusukan.
Di rumah berikutnya, McCrae dan Barrow memeriksa tempat tidur dengan sprei yang masih terlipat rapi. Sebuah boneka kayu tergeletak di lantai. Buku doa dalam huruf Kiril di meja kecil, terbuka di halaman yang sudah menguning.
“Mereka pergi tanpa membawa apa-apa,” ujar McCrae, alisnya bertaut. “Atau…”
“Atau mereka tidak sempat pergi,” Barrow melengkapi, matanya menyipit.
Di sisi lain desa, Fenton berdiri di pinggir sumur tua. Ia menatap ke dalam—airnya gelap, diam. Tidak ada suara tetes, tidak ada pantulan cahaya.
“Kalian harus lihat ini,” panggilnya.
Regu berkumpul. Mereka menatap ke dalam sumur itu, tapi tak ada yang bisa dilihat selain hitam pekat yang tampak… terlalu dalam.
Mereka akhirnya beristirahat di halaman dekat kapel kecil. Maynard mengeluarkan biskuit keras dari ranselnya dan membaginya ke Griggs dan Doyle. Ellis menuang teh hitam dari termos kecil, hasil rebusan dari air sungai sebelumnya. Aroma tanah basah dan logam bercampur di udara.
“Menurutmu, ke mana semua orang pergi?” tanya Doyle pelan, menggigit biskuit yang terlalu keras bahkan untuk gigi sehat.
“Bukan pergi,” sahut McCrae tanpa menatap siapa pun. “Mereka menghilang.”
Fenton merapikan tali sepatunya. “Aku tidak suka tempat ini.”
“Tempat ini tidak peduli kau suka atau tidak,” gumam Griggs, mencoba terdengar lucu, tapi tak ada yang tertawa.
Hargreaves mengamati kapel. Pintu kayunya tertutup, tapi jendela kecil di atas pintunya retak, dan dari sela kaca itu, terlihat sesuatu seperti patung. Atau… seseorang berdiri. Ia melangkah pelan, lalu berhenti.
“Kita akan bermalam di sini. Dua orang jaga bergantian. Tidak ada yang menjelajah sendirian. Tidak ada yang keluar dari barisan,” ujarnya tenang, tapi tegas.
“Apa kau merasa... seolah kita sedang diawasi?” tanya Ellis tiba-tiba.
Tak ada yang menjawab. Tapi semuanya diam cukup lama untuk membuat keheningan itu terasa seperti jawaban paling jujur.
Velinovac telah menyambut mereka. Bukan dengan teriakan, bukan dengan peluru, tapi dengan ketenangan yang terlalu mutlak—seperti ruang hampa di antara dua detak jantung.
Dan detak berikutnya… belum tentu datang.
Bab 5 – Tanda-Tanda Aneh
Sore menua dengan lambat di atas desa yang seolah ditinggalkan di antara musim. Langit memudar dalam warna perak kelabu, menyisakan sorot samar matahari yang tak lagi hangat. Regu mulai bergerak dalam diam, menyebar tanpa perintah khusus, seperti mengikuti naluri yang mendorong mereka untuk memahami tempat yang akan mereka tempati malam ini.
Maynard dan Barrow memeriksa rumah besar di pinggir desa, bangunan batu dengan jendela kayu rapat. Di sisi selatan, Ellis dan McCrae berdiri lama menatap sebuah bangunan kecil yang tampaknya pernah menjadi ruang sekolah atau balai pertemuan. Griggs duduk di tangga salah satu rumah, mengamati bekas roda kayu yang separuh tertanam dalam lumpur, membisu seperti benda yang menolak dikenang.
Fenton membawa seikat selimut dari gudang tua yang masih utuh. “Setidaknya, kita tak tidur di tanah malam ini,” gumamnya.
“Kalau tempat ini memang ditinggalkan begitu saja,” sahut Maynard, “kenapa tak ada tanda-tanda kerusakan dari waktu? Tidak ada debu, tidak ada rayap.”
Barrow menunjuk ke dinding rumah. “Lihat itu.”
Terpahat di sisi dalam kusen pintu: sebuah simbol lingkaran tak sempurna dengan tiga cabang ke bawah—seperti akar atau tangan. Ukurannya kecil, hanya sebesar telapak tangan, tapi dalam ukirannya tampak keteguhan. Seolah-olah itu lebih dari sekadar simbol; lebih seperti peringatan.
McCrae bergumam, “Itu bukan simbol militer… bukan salib, bukan lambang kesatuan. Ini... sesuatu yang lain.”
“Pernah kau lihat di Balkan sebelumnya?” tanya Ellis.
McCrae menggeleng pelan. “Tak pernah. Tapi bentuknya seperti lambang penyegelan dalam beberapa legenda—bukan untuk melindungi orang dari luar, tapi... menjaga sesuatu tetap di dalam.”
Tak ada yang menjawab. Mata mereka saling bertemu, tapi tak ada yang sanggup menyuarakan kekhawatiran yang perlahan tumbuh seperti akar di bawah tanah.
Di pusat desa, sumur batu berdiri kokoh, bibirnya dilapisi lumut dan karat pada engsel tuas tua. Griggs berjalan mendekat, menatap ke dalam, lalu mundur cepat.
“Gelapnya tak wajar,” katanya lirih. “Aku menyalakan korek api, tapi apinya... seperti ditelan.”
Maynard menghampiri. Ia menyalakan lentera, menurunkannya perlahan dengan tali yang mereka bawa. Cahaya itu hanya bertahan lima detik sebelum padam.
Fenton memalingkan muka. “Tempat ini tidak suka cahaya.”
Sementara itu, Hargreaves berdiri di depan kapel. Tangannya menyentuh perlahan permukaan pintu kayu tua. Di sana, lebih jelas dari sebelumnya, tampak salib kecil—terukir terbalik di atas simbol mata terbuka. Ia tak mengatakan apa pun. Hanya diam, seperti berbicara dalam benaknya sendiri kepada sesuatu yang mungkin mendengarkan dari sisi lain.
Menjelang malam, mereka berkumpul di tengah jalan utama desa. Hargreaves menunjuk dua rumah yang akan mereka pakai bergantian untuk tidur dan berjaga.
“Dua orang berjaga setiap dua jam. Jangan keluar sendirian. Jangan pisah.”
“Apa kita memasang perimeter?” tanya Barrow.
“Kita tak tahu apa yang kita hadapi,” jawab Maynard. “Dan pagar tidak menahan sesuatu yang tak perlu berjalan.”
Griggs mencoba bercanda, tapi suaranya lelah. “Kalau makhluknya lewat pintu depan, biar aku yang menyambut.”
Mereka tertawa pelan—tawa yang lebih seperti napas gugup daripada hiburan.
Saat langit mulai merunduk hitam, Ellis memandangi kembali simbol di dinding itu, menggambar ulang di bukunya dengan tangan yang sedikit bergetar.
Di bawah sinar lentera, goresannya tampak lebih gelap dari tinta.
Dan di luar rumah tempat mereka berlindung, angin pertama dari malam Velinovac mulai berembus—pelan, tapi membawa bisikan… dalam bahasa yang belum pernah mereka pelajari.
Bab 6 – Malam Pertama
Malam pertama di Velinovac datang bukan dengan gelap, tapi dengan keheningan yang terlalu sempurna. Langit kelabu itu menggantung di atas desa seperti jubah tua—lusuh, berat, dan menahan napas.
Di dalam rumah batu tempat mereka berlindung, lentera digantung di paku tua yang menancap miring di balok langit-langit. Cahayanya redup, seperti enggan menerangi sudut-sudut yang terlalu lama tak disentuh manusia.
Hargreaves membagi shift jaga. “Barrow dan McCrae jaga pertama. Sisanya tidur. Dua jam, lalu ganti. Jangan ada yang sendirian.”
Tak ada protes. Bahkan Griggs pun tak melontarkan candaan. Wajah-wajah mereka sudah cukup bicara: kelelahan bercampur gelisah.
Ellis duduk menyendiri di sudut, menulis di buku catatannya. “Susah menulis saat semuanya diam,” gumamnya.
Maynard mendekat, membungkuk sedikit. “Lebih susah lagi kalau tiba-tiba semuanya bicara dalam bahasa yang tak kau mengerti.”
Ellis tersenyum kecil, tapi tak menjawab.
Di luar, McCrae menyandarkan senapan pada lututnya, matanya tak pernah lepas dari arah kapel.
“Masih merasa diawasi?” tanya Barrow pelan.
McCrae mengangguk. “Aku pernah berjaga di malam penuh mayat. Tapi malam ini… berbeda. Seolah desa ini hidup, tapi sedang tidur. Dan kita terlalu keras bernapas.”
Barrow hanya mengangguk. Tak sanggup menertawakan kalimat itu.
Di dalam, Griggs memotong roti kering dan membaginya dengan Ellis dan Fenton. “Makanan terakhir sebelum tidur buruk,” katanya, mencoba bersikap ringan. Tapi tangannya sendiri gemetar kecil.
Fenton sudah berbaring. Wajahnya berkeringat padahal suhu dingin. Bibirnya bergerak pelan, menggumam tak jelas.
Beberapa menit berlalu.
Kemudian, Fenton duduk tegak. Matanya terbuka… tapi tak ada fokus. Ia bangkit berdiri, langkahnya kaku dan perlahan menuju pintu.
“Hey, dia bangun?” bisik Griggs.
Maynard langsung berdiri. “Fenton?” Tapi Fenton tak menjawab.
Ia membuka pintu—gerakannya tenang, nyaris lembut. Lalu berjalan menyeberangi jalan desa… langsung ke arah kapel.
Barrow dan McCrae yang berjaga hanya menatap. “Apa—dia tak bawa jaket,” ujar McCrae.
“Fenton!” panggil Barrow, mulai mengejar.
Fenton berdiri di depan pintu kayu kapel. Tangannya menyentuh ukiran simbol di sana—salib terbalik di atas pola mata. Ia menyusuri kayu itu dengan jari telunjuk, lalu bergumam, “Mereka bilang… giliranku malam ini.”
Maynard mendekat dan menariknya. Fenton menjerit seperti terbakar, lalu jatuh ke tanah dan mulai menangis keras, seperti anak kecil.
“Jangan biarkan mereka lewat lewat aku! Jangan! Mereka menunggu dalam gelap, mereka tak bisa masuk kalau kita tetap terjaga!”
Griggs datang membawa selimut, menutupi Fenton. “Dia—dia masih bermimpi.”
“Tidak,” kata Ellis pelan. “Dia bangun, tapi bukan sepenuhnya dia.”
Hargreaves muncul dari bayangan. “Masukkan dia. Sekarang.”
Mereka membawa Fenton kembali ke dalam rumah. Lentera tiba-tiba berkedip, lalu padam. Ellis mencoba menyalakannya kembali, tapi apinya seperti tertolak oleh udara di dalam ruangan.
Tak lama, lentera kembali menyala—sendirinya.
McCrae berdiri kaku di pintu. “Aku melihat sesuatu di jendela kapel.”
“Siapa?”
“Bukan siapa. Lebih seperti... apa.”
Hargreaves berkata, “Tak ada yang tidur sendirian malam ini. Dan jangan ada yang menyentuh apapun yang tak kalian bawa sendiri.”
Ellis menuliskan semuanya—tangan gemetar tapi tetap bergerak.
“Hari pertama di Velinovac. Malam pertama.
Fenton berjalan dalam tidur menuju kapel. Ia bicara dalam bahasa yang belum ia kenal.
Ia bilang mereka menunggu. Ia bilang, giliran kami akan datang satu per satu.
Kami belum percaya. Tapi malam ini, kami semua terjaga.
Dan aku yakin… kami bukan satu-satunya yang bangun.”
Bab 7 – Tertutup Kabut
Kabut turun sebelum fajar, tanpa suara, tanpa angin. Ia menyelimuti Velinovac seperti tirai putih yang menjatuhkan dunia ke dalam mimpi yang salah. Dari jendela rumah tempat mereka bermalam, tak ada lagi jalan, tak ada lagi hutan, tak ada lagi arah—hanya putih, tebal, dan diam.
Maynard membuka pintu, dan hawa basah segera masuk ke kulit. Ia melangkah pelan ke luar, menyipitkan mata. Kabut itu bukan seperti biasa—ia tidak bergerak. Tak melayang, tak menyebar. Ia berdiri, seperti tembok. Lentera tak berguna, hanya memantulkan cahaya kembali ke mata.
“Rasanya seperti berdiri dalam perut ikan paus,” kata Griggs dari belakang. “Gelap, basah, dan tak ada jalan keluar.”
Ellis berdiri di ambang pintu, menulis cepat. “Atau seperti berdiri di antara dua detik yang tak pernah selesai.”
Hargreaves memberi perintah: patroli ringan. Ia, Maynard, McCrae, dan Doyle berjalan perlahan ke arah barat—atau setidaknya, arah yang mereka yakini barat. Tak ada orientasi. Kompas pun hanya berputar malas, seolah kehilangan niat.
“Kita butuh penanda,” kata McCrae. Ia menggoreskan tanda salib kecil di pohon terdekat dengan pisau bajonet. “Kalau kita kembali dan lihat ini lagi, berarti kita hanya berputar di tempat.”
Maynard membungkuk, mengamati tanah. “Jejak kita dari kemarin. Tapi—arahnya ke mari.”
“Maksudmu?” tanya Doyle.
“Jejak kita kembali ke arah kita datang. Tapi... kita jalan lurus.”
Hargreaves tidak berkata apa-apa. Tapi sorot matanya lebih tajam dari sebelumnya.
Mereka terus melangkah beberapa meter lagi, tapi pemandangan tak berubah. Kabut tetap menempel. Aroma tanah makin berat, seperti tanah basah bercampur besi.
Mereka kembali ke desa. Kabut tak bergeser sedikit pun.
Griggs yang berjaga menyambut dengan wajah pucat. “Kalian nggak lihat hutan? Jalan?”
“Tidak ada yang tersisa,” jawab Maynard. “Bahkan suara langkah kita sendiri seperti dipendam.”
Barrow mencoba radio militer, sekadar formalitas. Seperti sebelumnya—hanya denging statis, tanpa denyut komunikasi. Seolah seluruh dunia telah menghapus desa ini dari peta.
Di tangga rumah, Fenton duduk bersandar. Matanya menatap kabut seperti menatap laut yang baru menyembunyikan kapal.
“Aku bermimpi lagi,” bisiknya. “Tapi aku tidak tidur.”
Barrow menoleh. “Apa yang kau lihat?”
Fenton menjawab pelan, “Ada anak kecil. Berdiri di sumur. Tidak bergerak, tapi bibirnya bergerak. Tapi bukan kata-kata… lebih seperti nyanyian yang hanya bisa kau ingat setelah mati.”
Semua diam. Sampai Griggs memecah hening dengan nada lelucon yang gagal: “Kita butuh matahari. Atau peta. Atau alkohol.”
Ellis menuliskan semuanya dengan cepat.
Hari kedua. Kabut menelan semuanya. Jalan keluar tidak lagi ada. Kompas tak menunjuk arah, jejak kami mengarah pada diri sendiri. Desa ini membengkokkan ruang dan logika. Kami merasa lengkap, tapi hanya di hitungan. Dalam hati, kami tahu: tempat ini sedang menilai kami satu per satu.
Sementara itu, McCrae berdiri menghadap kapel. Ia mencatat sesuatu dalam pikirannya—sesuatu yang belum bisa ia ucapkan. Ia mendekati Hargreaves.
“Kita tak bisa menunggu. Kalau kita diam, desa ini yang bergerak.”
Hargreaves menatap lurus ke depan. “Mungkin itu satu-satunya yang bisa kita lakukan sekarang—berhenti, dan tunggu ia memperlihatkan niatnya.”
Maynard mendekat. “Atau kita jadi bagian dari niat itu.”
Dan dari jauh, sangat jauh, terdengar denting…
Bukan dari jam, bukan dari bel.
Tapi dari kedalaman. Seolah sesuatu di bawah desa sedang… bangun.
Bab 8 – Anak Tangga ke Bawah Tanah
Kabut masih belum surut. Hari berganti tanpa perbedaan yang jelas antara pagi, siang, atau sore. Cahaya matahari seperti hanya bayangan dari mimpi masa lalu, dan Velinovac tetap diam di bawah selimut abu tipis yang menggantung.
Doyle berjalan mengitari rumah paling ujung di sisi timur desa. Rumah itu lebih kecil dari yang lain, dengan dinding batu yang sebagian tertutup lumut. Tak ada yang menyentuhnya sejak mereka datang. Entah kenapa, rumah itu seperti menghindari pandangan. Tapi pagi itu, Doyle merasa tertarik ke sana, tanpa alasan yang bisa dijelaskan.
Pintu kayunya terkunci, tapi papan bawahnya sudah rapuh. Ia menendang sekali—cukup untuk membuka celah. Bau debu tua dan jamur menyergapnya. Ia menyalakan lentera dan masuk perlahan.
Di dalam, ruangan sempit dan kosong. Hanya ada meja kayu dengan mangkuk pecah, dan karpet yang menggulung di salah satu sudut. Saat Doyle memindahkan karpet itu, kakinya mengenai sesuatu yang bergema pelan.
Sebuah penutup papan, dengan cincin logam di ujungnya.
Doyle menunduk, menyentuhnya. Cincin itu dingin, hampir beku. Ia menariknya pelan—dan papan itu terangkat, memperlihatkan lubang persegi gelap dengan anak tangga batu menurun ke bawah tanah.
“Neraka macam apa lagi ini…” gumamnya.
Ia kembali ke rumah utama dan memanggil Maynard, Ellis, dan Barrow. Mereka bertiga mengikuti Doyle kembali ke rumah kecil itu.
“Jadi kau nemuin ini sendirian?” tanya Barrow, menyorot lentera ke lubang.
“Ya. Aku merasa… sesuatu mengundang,” jawab Doyle.
Maynard menggertakkan gigi. “Perasaan semacam itu belum pernah membawa kita ke tempat baik.”
Namun mereka tetap turun.
Tangga itu sempit, dindingnya batu kasar yang dingin dan basah. Udara semakin berat semakin jauh mereka melangkah. Mereka turun sekitar dua puluh anak tangga sebelum mencapai dasar.
Ruangan bawah tanah itu lebih besar dari yang mereka perkirakan. Lentera menerangi ruang batu melingkar, dengan langit-langit rendah dan tanah padat sebagai lantai.
Di sepanjang dinding ruangan, berdiri patung-patung. Bukan patung seni yang indah, tapi sosok-sosok kasar, tubuh manusia dengan wajah yang sengaja dibiarkan tanpa detail.
Beberapa patung menggenggam salib, tapi salib itu patah. Ada yang memeluk anak kecil. Ada juga yang memandang ke sudut ruangan, membelakangi yang lain.
Ellis menelan ludah. “Kenapa patung-patung ini menghadap arah berbeda?”
Maynard menunjuk ke dinding. Ada simbol—lingkaran dengan tiga garis memotong—terpahat di sana. Di bawahnya, tulisan dalam aksara Serbia tua, samar dan rusak.
Barrow mendekat ke salah satu patung. “Ini... ini bukan batu. Lebih seperti…”
Ia menyentuhnya. Bukan dingin seperti marmer—lebih lembek. Seperti tanah liat yang mengeras. Atau...
“Daging kering,” gumamnya. Ia menarik tangannya cepat, jijik.
Ellis menyorotkan lentera ke patung di sudut. Ia lebih kecil dari yang lain. Seorang anak.
Dan matanya—tidak kosong. Tapi ada ukiran kecil, menyerupai iris, namun salah satu di antaranya mengarah ke belakang kepala.
“Ini bukan patung... Ini peringatan,” bisik Ellis.
Doyle berbalik, berniat kembali ke tangga. Tapi saat mereka menengadah, cahaya dari atas telah padam.
Mereka saling memandang. Lentera Ellis mulai bergetar di tangannya.
Maynard berkata perlahan, “Kita tidak sendiri di sini.”
Sebuah bunyi seperti napas terdengar dari arah patung yang membelakangi mereka.
Mereka semua serempak menoleh.
Tapi tak ada yang bergerak.
Tak ada yang bicara.
Dan itulah yang paling menakutkan.
Bab 9 – McCrae Bicara pada Bayangan
Velinovac tetap senyap. Kabut tak bergeming, menggantung seperti langit kedua yang turun ke bumi, menelan jalan, pepohonan, dan logika. Di dalam rumah utama, sisa-sisa malam sebelumnya masih membekas: lentera yang nyalanya meredup, suara kaki berdebar di lantai kayu, dan tubuh yang terlalu letih untuk tidur dengan tenang.
Maynard bangun paling awal. Sisa dingin malam menempel di kulitnya. Ketika ia menghitung, hanya ada enam dari delapan orang di dalam rumah.
"McCrae," desisnya.
Ia keluar dan menemukannya di sisi timur desa, duduk diam di tangga batu kecil yang mengarah ke kapel. McCrae bersila seperti sedang bermeditasi, satu tangan menggenggam salib kecil dari logam karatan yang mereka temukan dua hari sebelumnya. Bibirnya bergerak pelan, nyaris tak bersuara.
Maynard mendekat, tapi berhenti tiga langkah dari McCrae.
“Dengan siapa kau bicara?” tanyanya.
McCrae tidak langsung menjawab. Matanya terpejam. Seketika ia seperti lebih tua lima tahun—bukan karena keriput, tapi karena sorot wajahnya: lelah, dan tahu sesuatu yang tak seharusnya diketahui.
“Mereka… mendengarkan,” gumam McCrae akhirnya. “Dan sekarang mereka bicara balik.”
“Siapa?”
McCrae membuka mata. “Mereka yang dikorbankan. Anak-anak. Ibu mereka. Para pria yang gagal melarikan diri. Mereka semua ada di sini. Tapi tidak hidup. Dan tidak sepenuhnya mati.”
Maynard menahan napas.
McCrae berdiri perlahan. “Kau tahu kenapa Velinovac tidak muncul di peta?”
Maynard menggeleng.
“Karena tempat ini bukan sekadar lokasi. Ini luka. Luka tua yang menolak sembuh. Dan roh-roh di sini? Mereka bukan hanya gentayangan. Mereka menunggu… gantinya.”
Suara langkah di belakang. Griggs dan Barrow muncul, wajah mereka masih mengantuk. Ellis menyusul beberapa detik kemudian, mencatat cepat.
“Kau ngomongin apa sih?” tanya Griggs, mencoba tertawa. “Ini pagi, dan kita butuh kopi, bukan puisi.”
“Dia tidak mengada-ada,” potong Ellis. “Semalam aku dengar sesuatu. Bukan suara biasa. Lebih seperti... doa dalam bahasa yang sudah mati. Seolah tanah ini berdoa pada dirinya sendiri.”
McCrae menatap ke arah kapel. “Aku tak bisa menjelaskan. Tapi tadi malam, aku berdiri di depan sumur, dan aku lihat bayangan bergerak di dalamnya. Bukan bayangan tubuh. Tapi sesuatu... dengan wajah seperti topeng. Dan itu bicara padaku. Bukan dengan kata. Tapi aku tahu maksudnya.”
“Apa katanya?” tanya Barrow perlahan.
McCrae menjawab tanpa ragu:
“Tinggalkan satu di antara kalian, maka sisanya boleh pergi.”
Keheningan jatuh seperti jerat. Hargreaves muncul dari balik rumah, mendengar kalimat terakhir.
“Kita tak akan menyerahkan siapa pun,” katanya cepat.
McCrae mengangguk, tapi bukan dengan setuju—melainkan menerima sesuatu yang tak bisa dicegah. “Aku tahu.”
Hari itu berjalan tanpa matahari. Seolah dunia lupa caranya bersinar. Mereka semua mencoba melakukan sesuatu—memeriksa perlengkapan, mencoba radio, memutar arah jalan keluar—tapi semuanya berakhir di tempat yang sama. Kabut tetap di situ. Jalan tetap hilang.
Sore harinya, McCrae mengumpulkan beberapa batu kecil. Ia menyusun lingkaran di tanah, di depan sumur tua, lalu duduk di tengahnya. Maynard memperhatikannya dari jauh.
Kali ini, tak ada yang mengganggu.
Semua orang mulai mengerti: McCrae sedang berbicara pada sesuatu… yang bukan kita.
Malam turun dengan pelan. Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di desa itu, mereka semua bermimpi hal yang sama:
sebuah kapel terbakar, anak-anak berteriak, dan sosok hitam berdiri di altar sambil membuka matanya perlahan… mata yang menyala dari dalam.
Griggs duduk sendirian di dekat jendela rumah tua, wajahnya setengah tertutup bayangan tirai dan cahaya abu-abu pagi yang tak pernah benar-benar jadi terang. Di pangkuannya, sebuah buku catatan lapangan militer terbuka, pena bergetar di jarinya yang mulai pucat.
Ia telah mencoba menulis laporan sejak semalam, tapi baru sekarang ia mulai mencatat dengan tenang—atau setidaknya, semirip mungkin dengan ketenangan dalam situasi seperti ini.
"Royal Fusiliers – Unit 3 – 20 Oktober 1915. Hari keenam sejak penugasan. Posisi geografis: tidak diketahui. Kompas gagal membaca arah. Peta tidak relevan. Dua anggota menunjukkan gejala psikis ekstrem: McCrae dan Fenton. Satu menunjukkan keheningan mendalam: Hargreaves. Kami tidak dapat keluar dari desa. Tidak dapat mengirim sinyal. Tidak dapat… pulang."
Griggs menarik napas panjang dan melirik sekeliling. Maynard sedang berbicara pelan dengan Barrow di pojok ruangan. Ellis menggambar lagi—tangan kurusnya tampak gemetar saat membuat garis lengkung sebuah jendela, dengan sesuatu hitam mengintip dari baliknya. Fenton duduk membungkuk di dekat pintu, menghadap lantai seperti anak sekolah yang dihukum. Tak ada yang menyapa Griggs. Ia bebas dalam diamnya.
Ia menatap kembali bukunya. Halaman berikutnya kosong. Lalu, tanpa sadar, tangannya mulai menggambar. Satu lingkaran besar. Lalu dua garis silang di tengahnya. Matanya terpaku. Tangannya seolah tahu apa yang harus dibuat sebelum otaknya ikut serta. Di bawah lingkaran itu, ia menulis sesuatu:
“Velinovac menyimpan tubuh, tapi jiwa harus dibayar.”
Ia menutup buku itu tiba-tiba, napasnya memburu. Kepalanya terasa panas.
Saat malam turun dan kabut makin menebal, Hargreaves memerintahkan semua untuk beristirahat lebih awal. Ia sendiri tetap terjaga, duduk di kursi dekat pintu sambil memegang senapan. Tapi ia tahu, seperti yang lain tahu, bahwa musuh di sini tidak berjalan dengan kaki.
Sekitar pukul dua dini hari, Ellis terbangun. Ia mendengar suara kertas disobek, cepat dan kasar. Saat menoleh, ia melihat cahaya lentera kecil. Griggs duduk di sudut ruangan, kembali membuka bukunya. Tapi kali ini ia tak menulis. Ia mencoret. Mencoret-coret halaman sebelumnya seperti ingin menghapus apa pun yang pernah ia catat.
"Griggs?" bisik Ellis.
Tak ada jawaban. Hanya gerakan pena makin keras, makin tak terarah. Simbol-simbol muncul di tepi halaman: mata, tangan, anak tangga yang turun ke tanah. Di bawahnya, kata yang sama terulang: “pengganti… pengganti… pengganti.”
“Griggs, hentikan.”
Griggs mendongak. Matanya sayu, tapi bukan karena mengantuk. Ellis tahu tatapan itu—ia pernah melihatnya di mata pelukis tua yang terlalu lama menatap kanvas kosong, sampai mulai percaya bahwa kanvas itu menatap balik.
"Aku tahu siapa yang harus diganti," gumam Griggs. “Bukan kita semua. Cuma satu. Cuma satu, dan yang lain boleh pulang.”
“Griggs, siapa bilang itu padamu?”
Griggs menatap lantai. "Mereka. Yang di bawah tanah. Yang tidak bisa bicara... kecuali kau mendengar."
Esok paginya, Griggs menghilang.
Tempat tidurnya rapi. Peralatan tetap ada. Tapi jaket militer dan sepatunya hilang. Ellis menemukan buku laporannya tergeletak di bawah tempat tidur—halaman terakhir masih basah oleh keringat atau mungkin embun malam.
Di halaman itu tertulis:
“Aku akan bicara langsung. Aku akan minta maaf.”
Dan di bawahnya, gambar lingkaran, salib patah, dan sebuah mulut terbuka… dengan mata di dalamnya.
Bab 11 – Sersan Hilang
Tak ada pagi di Velinovac, hanya perubahan tipis dari gelap ke kelabu. Kabut masih menggantung, berat dan diam seperti tudung yang menutup kepala dunia. Tidak ada burung, tidak ada suara angin, bahkan embun pun terasa sekarat.
Maynard terbangun dengan perasaan tidak utuh. Udara di dalam rumah terasa lebih kosong, seolah kehilangan sesuatu yang tak kasat mata namun penting. Ia memutar kepala pelan dan menyadari: kursi dekat pintu kosong. Hargreaves hilang.
Ia berdiri cepat, matanya menyapu ruangan. Ellis masih tidur, Barrow menggeliat di dekat dinding, dan Fenton bergumam dalam tidurnya. Tapi tidak ada suara sepatu bot tua yang biasa menggesek lantai. Tidak ada senapan sersan yang bersandar di tembok. Dan yang paling mencolok—pintu depan terbuka sedikit, berayun pelan ke luar seperti baru dilewati seseorang.
“Hargreaves,” panggil Maynard pelan, nyaris berharap suara itu cukup untuk menariknya kembali.
Tapi tak ada jawaban.
Ia membangunkan Ellis lebih dulu, lalu yang lain. Beberapa menit kemudian, keenam prajurit berdiri di luar, menghadapi jalan utama desa yang terbungkus kabut. Tanah basah tak menunjukkan bekas jejak yang bisa diikuti. Sersan mereka seolah lenyap begitu saja.
“Dia tak bawa senjata,” kata Barrow. “Dan tidak pakai jaket. Dia keluar begitu saja?”
McCrae berdiri paling belakang, tatapannya kosong. “Mungkin... dia tahu waktunya.”
“Jangan mulai lagi,” geram Barrow, tapi tak ada kekuatan dalam suaranya.
Mereka memeriksa sekitar rumah, lalu kapel. Tak satu pun menemukan tanda ke mana perginya Hargreaves. Bahkan sumur pun tak memberi petunjuk. Ellis menunduk, seolah mencari sesuatu di antara rerumputan.
“Dia tak tinggalkan catatan?”
Maynard kembali ke dalam rumah, memeriksa kursi tempat sersan biasa duduk. Di atasnya, tergeletak kompas militer—retak, mati. Jarumnya tak lagi bergerak. Dan di bawahnya, selembar kain kecil, robek dari kerah baju: dicoret dengan simbol silang hitam.
“Dia tahu dia tak akan kembali,” gumam Maynard.
Hari itu mereka tidak bicara banyak. Aktivitas mereka jadi lamban dan penuh kehati-hatian. Makan siang hanya sepotong roti kering dan air dari botol. Tak ada yang menyentuh senapan kecuali Barrow, yang tetap membawa senjata kemana pun ia melangkah.
Di sore hari, McCrae menggambar sesuatu di tanah dengan ujung bayonet—garis-garis aneh membentuk simbol yang tidak dikenali. Ketika Ellis bertanya apa itu, McCrae hanya menjawab, “Jalan keluar. Tapi tak semua bisa melihatnya.”
Maynard, kini duduk di kursi Hargreaves, menulis:
"21 Oktober 1915. Hargreaves menghilang. Dia keluar sendirian. Tidak ada jejak. Kami sekarang enam orang. Aku mengambil alih komando. Tapi aku merasa… bukan aku yang memimpin. Velinovac-lah yang sedang memutuskan siapa berikutnya."
Malam kembali turun, berat seperti pelukan dari sesuatu yang tidak terlihat. Fenton menolak tidur. Barrow memasang jebakan kabel di depan pintu rumah, meskipun semua tahu: mereka tidak sedang berhadapan dengan manusia.
Ellis menggambar ulang wajah Hargreaves di kertas kecil yang ia simpan. Tapi entah mengapa, setiap kali ia hampir selesai, wajah itu tampak kabur. Goresan-goresannya tidak pernah sempurna. Bahkan seolah tidak ingin dikenang.
Sekitar tengah malam, Maynard mendengar sesuatu dari luar jendela—bukan langkah kaki, bukan bisikan, tapi... tarikan napas. Panjang dan dalam. Ia berdiri, membuka tirai sedikit.
Di kejauhan, di balik kabut, ia melihat sosok berdiri di jalan. Tinggi, tegap, mengenakan jaket militer... tanpa wajah.
Maynard tidak membuka pintu. Ia hanya menutup tirai, menoleh pada yang lain yang mulai terbangun. Dan dalam hati, ia tahu:
Jika itu Hargreaves... maka yang berdiri di luar bukan lagi sersan mereka.
Bab 12 – Maynard Mendengar Nyanyian
Hari kedua tanpa Hargreaves dimulai tanpa suara ayam, tanpa sinar mentari, dan tanpa harapan bahwa kabut akan menghilang. Mereka seperti terkurung dalam dunia tanpa waktu. Maynard mencoba tetap tenang, meski ia tahu, pemimpin baru bukan berarti ia punya kendali lebih banyak—hanya beban lebih berat.
Seusai makan siang yang sunyi, Maynard menyendiri di dekat kapel desa. Bangunan itu masih berdiri kokoh, meskipun catnya mengelupas dan sebagian atapnya runtuh. Salib di atas menara terpelintir, miring seperti dicekik oleh angin yang tidak pernah datang.
Ia membuka pintu kapel perlahan. Suara engselnya mendecit seperti rintih panjang yang enggan berhenti. Di dalam, cahaya dari jendela kaca patri tak cukup kuat menembus kegelapan. Tapi ia tetap masuk.
Langkahnya bergema di lantai batu yang ditutupi debu. Bangku-bangku kayu masih tersusun rapi, namun dipenuhi sarang laba-laba dan bercak jamur. Patung-patung para santo berdiri bisu dalam kegelapan, wajah-wajah mereka tampak hancur oleh waktu—atau oleh sesuatu yang lebih kelam.
Lalu Maynard mendengarnya.
Lembut.
Jauh.
Suara nyanyian.
Bukan dari arah altar, bukan dari pintu. Tapi dari bawah. Seperti gema paduan suara, dalam bahasa yang tak dikenalnya. Suara-suara itu tidak lantang, tapi berirama. Seolah mengikuti struktur liturgi. Ada kemegahan sunyi dalam nada-nada itu, seakan-akan nyanyian misa tua yang terus dilantunkan meski tak ada jemaat.
Maynard membeku. Ia menoleh ke altar. Di belakangnya, tepat di lantai kayu tua, terlihat bekas seperti garis melingkar—papan yang tak sepenuhnya menyatu dengan lantai lainnya.
Ia mendekat, lalu menyentuhnya. Pelan, didorong sedikit. Papan itu bergeser.
Di bawahnya… tangga batu melingkar turun ke kegelapan.
Ia memanggil Ellis, suara nyaringnya memecah kapel.
Tak lama, Ellis dan McCrae muncul, napas mereka memburu.
“Ada suara,” kata Maynard. “Di bawah.”
Ellis mendekat. “Kau yakin itu bukan gema?”
Maynard menggeleng. “Itu nyanyian. Paduan suara. Bahasa asing. Tapi bukan Latin.”
McCrae menyipitkan mata, lalu berlutut dan menempelkan telinganya ke papan lantai. Wajahnya berubah. “Aku pernah dengar ini,” katanya pelan. “Di biara tua di Ayrshire. Tapi ini… lebih tua. Lebih tua dari gereja. Ini bukan lagu untuk Tuhan.”
Maynard menutup kembali papan itu. “Kita tak masuk ke sana. Belum.”
Ellis menatapnya dengan rasa penasaran dan takut bercampur. “Kau pikir mereka yang hilang… ada di bawah sana?”
Maynard menatap altar. Lilin-lilin yang sejak kemarin tak pernah menyala… kini terlihat sedikit meleleh di ujungnya.
“Entah siapa yang di bawah sana,” katanya. “Tapi mereka tahu kita ada di sini.”
Mereka keluar dari kapel dengan langkah pelan. Kabut masih sama tebalnya, tapi terasa lebih dingin. Maynard tak bicara apa-apa selama sisa hari itu. Tapi ia terus menatap ke arah kapel, seperti menunggu sesuatu muncul dari balik pintu.
Malam tiba. Fenton mengigau dalam tidurnya, menyebut nama-nama yang tidak dikenali siapa pun.
Barrow duduk sambil membersihkan senjatanya, tangan gemetar walau tak diakuinya.
Dan McCrae—ia menuliskan simbol-simbol asing di kertas kosong, mulutnya bergerak tanpa suara.
Di dalam rumah, Maynard menulis:
"22 Oktober. Suara nyanyian terdengar dari bawah kapel. Tidak ada pintu ke sana, tapi papan lantai menyimpan sesuatu. Kami belum siap turun. Tapi mereka sudah mulai menyanyikan nama-nama kami. Aku yakin, suara itu menyebut 'Griggs'."
Sebelum tidur, Maynard mendengar sekali lagi. Bukan nyanyian. Tapi tepuk tangan pelan… dari arah kapel yang gelap.
Bab 13 – Barrow Mengunci Dirinya
Rumah tempat mereka berlindung semakin terasa seperti perangkap. Dinding kayunya tak lagi menghalau hawa dingin yang merayap masuk bersama kabut. Malam datang lebih cepat, dan matahari semakin enggan menunjukkan dirinya, seolah tahu bahwa desa ini bukan tempat untuk sinar terang.
Sejak pagi, Barrow menunjukkan gejala yang berbeda. Ia lebih pendiam dari biasanya—dan bukan jenis diam yang penuh kendali seperti Hargreaves dulu, melainkan diam yang tegang, curiga, dan bergetar di balik kulitnya.
Ia menolak sarapan.
Menolak ikut patroli singkat ke sekitar rumah.
Menolak menjawab ketika Fenton menanyakan sesuatu yang sepele.
Barrow hanya duduk di sudut, senapan di pangkuannya, tangan tak henti mengusap larasnya seperti jimat.
“Kau baik-baik saja?” tanya Maynard dengan suara tenang.
Tatapan Barrow tajam. “Siapa yang kau tanya? Aku, atau yang ada di dalam dirimu sekarang?”
Maynard menatapnya. Ellis dan McCrae yang duduk di sisi lain ruangan langsung diam. Tidak ada yang tahu bagaimana menjawab itu.
“Apa maksudmu?” tanya Maynard akhirnya.
Barrow berdiri mendadak, mundur, lalu menuju salah satu kamar kecil di sisi belakang rumah. Ia masuk, membanting pintu, dan terdengar suara gesekan—kursi, meja, bahkan peti logam didorong ke arah pintu. Ia mengunci diri.
Dari dalam terdengar suaranya, berat dan tak stabil.
“Kalian pikir aku bodoh. Tapi aku tahu. Aku lihat matamu, Maynard. Kau bicara seperti dia. Bukan suara manusia. Dan Ellis... kau mencoret-coret nama kami sejak hari pertama. Kau yang menandai kami!”
Ellis melangkah maju, ingin bicara, tapi Maynard menahan lengannya.
“Biarkan dia,” bisiknya. “Dia takut. Kita juga, sebenarnya.”
Siang itu berlalu dengan senyap yang ganjil. Dari balik pintu kamar Barrow, terdengar langkah-langkah gelisah dan suara berbisik yang terlalu lirih untuk dimengerti. Seperti doa. Atau mungkin ancaman.
Lalu malam turun.
Dan dari dalam kamar, terdengar teriakan.
Sekali.
Tinggi dan patah, seperti seseorang yang melihat sesuatu tak dapat dijelaskan.
Mereka bertiga melompat dari posisi duduk. Maynard mencoba membuka pintu, tapi tertahan semua tumpukan yang dipasang Barrow dari dalam. Ellis memanggil-manggil, tapi tidak ada jawaban. McCrae mengintip lewat celah kecil di dinding kayu.
“Kosong,” katanya pelan. “Kamar itu kosong.”
“Apa?” bisik Ellis.
“Tidak ada orang. Tidak ada tubuh. Hanya... ukiran.”
Pagi berikutnya, mereka membongkar pintu itu dengan paksa. Benar—Barrow tidak ada. Di lantai kamar yang sempit, hanya ada ukiran kasar pada papan kayu: sebuah mata besar, terbalik, dengan lingkaran di tengahnya. Ukiran itu masih basah, seperti baru dibuat—tapi tak ada alat ukir, tak ada darah, dan tak ada tanda bekas sepatu.
“Tidak mungkin dia keluar tanpa kita dengar,” kata Ellis.
Maynard menatap jendela kecil di sudut ruangan. Terbuka. Tapi ukurannya terlalu kecil untuk dilalui tubuh dewasa. Terlalu sempit… kecuali jika sesuatu menarik Barrow keluar, bukan dia yang memanjat pergi.
McCrae duduk di ambang pintu. “Dia bilang... kita dirasuki. Tapi mungkin justru dia yang dipanggil lebih dulu.”
Maynard tidak menjawab. Ia hanya berdiri, menghela napas, lalu menulis:
"23 Oktober. Barrow hilang malam tadi. Ia mengunci diri, menuduh kami dirasuki. Kami tidak bisa membantahnya. Tidak karena ia benar, tapi karena kami pun mulai bertanya-tanya. Velinovac tidak hanya memilih. Ia juga menanamkan sesuatu ke dalam pikiran kami. Ketika aku tidur, aku mendengar suara ibu. Tapi ibuku sudah mati bertahun-tahun lalu."
Ia menutup buku catatan. Di luar, suara lonceng gereja berdentang satu kali. Tak ada angin. Tak ada tali.
Dan tak ada satu pun dari mereka yang berani bicara soal suara itu.
Bab 14 – Catatan Ellis
Hujan tipis turun pagi itu, tapi tak satu pun dari mereka mendengar suara rintiknya di atap. Seperti semua suara, cahaya, dan waktu telah diringkus oleh kabut. Fenton hanya duduk di dekat pintu, menggenggam selimut lusuh, sementara McCrae tidur dengan mata terbuka, bola matanya bergerak-gerak ke kiri dan kanan seperti membaca sesuatu dari balik kelopak waktu.
Ellis duduk sendiri di sudut, dekat jendela. Di tangannya, sebuah buku jurnal tua. Halamannya hampir penuh. Tapi isinya tak lagi seperti catatan perkemahan atau logistik sederhana. Sejak Barrow hilang, Ellis berhenti menulis kata-kata dan mulai menggambar—satu wajah, lalu wajah lain, lalu wajah yang ketiga dan keempat.
Wajah-wajah itu bukan siapa-siapa. Tidak ada satu pun yang ia kenal.
Beberapa tanpa mata. Beberapa dengan senyum terlalu lebar. Beberapa memakai tudung panjang yang menutupi dahi mereka, seperti biarawan dari masa lalu. Ada yang bergigi tajam, ada yang wajahnya tampak seperti terbakar… tapi semuanya memandangi Ellis dari kertas dengan kesunyian yang menakutkan.
Maynard memperhatikannya pagi itu. Duduk di meja, ia melihat bagaimana Ellis tak sadar menggambar satu wajah baru setiap kali diam terlalu lama. Bahkan saat makan, tangan kanannya tetap mencengkeram pensil, seperti tidak ingin kehilangan koneksi dengan apa pun yang sedang "menuntun" gerakannya.
“Kau tahu siapa mereka?” tanya Maynard.
Ellis hanya menggeleng pelan.
“Wajah-wajah itu datang dalam mimpiku,” katanya akhirnya. “Tapi aku tidak melihat mereka secara langsung. Aku melihat pantulan mereka di air. Di jendela. Di mata orang lain.”
Ia menunjuk satu halaman. Gambar wajah seorang perempuan, dengan luka menganga dari pelipis hingga dagu.
“Aku tidak tahu namanya,” bisik Ellis. “Tapi aku tahu ia mati karena dikorbankan. Aku tahu anak-anaknya menonton. Dan aku tahu... ia masih ingin bicara.”
Maynard duduk, matanya menelusuri gambar-gambar itu. Ia bukan penilai seni, tapi goresan Ellis begitu rinci, begitu penuh detail yang tidak bisa direka begitu saja. Ada sorot kehidupan dalam tiap tatapan mata yang tergambar. Dan juga… kematian.
Malam tiba lebih cepat dari biasanya. Langit bahkan tidak sempat menunjukkan warna jingganya. Ellis tetap menggambar, kini dengan tangannya yang gemetar. Ia tak berbicara lagi, hanya sesekali menggumam.
McCrae terbangun tengah malam karena suara pelan—seperti ratapan.
Ia berjalan pelan ke ruangan depan. Di sana, Ellis duduk membungkuk, pundaknya naik turun pelan.
Ia sedang menangis.
Buku jurnal di pangkuannya terbuka di halaman terakhir. Dan di halaman itu, McCrae melihat sesuatu yang membuatnya berhenti mendekat: wajah mereka.
Maynard. Fenton. McCrae.
Digambar dari sudut pandang yang tidak mungkin Ellis lihat—seolah ia melihat dari langit. Atau dari mata sesuatu yang berdiri jauh, mengamati mereka dari balik kabut.
“Kau menggambar ini tadi?” tanya McCrae pelan.
Ellis mengangguk.
“Kenapa kau menangis?”
Ellis menjawab, hampir tak terdengar, “Karena setelah halaman ini… aku tahu tak ada yang tersisa untuk digambar.”
Pagi harinya, Ellis tertidur dengan mata bengkak, tangan masih menggenggam pensil. Di luar, salju tipis turun. Pertanda musim telah bergeser, atau waktu telah diputar paksa oleh tangan tak kasat mata.
Maynard membuka jurnal itu saat Ellis masih tertidur. Ia menelusuri semua gambar—dari pertama hingga terakhir. Di halaman paling belakang, tepat setelah gambar terakhir, ada satu kalimat kecil tertulis dengan goresan halus:
"Mereka bukan menghantui kita. Mereka sedang menunggu giliran mereka digambar agar bisa pergi."
Maynard menutup jurnal itu pelan.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia mendengar suara anak kecil menyanyikan lagu nina bobo dalam bahasa Serbia Kuno… dari dalam tembok rumah.
Bab 15 – Catatan Pastor
Doyle tidak tidur malam itu. Ia terbangun oleh suara langkah halus yang tidak berasal dari siapa pun di rumah itu. Langkah kecil, ringan, seperti anak-anak yang berjalan di lantai kayu kapel. Tapi ketika ia keluar dan memeriksa, kapel kosong. Pintu depannya sedikit terbuka, seolah memang mengundang.
Ia menyalakan lentera, melangkah masuk. Udara di dalam terasa lebih dingin dari malam sebelumnya. Bangku-bangku kayu tampak basah, seperti seseorang baru saja menyiram air suci yang tak pernah ada. Di altar, patung Madonna yang wajahnya telah terhapus oleh usia kini seolah menunduk lebih dalam.
Di balik altar, Doyle menemukan lemari kayu tua yang sebelumnya tertutup oleh tirai robek. Rasa ingin tahunya mengalahkan naluri militernya. Ia menarik gagang lemari yang berkarat. Pintu terbuka, menampakkan tumpukan buku dan naskah lusuh yang tertutup debu tebal.
Satu buku menarik perhatiannya—kulitnya dari kulit rusa, dengan lambang salib terbalik yang tergores seperti luka lama. Ia membukanya pelan.
“Confessiones Velinovac – Pastor Andrej, 1704”
Halaman-halaman awal tertulis dengan latin liturgis, namun semakin jauh, tulisannya berubah menjadi perpaduan antara Serbia kuno dan sketsa tangan—gambar-gambar tubuh manusia yang terbelah, simbol mata dalam lingkaran, dan altar dengan kepala anak-anak diletakkan berjajar seperti persembahan.
Mata Doyle membelalak. Ia membaca:
"Wabah tidak mau pergi. Tiga puluh anak telah dipersembahkan. Tapi suara dari dalam sumur belum diam. Kami tidak lagi percaya Tuhan kita. Tapi kami tahu, Veznik mendengar. Ia menjawab. Ia menyambung jiwa mereka—dan menjahit waktu agar kami tetap hidup."
"Seorang ibu memotong lidah bayinya sendiri agar suara tangis tidak memanggil kematian. Tapi malam itu, bayi itu tetap dibawa—dan ia tidak menangis. Karena ia sudah tahu perannya."
"Aku adalah gembala yang memimpin domba ke altar. Tapi Tuhan telah menutup telinga-Nya. Maka aku menulis ini bukan untuk keselamatan, tapi untuk peringatan."
Tangan Doyle gemetar. Ia menutup buku itu dan menarik napas dalam-dalam.
Ketika ia keluar dari kapel, langit belum menunjukkan tanda fajar. Tapi kabut sudah naik seperti tembok. Rumah tempat mereka berlindung nyaris tak terlihat.
Ia berjalan cepat, namun suara langkahnya menggema sendiri. Beberapa kali ia merasa ada yang mengikutinya—bukan sosok, tapi rasa. Seperti mata yang tak berkedip menatap punggungnya.
Ia sampai di rumah dan menutup pintu tanpa bicara.
“Apa itu?” tanya Maynard, melihat wajah Doyle yang pucat.
“Buku. Catatan pastor,” jawab Doyle pendek.
“Boleh kulihat?”
“Tidak sekarang.”
Doyle membawa buku itu ke kamarnya dan menguncinya dari dalam. Maynard menatap pintu kamar itu lama.
Keesokan paginya, Doyle tidak keluar.
Mereka memanggil.
Tidak ada jawaban.
Ketika akhirnya pintu didobrak, kamar itu kosong. Buku itu pun tidak ada. Di atas ranjang, hanya tersisa satu benda—sebuah rosario tua yang salah satu maniknya terbuat dari… gigi manusia kecil.
McCrae menggumam, “Ia membaca doa dari mulut yang telah ditutup tiga abad lalu.”
Maynard hanya mencatat:
"24 Oktober. Doyle hilang. Ia membawa catatan pastor. Kami hanya membaca sepintas, tapi cukup untuk tahu: Velinovac bukan desa mati. Ia hidup dengan napas darah lama. Dan Veznik… bukan sekadar roh. Ia adalah simpul. Pengikat antara masa, jiwa, dan tanah ini. Tak ada jalan kembali."
Saat malam jatuh, suara langkah-langkah kecil kembali terdengar. Tapi kali ini… bukan di kapel. Melainkan di atap rumah.
Dan untuk pertama kalinya, Ellis menolak tidur.
Bab 16 – Rumah yang Tidak Sama
Pagi itu datang tanpa warna. Kabut menggantung rendah, lebih tebal dari biasanya, hingga batas antara tanah dan langit tampak lenyap. Ellis bangun lebih dulu, seperti biasa, dan melangkah ke luar untuk mencari air. Tapi saat ia melewati lorong sempit antara dua rumah, ia berhenti.
“Maynard!” panggilnya.
Maynard keluar dengan jaket setengah dikenakan, mengucek mata.
“Ada apa?”
Ellis menunjuk rumah di sebelah timur. “Rumah itu... kemarin menghadap ke arah bukit, bukan?”
Maynard mengernyit. Ia menatap bangunan kayu tua itu. Jendela kecil di loteng, pintu lapuk di depan, dan cerobong yang condong ke kiri. Ia merasa... aneh.
“Aku pikir ya,” gumamnya.
Mereka memeriksa beberapa rumah di sekeliling. Semuanya masih di tempat yang sama, tapi terasa... tidak sama. Seperti panggung teater yang baru saja diputar ulang oleh tangan yang tak terlihat—cukup halus agar tidak langsung terasa, tapi cukup nyata untuk membuat tengkuk gatal.
Fenton menemukan dapur rumah tempat mereka tidur semalam kini ada di sisi barat, padahal sebelumnya menghadap utara. Lemari tua yang dulu kosong, kini berisi gelas-gelas porselen retak yang sama sekali tidak mereka lihat kemarin.
“Apakah... ada orang yang masuk ke sini malam tadi?” tanya Fenton, suaranya bergetar.
“Tidak ada yang berjaga malam ini,” jawab McCrae lirih. “Tak satu pun dari kita bisa tetap bangun.”
Maynard menutup buku catatannya yang sejak dua hari lalu tidak lagi mampu menampung semua detail. Ia merasa seperti menulis tentang mimpi yang terus berganti bentuk—sulit diverifikasi, tapi cukup nyata untuk meninggalkan bekas luka.
Hari itu mereka memutuskan untuk menandai satu rumah dengan cat merah dari kotak logistik mereka. Sebuah simbol silang besar di dinding depan—tanda yang tak bisa dihapus kabut atau dipindahkan waktu.
Namun, ketika sore tiba dan mereka kembali, rumah itu tidak ada.
Bukan terbakar.
Bukan runtuh.
Hanya… tak ada.
Di tempatnya berdiri pagi tadi, kini ada pohon tua yang tumbuh miring, dengan tali tambang kusut menggantung dari salah satu cabangnya.
“Apakah desa ini… bergerak?” tanya Ellis.
McCrae menjawab pelan, “Atau kita yang tidak lagi diam.”
Malam datang dengan suhu menusuk. Mereka memutuskan tidur di ruang utama, dekat perapian, bersama-sama. Tak ada lagi kamar pribadi. Terlalu banyak yang hilang dalam keheningan.
Maynard terbangun tengah malam. Suara langkah di luar.
Perlahan, ia bangkit dan mengintip dari celah jendela.
Tiga rumah dari tempat mereka tidur, rumah dengan cerobong melengkung kini menghadap ke arah yang berlawanan dari siang tadi. Ia yakin. Sangat yakin.
Dan di depan rumah itu, berdiri sosok anak kecil.
Diam.
Menghadap ke pintu rumah mereka.
Maynard menahan napas.
Anak itu tidak bergerak. Tidak berkedip. Hanya berdiri, seolah sedang menunggu perintah.
Lalu, dari balik kabut, satu per satu—jendela rumah-rumah lain mulai menyala. Bukan cahaya terang, tapi redup seperti lilin. Seolah penghuni tak kasat mata perlahan kembali dari entah abad ke berapa.
Maynard menarik gorden, kembali duduk tanpa membangunkan siapa pun.
Pagi nanti, ia tahu, desa ini akan berubah lagi.
Dan pada titik tertentu... mereka tak akan tahu mana rumah yang asli, mana yang palsu, mana ruang yang pernah mereka masuki, dan mana ruang yang hanya muncul untuk menyesatkan.
Velinovac bukan hanya terkutuk.
Velinovac... sedang menyesuaikan diri dengan mereka.
Bab 17 – Fenton Melihat Dirinya Sendiri
Fenton tak pernah suka cermin. Bahkan sebelum perang. Ia selalu merasa bahwa benda itu menyimpan lebih banyak daripada sekadar bayangan. Tapi pagi itu, ia tak berniat mencari cermin—hanya ember. Air untuk mencuci luka kecil di kakinya. Ia membuka lemari tua di salah satu rumah yang belum mereka periksa.
Di balik pintu lemari, menggantung cermin besar, oval, dengan bingkai kayu ukir yang hitam dan berdebu. Retakan menyilang seperti bekas cakaran di permukaan kaca, namun pantulannya tetap jelas.
Fenton melihat dirinya.
Awalnya, biasa saja.
Tapi kemudian, saat ia mengedip—pantulan itu tidak mengedip.
Ia menegang.
Ia mengangkat tangan. Lambat. Refleksi itu mengangkat tangan juga... tapi dengan jeda.
Sepersekian detik.
Senyum mulai muncul di wajah pantulan itu, perlahan, seperti retakan yang menjalar di dinding sunyi.
Senyum itu bukan miliknya.
Bibirnya menyeringai. Matanya melebar, tak berkedip. Refleksi itu menunduk sedikit, seperti mengejek, seolah tahu bahwa ia telah menang—karena Fenton masih terpaku menatapnya.
Lalu bayangan itu bergerak lebih cepat darinya. Sedikit maju… dan menyentuhkan tangan ke sisi kaca—dari dalam.
Fenton melompat mundur.
Jantungnya berdebar liar. Ia tak bisa menjerit. Suaranya tertelan oleh kepanikan yang mencengkeram dadanya.
Bayangan itu… dirinya sendiri, tapi bukan. Seperti makhluk lain yang memakai kulitnya.
Ia lari keluar dari rumah. Tak peduli pada pintu yang membanting, tak dengar teriakan Ellis yang sedang menggambar di depan rumah seberang. Fenton menuruni jalan berbatu, lalu menerobos kabut yang mengapung tipis di antara pepohonan.
Ia terus berlari.
Lututnya tergores dahan, tangannya terpeleset tanah basah. Tapi ia tak berhenti. Karena setiap kali menutup mata, ia melihat senyum itu. Bayangan dirinya sendiri… tertawa.
“Bukan aku... itu bukan aku...,” gumamnya, berulang-ulang, seperti mantra rusak.
Dari kejauhan, Maynard berteriak, “FENTON!”
Ellis ikut keluar. “Apa yang terjadi?”
Maynard menggeleng. “Dia melihat sesuatu. Di cermin.”
“Lagi?” bisik McCrae dari balik pintu kapel. “Apakah desa ini sedang memperlihatkan diri?”
Sore tiba tanpa suara burung, tanpa bayangan Fenton kembali.
Mereka menyisir sekitar desa. Menyisakan batu di persimpangan untuk penanda arah. Tapi tak satu pun dari mereka berani melewati batas pohon cemara yang berderet seperti penjaga bisu. Maynard mencatat lokasi terakhir dan waktu hilangnya Fenton.
McCrae menatap tanah dengan gumaman tak jelas. “Kadang aku berpikir… kita bukan lagi manusia di sini. Kita hanya bayangan yang lupa caranya kembali ke tubuh.”
Ellis kembali ke rumah. Ia menggambar dua wajah Fenton di jurnalnya: satu dengan senyum lembut saat membagikan biskuit kaleng, satu lagi dengan senyum licik seperti yang ia lihat di hari pertama datang ke desa.
Di bawahnya ia menulis:
“Jika kita bertemu diri sendiri, siapa yang harus pergi?”
Malam itu mereka memaku setiap jendela dan tidur di satu ruangan.
Tapi pukul dua dini hari, suara langkah ringan terdengar di luar. Pelan… dan tertata. Seperti seseorang sedang mengitari rumah mereka, mengikuti dinding, menghitung jendela.
Kemudian suara itu berhenti.
Beberapa saat kemudian—ketukan pelan di jendela ruang utama.
Maynard berdiri. Ia angkat lentera.
Bayangan tak tampak.
Tapi di jendela, embun membentuk sesuatu yang aneh: dua tangan kecil, seolah menekan kaca dari luar... dan di antaranya, bekas senyuman yang digoreskan dengan jari.
Senyum yang sangat Fenton.
Tapi bukan Fenton yang mereka kenal.
Bab 18 – Maynard Memilih Bertahan
Maynard berdiri di jendela rumah itu, menatap ke luar seperti seseorang yang menanti fajar—padahal ia tahu, cahaya tidak benar-benar datang ke desa ini. Matahari mungkin terbit di luar sana, di dunia yang masih mengenal waktu. Tapi Velinovac seperti ditangguhkan dari putaran hari. Kabut tetap menggantung rendah, seperti langit yang bernapas perlahan namun tak pernah benar-benar hidup.
Ellis duduk di lantai, bersandar pada tembok dekat perapian yang sudah lama mati. Jurnalnya terbuka di pangkuan, tapi tak satu pun gambar baru tercetak di atasnya sejak pagi. Tangannya kaku, dan ia terus menatap kosong ke halaman yang kosong.
Di sudut ruangan, McCrae duduk dengan kepala menyandar pada dinding, mulutnya komat-kamit tanpa henti. Bahasanya bercampur: kadang Gaelic, kadang Inggris, kadang suara yang bahkan tidak terdengar seperti milik manusia. Ia seperti sedang bercakap-cakap dengan seseorang—atau sesuatu—yang hanya bisa ia lihat.
“Kalau besok pagi kita masih bertiga,” suara Maynard akhirnya pecah, tenang namun tegas, “kita harus coba keluar. Jalan apapun. Kita tidak bisa menunggu sampai satu dari kita menghilang setiap malam.”
Ellis tidak menjawab.
Ia hanya memalingkan wajah.
McCrae terkikik kecil. Bukan karena mendengar lelucon. Tawa itu seperti celoteh anak-anak yang menemukan hal gila di dalam pikirannya sendiri. Ia menunjuk ke tembok dan berkata, “Mereka menulis ulang peta. Setiap malam. Itulah kenapa kita tidak bisa keluar.”
Maynard menatap lantai, lalu mendekati meja kayu kecil di tengah ruangan. Ia meletakkan peta tua yang dulu mereka bawa dari markas—peta itu sudah compang-camping, ujungnya terbakar sedikit, dan lembab. Velinovac tidak pernah ada di sana. Tapi ia tetap membawanya, seperti jimat keberuntungan yang gagal.
Ia menandai dengan pensil: satu titik kecil di antara dua sungai yang tak pernah mereka temui.
“Tempat ini harusnya kosong. Tapi kita ada di sini. Entah kita tersesat... atau dunia ini yang berubah bentuk.”
Ellis akhirnya bicara. “Dunia ini tidak berubah, James. Kita yang dibuang ke sudutnya. Ke saku kecil dalam kenyataan.”
Maynard duduk di dekatnya. “Aku tahu kamu masih bisa berpikir. Aku butuh kamu tetap waras, Tom.”
Ellis mengangguk. Perlahan. “Aku mencoba. Tapi kadang aku bangun dan merasa… dunia ini bukan mimpi. Tapi kita yang mimpi. Dan mimpi itu sekarang sedang memimpikan kita.”
Mereka terdiam lama. Hanya suara McCrae yang terus bergumam seperti mantera, membentuk simbol aneh di udara dengan jarinya.
“Dia sudah jauh,” kata Ellis, lirih. “Bahkan kalau tubuhnya masih di sini, jiwanya sudah ditarik sesuatu.”
“Kalau kita kehilangan dia,” Maynard menatap McCrae, “tinggal kita berdua.”
Malam tiba seperti lubang terbuka. Angin tak bertiup, tapi gorden bergoyang. McCrae tertidur sambil duduk. Ellis menggambar ulang kapel—kali ini dengan bayangan besar berdiri di dalamnya.
Maynard berjaga. Ia duduk di kursi dengan senjata di pangkuannya. Tapi ia tahu, peluru tidak akan berguna melawan apa pun yang berbisik dari sumur tua atau bergerak di balik kabut.
Tiba-tiba, suara langkah dari loteng.
Pelan. Berat. Seperti seseorang menyeret kakinya.
Maynard berdiri. Mengangkat lentera.
Langkah itu berhenti.
Ia menatap ke atas, ke kayu langit-langit.
Lalu, tiga ketukan.
Tok. Tok. Tok.
Ia tidak naik ke atas.
Ia hanya menatap Ellis, dan Ellis menatap balik, sama-sama tahu: rumah ini tidak hanya dihuni oleh mereka bertiga malam ini.
Bab 19 – Lilin & Darah
Maynard tidak ingat persis apa yang membangunkannya malam itu. Mungkin udara yang terasa lebih berat, atau mungkin kesunyian yang terlalu pekat—jenis kesunyian yang membuat detak jantung terdengar seperti suara drum di dalam tengkorak.
Ellis dan McCrae tertidur, atau setidaknya tampak demikian. Ellis terbaring dengan jurnal menempel di dadanya, wajahnya letih. McCrae duduk tegak di sudut ruangan, mata terbuka namun tak bergerak, seperti patung yang lupa bernapas.
Maynard bangkit perlahan dan meraih lentera. Nyala kecilnya bergetar seperti ragu.
Dia tidak tahu kenapa kakinya membawanya keluar rumah. Tapi setiap langkah seperti sudah digariskan sebelumnya. Jalanan desa dibalut kabut yang menempel di kulit seperti napas basah.
Velinovac malam itu tidak bersuara. Bahkan tanah pun seperti menolak gema. Hanya suara langkahnya, berat dan lambat.
Ia menuju kapel.
Bangunan itu tampak lebih tinggi dari biasanya, menara kecilnya menjulang seperti menantang langit yang tak terlihat. Maynard mendorong pintu kayu tua itu. Tidak terkunci. Engselnya berdecit lirih—nada seperti bisikan luka lama yang dibuka kembali.
Di dalamnya, cahaya lilin menyambutnya.
Bukan satu, bukan sepuluh, tapi ratusan lilin kecil yang menyala di sekeliling altar. Mereka memantulkan bayangan yang bergerak pelan, meski tak ada angin, tak ada makhluk yang bergerak. Dan di tengah altar itu… tubuh tergantung.
Tubuh Sersan Charles Hargreaves.
Maynard menahan napas.
Tubuh itu digantung terbalik, kepala mengarah ke bawah, tangan lurus ke bumi. Matanya terbuka. Wajahnya membiru. Tapi yang membuat Maynard benar-benar membeku adalah simbol di dahinya—digores dengan darah, bentuk spiral memutar ke dalam, mirip simbol yang pernah ia lihat digambar McCrae di lantai.
Tubuh itu tak membusuk. Seolah baru saja digantung satu jam lalu. Tapi itu mustahil—Hargreaves menghilang dua malam sebelumnya.
Di bawah tubuh Sersan, darah menetes pelan ke sebuah genangan. Di tengahnya, lilin merah berdiri—satu-satunya lilin yang tidak berwarna putih. Api kecilnya menyala tegak.
Maynard melangkah mendekat, perlahan. Setiap langkah terdengar seperti mencabik keheningan.
Lalu semua lilin padam.
Serentak.
Kecuali satu: lilin merah itu.
Dalam kegelapan, suara muncul. Lirih, seperti napas di telinga.
“Pengganti…”
“…telah datang…”
Maynard mundur.
Cahaya lilin merah berkedip.
Lalu mati.
Dalam gelap mutlak, sekejap cahaya merah menyala—dan tubuh tergantung itu kini menghadap padanya.
Ia lari keluar.
Pintu kapel membanting tertutup dengan bunyi dentuman logam dan kayu.
Ia terengah-engah di luar. Udara luar lebih dingin, tapi terasa lebih nyata.
Ia kembali ke rumah.
Ellis terbangun saat Maynard membuka pintu. “Ada apa?”
“Dia… di kapel,” ujar Maynard di antara napasnya. “Hargreaves. Tergantung terbalik. Di tengah altar. Lilin. Simbol darah. Dan… sesuatu berbicara.”
McCrae menyeringai dari sudut ruangan. “Mereka menggantinya. Seseorang harus menggantikan.”
Maynard memandangi McCrae, lalu menatap tangannya sendiri yang masih gemetar.
“Kenapa kau masih waras?” tanya Ellis.
“Aku tidak tahu,” jawab Maynard. “Atau mungkin... aku hanya lebih lambat.”
Tengah malam, Ellis menggambar sosok tergantung di jurnalnya. Tapi tiap kali ia selesai, wajah itu berubah bentuk. Seolah gambar itu hidup dan tak menyukai wajah yang digambarkan padanya.
McCrae kini menyanyikan lagu yang terdengar seperti lagu tidur, namun nadanya turun terlalu dalam, seperti nada minor yang ditarik ke lubang.
Maynard duduk memandangi jendela.
Dari sana, ia melihat kilatan merah samar dari dalam kapel.
Dan bayangan seseorang yang tergantung, bergoyang perlahan… mengucapkan salam yang tidak pernah diundang.
Bab 20 – McCrae Berbicara dalam Bahasa Kuno
Pagi itu datang tanpa matahari. Kabut begitu tebal hingga waktu terasa tak punya ujung. Ellis duduk di sudut rumah tua itu, menggambar sesuatu yang bahkan ia sendiri tak mengerti. Sementara Maynard membersihkan senjata tanpa tujuan, hanya agar tangannya tetap sibuk dan pikirannya tidak hancur perlahan.
McCrae berdiri di depan jendela.
“Sudah lama kita di sini,” katanya pelan. “Lebih lama dari yang kita hitung. Waktu di tempat ini tidak mengalir. Ia mendidih.”
Ellis melirik. “Kau bilang apa?”
“Aku bilang,” ulang McCrae, “kita sudah melewati ambang. Kita bukan lagi tamu di desa ini.”
Maynard menahan napas. Ia tahu McCrae telah berubah, tapi pagi ini, sorot matanya kosong dan bibirnya bergerak tanpa suara seperti sedang menghafal mantra yang tak pernah diajarkan siapa pun.
“Aku mendengar mereka,” lanjut McCrae, sekarang sambil menyentuh dinding kayu. “Mereka memanggil dalam lidah lama. Bahasa pertama sebelum doa ditemukan.”
Ia menatap ke arah gereja.
“Kudengar nama-nama kita disebut di antara retakan retakan batu. Di lantai kapel. Di sumur tua.”
Maynard bangkit. “Duduk, McCrae. Jangan ke luar.”
Namun McCrae menatapnya seperti menatap anak kecil yang tak mengerti. Ia hanya tersenyum tipis, lalu berkata dalam suara yang lebih dalam dari biasanya, dengan logat dan ritme yang tidak berasal dari bahasa Inggris:
“Obrad za dušu... zapečaćena u krvi.”
Maynard melangkah mendekat. “Apa itu?”
Ellis berbisik, “Itu... bahasa Serbia kuno. Aku pernah dengar nada itu saat ikut misi ke Balkan tahun lalu. Artinya... sesuatu tentang upacara jiwa.”
McCrae membuka pintu dan melangkah ke luar.
Kapel berdiri seolah menunggu.
Kabut menyingkir sedikit di jalurnya, seperti menyambut anak yang pulang. McCrae mendekat, mulutnya terus bergerak, menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti gabungan nyanyian, kutukan, dan doa.
Maynard dan Ellis mengikutinya dari kejauhan. Tapi sebelum mereka bisa mendekat ke bangunan itu, suara dari dalam kapel membesar.
“Veznik! Večni stražar!”
Pintu terbuka sendiri. Cahaya merah mengalir keluar seperti darah yang disinari lentera.
McCrae melangkah masuk ke dalam tanpa ragu, lalu berhenti di tengah altar. Matanya menatap kosong ke langit-langit, lalu tubuhnya kaku.
Tiba-tiba, semua lilin menyala lagi.
Ratusan.
Dari tempat mereka berdiri, Maynard dan Ellis melihat sesuatu naik dari bawah altar—bukan bentuk manusia, tapi bayangan yang memutar arah cahaya, menjadikan terang jadi gelap dan gelap jadi suara.
Bayangan itu melingkari McCrae.
Dan saat Ellis berteriak memanggil namanya, McCrae membuka mulut… dan suara yang keluar bukan suara manusia.
“Nisam više vaš. Njegov sam.”
Suara itu berat, menggema, seperti diucapkan dari balik sumur dalam yang tak berujung.
Maynard berlari, mencoba masuk.
Namun pintu kapel tertutup sendiri, keras. Dan saat mereka mendorongnya, suara dari dalam sudah tak terdengar lagi.
Hening.
Mereka berhasil membuka pintu lima menit kemudian.
Kapel kosong.
Lilin mati.
Tidak ada tanda McCrae pernah di sana.
Tak ada bekas kaki, tak ada darah.
Hanya satu hal: jurnal McCrae tergeletak di altar. Di dalamnya hanya satu halaman terakhir—gambar lingkaran besar dengan simbol-simbol dan satu kalimat dalam huruf Latin lama:
“Veznik tidak menuntut pengorbanan. Ia hanya menagih utangnya.”
Ellis menutup jurnal itu dengan tangan gemetar.
Maynard menatap ke langit-langit kapel yang mulai retak.
“Satu lagi hilang,” katanya. “Dan kita belum tahu... siapa selanjutnya.”
Bab 21 – Ellis Hampir Membunuh Maynard
Maynard terbangun dengan rasa dingin yang menusuk tulang, seolah kabut malam menyusup sampai ke sumsum. Cahaya redup dari lampu minyak di pojok ruangan menari-nari di dinding kayu yang mulai menghitam oleh lembap. Hening. Terlalu hening untuk pagi apa pun. Ia mengerjapkan mata dan melihat Ellis duduk tak jauh darinya, memunggungi jendela.
Yang membuatnya langsung duduk tegak bukanlah Ellis—melainkan bayonet di tangan rekannya itu, yang berkilat dalam cahaya suram, mengarah tepat padanya.
"Ellis," bisik Maynard, suara seraknya nyaris tak terdengar, "apa yang kau lakukan?"
Ellis tidak berkedip. Matanya merah, bukan karena marah, tapi karena tak tidur. Di bawahnya ada lingkaran gelap, seperti tatapan malam yang tak pernah usai. Tangannya bergetar.
"Kau kembali tadi malam," katanya lirih, "tapi kau tidak bicara. Kau berdiri di pojok ruangan ini, hanya berdiri. Menatapku. Tak berkedip."
Maynard menahan napas. “Aku tidak pernah keluar. Aku tidur di pojok sana, Ellis. Selimutku masih di situ.”
Ellis menggeleng. “Bayanganmu… bayanganmu tak ikut bergerak saat kau berdiri. Kau pikir aku tak lihat, tapi aku lihat.”
Maynard perlahan mengangkat tangannya, menunjukkan ia tak bersenjata. “Tempat ini membuat semuanya berputar. Kita sudah kehilangan terlalu banyak. Tapi aku masih aku. Ellis, dengarkan suaraku. Aku takkan menyakitimu.”
“Buktikan.” Suara Ellis menjadi datar. “Saat kita di Ypres, dan aku tertimpa puing granat, apa yang kau katakan?”
Maynard menggigit bibirnya. Ia ingat. Ellis berdarah, gemetar, dan ia mendekat sambil berkata: “Kau lebih keras kepala daripada maut itu sendiri, Tom. Jangan mati dulu. Aku belum selesai bertengkar denganmu.”
Air mata menggenang di mata Ellis. Bayonetnya perlahan turun, lalu jatuh ke lantai dengan bunyi logam yang menyayat.
“Aku minta maaf…” gumamnya. “Tuhan, aku minta maaf…”
Maynard tidak langsung mendekat. Ia tahu kepercayaan yang telah retak tak bisa disatukan hanya dengan kata-kata. Ia duduk perlahan di seberang Ellis, menjaga jarak.
“Bukan salahmu,” katanya. “Bahkan aku tak yakin lagi dengan siapa pun. Termasuk diriku sendiri.”
Hari itu mereka tidak bicara banyak. Mereka hanya duduk, makan seadanya, dan mendengar. Dari luar, suara seperti langkah-langkah kecil terus terdengar. Sesekali, bisikan dari arah kapel mengganggu keheningan.
Maynard menulis di buku catatannya. Ia tahu mereka takkan selamat, tapi catatan bisa. Catatan bisa sampai ke tangan yang tak pernah menginjak Velinovac, dan mungkin—hanya mungkin—ada yang percaya.
Ellis duduk di jendela, menatap kabut. Di balik tirai kelabu itu, ia melihat siluet. Satu. Dua. Mungkin anak-anak. Tapi mereka tidak bergerak. Dan matanya… kosong. Tidak ada bola mata, hanya rongga hitam.
“Aku tak tahu siapa kita lagi,” katanya lirih. “Apakah kita yang datang ke tempat ini… atau tempat ini yang datang ke dalam kita?”
Maynard tak menjawab. Ia menutup bukunya, menatap langit-langit kapel yang penuh lumut. Di dalam dirinya, ada bagian kecil yang masih berharap. Tapi bagian itu kian kecil, dan kian sunyi.
Malamnya, Ellis menulis lagi di jurnal:
Hari ini aku hampir membunuh Maynard. Aku mengira dia bukan manusia. Tapi setelah semua ini… aku lebih takut jika ternyata aku yang bukan manusia.
Bab 22 – Hari yang Sama, Lagi dan Lagi
Maynard terbangun dengan rasa yang aneh—seperti déjà vu yang bukan hanya familiar, tapi menyakitkan. Ia menatap dinding kapel tempat mereka berlindung. Cahaya dari celah-celah kayu jatuh ke lantai, sama seperti kemarin… dan kemarinnya lagi.
Di pojok ruangan, Ellis duduk sambil memeluk lutut, wajahnya pucat. Ia tak menoleh saat Maynard bangun. Seolah semuanya telah terjadi berkali-kali.
"Aku tahu apa yang akan kau katakan," bisik Ellis. "Kau akan tanya, ‘Sudah pukul berapa?’. Lalu aku akan menjawab, ‘Entahlah, jamku mati.’ Dan setelah itu, kita akan makan roti basi dan air, lalu dengar suara lonceng yang tak pernah kita lihat siapa yang membunyikan."
Maynard berdiri perlahan. “Kau bermimpi aneh lagi?”
“Tidak. Aku tidak bermimpi. Tapi kita tetap menjalani mimpi yang sama... berulang.”
Maynard mendekat ke jendela. Kabut masih tebal, seperti tembok yang menolak memberi arah. Ia membuka pintu kapel, dan angin dingin menerpa wajahnya. Tapi yang membuatnya diam adalah pemandangan di luar. Rumah yang sama. Bayangan yang sama. Bahkan gagak di pagar kayu... sama.
Ia melangkah keluar. Kakinya menyentuh tanah yang becek. Ellis menyusul, membawa bayonet yang tak lagi tajam tapi setidaknya memberi rasa aman palsu.
“Aku meninggalkan cap kaki di tanah ini kemarin,” kata Ellis. “Di dekat sumur tua. Tapi pagi ini… jejak itu belum kering. Seperti baru dibuat.”
Mereka menyusuri jalan desa yang tak pernah berubah—seolah waktu membeku, tapi mereka tetap dipaksa berjalan di dalamnya.
Siangnya, mereka mencoba keluar dari desa. Maynard mencatat arah: timur, lalu utara, lalu kembali barat laut. Mereka berjalan dua jam, melewati reruntuhan gudang, kebun mati, dan satu batu besar berbentuk mirip tengkorak.
Tapi setelah dua jam, mereka kembali berdiri di depan gereja.
“Ini mustahil,” bisik Maynard. “Kita sudah memutar. Kita pakai kompas. Kita—”
“Kompas itu berputar-putar sejak dua hari lalu,” potong Ellis. “Jarumnya seperti kehilangan arah. Sama seperti kita.”
Maynard menendang tanah dengan marah. “Kalau ini memang semacam jebakan, kita harus bisa menemukan polanya. Waktu bukan hanya berulang, dia juga mempermainkan kita.”
Ellis mendongak ke langit. “Apa menurutmu... ini bukan dunia kita lagi?”
Malam ketiga—atau keempat—atau keseribu.
Mereka duduk di dekat altar. Ellis menggambar lagi, tapi kini wajah yang ia gambar bukan lagi rekan-rekannya. Bukan warga desa. Wajah-wajah itu asing, tapi seperti menatap dari kedalaman sejarah. Tatapan kosong, leher digaruk hingga berdarah, dan mulut yang membuka, tapi tidak bicara. Hanya diam.
Maynard menulis.
Tanggal? Tidak tahu. Hari keberapa? Tidak tahu. Kami berjalan, kami kembali. Kami tidur, kami bangun. Tapi kami tidak pernah bergerak maju. Kami seperti pion yang dimainkan oleh tangan yang tak terlihat. Atau mungkin kami hanya pengulangan dari kisah yang pernah terjadi… dan harus terus terjadi.
Saat ia menutup jurnal, lonceng berbunyi.
Tiga kali.
Suara logam berdengung di udara tanpa sumber. Tak ada tali. Tak ada angin. Tapi bunyinya menusuk hingga ke perut.
“Kemarin tiga kali juga,” gumam Ellis.
“Dan sebelumnya, dua kali. Aku ingat,” jawab Maynard.
“Besok berapa kali?”
“Jika ada besok.”
Keesokan paginya—entah keberapa—Maynard duduk sendirian. Ellis sedang tidur, wajahnya penuh keringat.
Ia mencoba mengingat kembali urutan hari. Kapan Fenton hilang? Kapan McCrae mulai berbicara dalam bahasa aneh? Kapan ia terakhir mencium bau tanah basah yang benar-benar berbeda dari hari sebelumnya?
Ia tidak tahu.
Bahkan tubuhnya pun seperti menolak penanda waktu. Luka kecil di tangannya tidak sembuh. Bekas cakaran masih segar. Seolah tubuhnya pun terjebak dalam satu hari yang tak bisa dilewati.
“Apa yang terjadi jika kita melakukan sesuatu berbeda?” gumamnya.
Ia melangkah ke sumur tua di tengah desa. Menatap ke bawah. Gelap. Tak terlihat dasar.
“Apa kau ingin keluar?” tanya suara dari belakang.
Ellis berdiri, bayonet di tangan.
Maynard menoleh. “Aku ingin waktu bergerak lagi.”
Ellis mengangguk. “Mungkin… waktu menunggu kita membuat pilihan. Bukan kabur.”
Maynard menarik napas panjang. “Lalu apa yang harus kita pilih?”
Ellis menatap langit. “Kalau kita terus mengulang hari ini… mungkin kita harus melakukan sesuatu yang belum pernah kita lakukan. Sesuatu yang salah.”
Di kejauhan, lonceng berbunyi lagi.
Empat kali.
Bab 23 – Penduduk dari Seberang Lembah
Lonceng itu berdentang di pagi yang seperti salinan hari sebelumnya. Tapi kali ini… suaranya datang dari arah lain—dari kejauhan, dari luar desa, dan dari dunia yang selama ini terasa hilang.
Maynard terbangun lebih dulu. Ia mengangkat kepalanya dengan perlahan, seakan takut harapan itu hanya ilusi. Ellis masih tertidur, gemetar meski tubuhnya dibungkus selimut dan jaket tentara yang mulai lusuh.
Dari celah jendela kapel, Maynard melihat siluet dua sosok mendekat dari balik kabut yang mulai menipis. Satu lebih tinggi, satu lagi lebih kecil. Mereka bergerak hati-hati, seolah takut menginjak tanah yang asing.
“Ellis,” bisik Maynard, mengguncang bahu kawannya. “Bangun. Ada orang. Bukan kita.”
Ellis membuka mata. Tak ada kekagetan. Ia seperti sudah tahu akan ada momen ini—atau mungkin momen ini pernah terjadi di siklus waktu yang tak mereka pahami.
Keduanya keluar dengan bayonet di tangan, bukan untuk menyerang… tapi sebagai perlindungan terakhir terhadap harapan palsu.
Sosok itu ternyata seorang pria tua berjanggut dan seorang gadis muda. Wajah mereka Balkan, pakaian mereka sederhana dan berdebu, tapi tidak ada ketakutan dalam cara mereka menatap.
“Eng… english?” tanya si pria pelan, logatnya berat.
Maynard mengangguk. “Yes. Royal Fusiliers. Kami… tersesat. Kami...”
Pria tua itu menatap sekeliling, lalu menatap langit. “Velinovac,” katanya lirih. “Tuhan masih belum menutup tempat ini rupanya.”
Gadis muda itu menatap Maynard dengan mata yang jernih, meski penuh rasa iba. “Kami dari Gornja Lepa,” katanya dalam Bahasa Inggris terbata. “Aku… Anja. Ini kakekku, Milos.”
Ellis mendekat, suaranya tercekat. “Kalian tahu tempat ini?”
Milos mengangguk perlahan. “Dulu… ya. Sekarang? Hanya kabut dan kutukan.”
Mereka duduk di luar kapel. Milos membuka ransel kain yang dibawanya, mengeluarkan sepotong roti keras dan keju. “Kalian kelaparan. Tapi jangan terlalu banyak. Perut kalian belum siap.”
Maynard memakan perlahan, seakan makanan itu bisa lenyap jika disentuh terlalu cepat.
“Berapa lama kami… di sini?” tanya Ellis.
Milos menatapnya. “Menurut waktu kami? Sembilan hari. Tapi jika kalian tanya langit di atas tempat ini, mungkin jawabannya seratus tahun, atau sepuluh menit. Di sini, waktu itu tidak lurus.”
“Kenapa kalian datang?” tanya Maynard.
Anja menjawab, “Kami dengar lonceng. Tiga hari terakhir. Tidak pernah berbunyi sebelumnya. Kami pikir… ada jiwa yang masih belum disambut mati.”
Kalimat itu menembus dingin tulang Maynard.
“Velinovac,” ujar Milos pelan, “adalah tempat yang tidak dilupakan oleh bumi, tapi ditolak oleh surga. Pernah ada kolera. Dan manusia membuat keputusan buruk—mengorbankan anak-anak mereka untuk mengikat roh tua, Veznik namanya. Pengikat jiwa. Sejak itu, desa ini menjadi perangkap waktu. Siapa pun yang datang, tidak akan pulang… kecuali dibebaskan oleh pengorbanan atau keberanian.”
Maynard menatap Ellis, lalu langit. “Dan kalau kami pergi sekarang?”
Milos berdiri. “Kalau kalian benar-benar hidup, dan jiwa kalian belum tercatat sebagai milik Velinovac… maka langkah kalian akan terdengar oleh dunia kembali.”
Perjalanan keluar desa dimulai saat matahari hampir tenggelam. Maynard dan Ellis berjalan di belakang Milos dan Anja. Kabut tidak hilang sepenuhnya, tapi kini membentuk lorong samar menuju lembah.
“Kenapa kabutnya membuka jalan?” tanya Ellis.
“Karena kalian sudah tahu kalian terjebak,” jawab Milos tanpa menoleh. “Velinovac tak bisa mengurung orang yang menyadari keberadaannya.”
Setelah satu jam berjalan, mereka melihat cahaya.
Cahaya api dari desa kecil di bawah—Gornja Lepa.
Saat mencapai desa itu, langkah mereka menjadi limbung. Tubuh mereka dehidrasi parah, mata sayu, dan kulit pucat. Warga menyambut mereka dengan keheranan dan ketakutan. Dua orang Inggris… yang seharusnya sudah mati.
Sebelum Maynard pingsan, ia sempat berkata pada Anja:
“Velinovac… mungkin tidak akan membiarkan kita pergi sepenuhnya.”
Dan Anja menjawab dengan suara lembut, “Maka jangan pernah kembali… atau kalian akan menyambung cerita yang seharusnya sudah selesai.”
Bunyi air sungai kecil dan desir angin musim gugur menyambut dua tubuh yang setengah mati itu.
Maynard dan Ellis diseret dengan susah payah melewati jalur berbatu dan ladang rumput kering. Milos berjalan pelan tapi pasti, tongkatnya sesekali menghentak tanah untuk menjaga irama. Di belakangnya, Anja terengah membawa satu botol air dan sehelai kain untuk menyeka keringat di wajah Ellis.
Langkah mereka berhenti di depan rumah beratap rendah, dindingnya dari kayu pinus tua, dan jendela kecil berlapis kain linen kusam.
“Di sini,” bisik Anja.
Pintu dibuka oleh perempuan berusia sekitar lima puluh. Matanya menyipit waspada, lalu melebar saat melihat tubuh-tubuh berpakaian tentara itu.
“Cepat bantu!” seru Anja dalam bahasa Serbia.
Beberapa pria desa muncul—dua di antaranya membawa tandu buatan dari pintu tua. Dengan gerakan cepat dan terlatih, mereka mengangkat tubuh Ellis dan Maynard, membawanya ke dalam.
Maynard hanya sempat melihat langit berubah abu-abu keemasan sebelum pandangannya gelap.
Ketika ia membuka mata, yang pertama dirasakannya adalah wangi herbal yang menyengat. Sejenis campuran lavender, bawang putih, dan entah apa lagi. Lalu suara—gemerisik kain, derit kayu, dan seseorang yang bernyanyi pelan.
Anja duduk di kursi dekat tempat tidurnya, menyenandungkan lagu rakyat. Ketika melihat matanya terbuka, ia langsung berhenti dan memanggil orang di luar.
“Doktor!”
Seorang perempuan masuk. Seragamnya menunjukkan latar medis militer—bukan dari desa ini. Rambutnya digulung rapi, matanya tajam tapi tenang.
“Eliza Holloway,” katanya dalam bahasa Inggris. “Mayor. Dokter. Kau di desa Gornja Lepa sekarang.”
Maynard mencoba duduk. “Ellis…?”
“Masih hidup. Terlemah. Tapi stabil,” jawab Holloway sambil memeriksa denyut nadinya.
“Apa... hari keberapa ini?” suaranya parau.
“Kesembilan sejak kalian dilaporkan hilang. Kami menerima laporan dari kepala desa, lalu mengirim tim pencari.”
Maynard menggeleng pelan. “Kami tidak sembilan hari di sana… kami hanya—”
Holloway meletakkan tangan di bahunya. “Kau bisa cerita nanti. Simpan dulu tenagamu.”
Sore itu, ruang tamu rumah Milos dipenuhi percakapan pelan dalam bahasa yang berbeda. Radomir, kepala desa Gornja Lepa, duduk bersilang tangan di sudut. Wajahnya keriput, tapi matanya waspada. Holloway berbicara dengan Letnan Harold Spencer, perwira intelijen yang datang bersama tim medis.
“Velinovac,” gumam Spencer. “Nama itu tidak ada dalam peta kami.”
“Dan sebaiknya tetap begitu,” sela Radomir tajam. “Kalian ingin membangkitkan yang seharusnya tetap terkubur?”
Spencer menghela napas. “Kami hanya ingin tahu… apa yang terjadi pada regu patroli kami.”
“Kalau kalian menganggap mereka tersesat, ya. Tapi tidak semua yang hilang, berarti ingin ditemukan,” ujar Radomir dingin. “Velinovac bukan desa biasa. Bahkan bukan tempat. Ia seperti luka yang menolak sembuh.”
Holloway menatap catatan medisnya. “Kondisi psikologis Ellis sangat parah. Ia berbicara dalam bahasa yang belum kami kenali. Kadang menggambar... wajah-wajah yang bukan siapa-siapa.”
Radomir berdiri. “Dengar baik-baik. Desa kami akan bantu semampunya. Tapi jangan paksa Velinovac keluar dari tidur panjangnya. Kalian mungkin tak suka dengan apa yang akan bangkit.”
Malam itu, Ellis membuka mata. Ia melihat langit-langit rumah kayu dan lampu minyak yang berayun pelan.
“Maynard…?” bisiknya.
Maynard, yang duduk di kursi dekat tempat tidurnya, mendekat dan menggenggam tangannya.
“Kita selamat, Tom. Kita keluar dari sana.”
Ellis mulai menangis. Bukan karena lega, tapi karena rasa bersalah yang tak bisa dijelaskan.
“Mereka semua... mereka tak mau pergi,” gumamnya. “Mereka bilang... mereka hanya bisa bebas jika ada pengganti…”
Maynard menunduk. Ia tahu—kisah ini tak akan pernah dimuat dalam laporan resmi. Tak akan pernah jadi bagian dari sejarah. Tapi akan hidup, di antara bisikan-bisikan prajurit, di barak-barak tua, di peta yang sengaja dikosongkan.
Velinovac tetap di sana. Tak terlihat. Tapi belum mati.
Beberapa hari kemudian, Ellis dan Maynard dibawa dengan ambulans militer menuju pos terdekat di Novi Sad. Warga desa berdiri di pinggir jalan, diam. Anja sempat menatap mereka—matanya berat, seolah tahu… mereka tidak benar-benar pergi.
Dan mungkin, tidak akan pernah.
Bab 25 – Militer Tidak Percaya
Markas besar militer Inggris di Novi Sad tidak dibangun untuk menghadapi cerita seperti ini.
Dinding bata tebal dan jendela kecil memberikan kesan tertutup, seperti rahasia yang ingin dikubur. Maynard duduk di sebuah ruang interogasi sempit, tubuhnya bersandar di kursi besi tanpa bantalan. Di hadapannya, Kolonel Arthur Brenner berdiri tegak, wajahnya seperti dipahat dari batu.
“Delapan tentara. Hanya dua kembali. Dan kalian mengaku tersesat di desa yang tidak tercatat dalam peta manapun,” ucap Brenner tanpa basa-basi.
Maynard tidak menjawab. Napasnya masih berat. Luka di pelipisnya menghitam, dan tangannya terus gemetar meski tidak dingin.
“Maynard, dengar,” suara Letnan Spencer terdengar lebih lembut. Ia duduk di sisi ruangan. “Kami hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kami tidak sedang menuduhmu. Tapi laporan ini… sulit diterima.”
Maynard menatap keduanya. “Sulit diterima? Karena kalian tidak pernah ke sana.”
Brenner menyela tajam, “Apa maksudmu ‘ke sana’? Velinovac? Nama itu bahkan tidak ada dalam arsip lokal.”
“Itu karena tempat itu tidak ingin ditemukan,” balas Maynard.
Suasana hening sejenak. Spencer mencatat sesuatu. “Kau menyebut kabut abadi… suara lonceng tanpa tali… dan teman-temanmu satu per satu menghilang?”
Maynard mengangguk.
“Dan tidak ada konfrontasi dengan musuh?”
“Bukan musuh seperti yang kau pikir. Kami tidak dibunuh… kami dikikis. Satu per satu,” katanya lirih.
Brenner menyandarkan tubuhnya, lalu menghembus napas panjang. “Kau sadar, laporan kami ke London menyebut kemungkinan tinggi: desersi.”
Maynard menegang. “Kami tidak lari. Kami dipanggil ke sana. Seolah… ditarik.”
“Tidak ada bukti tempur. Tidak ada peluru. Tidak ada tanda bentrokan. Tapi enam orang menghilang,” ujar Brenner. “Kau tahu apa artinya ini bagi reputasi unitmu?”
Maynard menatap langsung ke mata kolonel itu. “Kau bicara tentang reputasi? Ada orang-orang yang tidak akan kembali. Bukan karena mereka pengecut. Tapi karena mereka ditelan sesuatu yang lebih tua dari perang ini.”
Di bangsal rumah sakit militer, Ellis duduk di tepi ranjang. Tangannya masih dibalut, dan ia terus menggambar di buku catatannya. Wajah-wajah muncul di halaman itu—beberapa seperti bocah, lainnya seperti sesuatu yang tidak pernah dilahirkan.
Mayor Eliza Holloway mendekat dengan langkah ringan.
“Bagaimana tidurmu?” tanyanya.
Ellis hanya menjawab dengan anggukan kecil.
“Kau tahu, Maynard sedang diperiksa oleh pihak militer. Mereka… tidak mudah percaya dengan cerita kita.”
Ellis menoleh. “Aku tidak peduli mereka percaya atau tidak. Mereka tidak berada di sana.”
Holloway duduk di kursi sebelah. “Kau masih mendengar suara-suara?”
Ellis membuka satu halaman. Di sana tergambar sumur tua. Dari dalamnya muncul tangan-tangan kecil, menjulur ke atas.
“Mereka bicara dalam bahasa yang sudah mati… tapi aku mengerti.”
Holloway menatapnya lama. “Ellis, kau tahu, mereka akan mengkategorikanmu sebagai ‘trauma berat’. Mungkin kau akan dipulangkan.”
Ia mengangguk, pelan. “Mungkin itu lebih baik. Tapi mereka harus tahu satu hal…”
“Apa itu?”
Ellis menatap lurus ke matanya. “Velinovac belum selesai.”
Di ruang strategi, Spencer dan Holloway berdiskusi.
“Cerita mereka terlalu konsisten untuk dianggap halusinasi,” ujar Holloway. “Dan gejala PTSD-nya… tidak seperti umumnya. Ini seperti… rekaman ulang dari sesuatu yang lebih besar.”
Spencer membuka dokumen. “Ada satu peta kuno, dari akhir abad ke-18. Menyebut sebuah desa bernama ‘Velesnik’. Kemungkinan ejaan lama dari Velinovac. Tapi desa itu hilang dari catatan sekitar tahun 1704.”
“Kenapa?”
“Wabah, katanya. Tapi tidak ada data medis. Hanya cerita rakyat. Seperti: lonceng berdentang sendiri, anak-anak dikorbankan, roh pengikat jiwa…”
Holloway menegang. “Veznik.”
Spencer mengangguk. “Ya. Aku belum tahu artinya pasti. Tapi nama itu muncul dalam tiga sumber berbeda. Masing-masing tidak saling berkaitan.”
Holloway menutup mapnya. “Kalau begitu, bukan hanya Maynard dan Ellis yang perlu diperiksa.”
Spencer menatapnya. “Apa maksudmu?”
“Kita semua… mungkin baru saja menyentuh bagian ujung dari sesuatu yang sangat, sangat kuno.”
Hari berikutnya, sebuah memo dikirim ke London:
Dua prajurit Royal Fusiliers ditemukan hidup, namun dalam kondisi mental terganggu. Enam lainnya dinyatakan hilang. Dugaan sementara: desersi. Investigasi internal masih berlangsung. Tidak ada bukti keterlibatan musuh. Lokasi pencarian tidak menunjukkan desa yang dimaksud. Operasi pencarian tambahan tidak direncanakan untuk saat ini.
Maynard duduk di barak medis. Ia membaca memo itu dan meletakkannya pelan.
Ellis mendekat, duduk di sampingnya. “Jadi… kita sudah tidak ada dalam cerita mereka.”
Maynard menatap ke luar jendela. Kabut tipis mulai turun lagi, seolah ingin mengingatkan bahwa ada yang belum selesai.
“Biarkan saja,” katanya. “Tapi aku akan tetap menulis. Biar dunia diam… tapi kita bersuara.”
Bab 26 – Kamp Pemulihan Jiwa
Institusi Medis Rawat Jiwa Angkatan Darat Inggris itu menempati bangunan tua yang dulunya merupakan asrama biarawati. Letaknya di ujung barat Inggris, jauh dari keramaian, dikelilingi oleh pagar batu rendah dan ladang basah yang selalu diselimuti kabut tipis, seolah Velinovac mengirim napasnya sampai ke sana.
Private Thomas Ellis duduk di bangku taman, mengenakan mantel wol militer yang terlalu besar untuk tubuhnya yang semakin kurus. Di pangkuannya, buku gambar lusuh terbuka—isi halamannya dipenuhi sketsa-sketsa kasar wajah-wajah yang tidak memiliki mata.
Beberapa wajah terlihat seperti wanita, lainnya anak kecil. Semuanya menatapnya dengan kekosongan yang tak bisa dijelaskan. Dan ia tidak pernah menggambar mereka dari ingatan. Ia hanya… mengikuti. Seolah ada tangan lain yang meminjam jarinya.
“Pagi yang dingin, Private Ellis,” sapa seorang suster sambil lewat. Ellis tidak menjawab, hanya membalik halaman.
Di salah satu gambar terbaru, tampak sosok laki-laki tergantung terbalik di sebuah bangunan gereja. Di latar belakang, ada simbol seperti matahari hitam, dan di bawahnya, mulut sumur yang memancarkan garis-garis hitam seperti tentakel.
Di ruang pengamatan, Mayor Eliza Holloway berdiri bersama seorang psikiater senior, Letnan Dr. Raymond Fields.
“Dia tidak banyak bicara, tapi terus menggambar,” ujar Holloway, matanya tajam mengamati Ellis dari balik jendela satu arah. “Hampir semua pasien yang mengalami trauma berat di lapangan butuh waktu untuk bisa mengekspresikan perasaan mereka. Tapi Ellis…”
“Ellis tidak sedang mengekspresikan sesuatu. Ia sedang merekam sesuatu,” potong Dr. Fields, menunjuk satu sketsa di papan. “Lihat ini. Struktur ini… tidak dikenal dalam arsitektur Inggris. Tapi saya pernah melihat bentuk seperti ini dalam manuskrip kuno dari Serbia abad ke-17. Ini… altar pengikat.”
“Eliza,” lanjutnya pelan, “kau tahu ini lebih dari sekadar PTSD.”
Holloway tidak menjawab. Ia menatap wajah Ellis di kejauhan. Lelaki itu sesekali menoleh, seperti merasa diawasi. Lalu kembali menggambar.
“Dan ini?” tanya Fields sambil menunjuk sketsa wajah dengan kain yang menutupi mata.
“Wanita-wanita di Velinovac,” jawab Eliza perlahan. “Ellis menyebutnya žene pokajnice—penebus dosa. Dia bilang mereka menangis dengan suara, bukan air mata.”
Di kamarnya, Ellis menyusun kertas-kertas menjadi tumpukan kecil. Ia mulai membisikkan nama-nama yang tak pernah dia pelajari di pelatihan militer: Veznik, Baba Roga, Gospodar Mraka.
Tiap malam, ia tidak bisa tidur. Dan jika ia memaksakan mata terpejam, ia bermimpi seperti membuka pintu ke ruang bawah tanah: gelap, lembab, dan berisi suara anak-anak yang tertawa tanpa tubuh.
Suatu malam, saat hujan turun, Ellis terbangun dengan tubuh basah. Bukan karena keringat. Tapi karena ia berjalan sambil tidur—lagi.
Ia ditemukan oleh suster jaga di kapel kecil institusi. Berdiri diam di depan altar, tangan masih memegang arang.
Di lantai, tertulis dalam huruf besar:
“Mereka Belum Puas.”
Dalam pertemuan resmi esok paginya, Mayor Holloway membawa laporan terbaru kepada Letnan Spencer yang datang khusus dari markas.
“Kita tidak bisa menahan Ellis lebih lama tanpa membuat laporan ke kementerian pertahanan. Tapi jika kita pulangkan dia, lalu dia… mempengaruhi orang lain?”
Spencer membuka catatan dari pertemuan terakhir mereka. “Kita juga tidak bisa terus memproses kasus ini tanpa bukti. Tidak ada desa yang bisa ditemukan. Tidak ada mayat. Tidak ada peluru. Hanya dua orang saksi, dan satu dari mereka sudah hampir kehilangan nalar.”
“Lalu kita akan biarkan cerita ini menghilang?” Holloway terdengar tajam.
Spencer menatapnya. “Bukan menghilang. Hanya… dibungkam dalam bentuk resmi.”
Ia menyerahkan map coklat kepada Holloway.
Klasifikasi: RAHASIA MILITER – TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
Subjek: Private Thomas Ellis – Dipindahkan ke fasilitas kesehatan jiwa.
Status: Tidak layak tempur.
Informasi terkait operasi ‘Velinovac’ dibatasi hanya untuk tingkat komando.
Tidak ada penyelidikan lanjutan direncanakan.
Ellis menatap kaca jendela saat mobil militer yang membawanya berbelok melewati ladang. Di kejauhan, tampak pepohonan tinggi seperti bayangan pasukan.
Ia menggenggam satu lembar terakhir yang belum ia gambar. Tapi ia tahu, wajah berikutnya sudah menunggu untuk dilahirkan lewat arang di ujung jarinya.
Ia membisikkan sesuatu, dalam bahasa yang bahkan bukan miliknya. Tapi suara itu bukan milik satu orang—melainkan gema dari tempat yang tidak bisa dijangkau oleh medan perang, atau peta.
Dan di dalam bisikan itu, terdengar jelas satu kalimat:
“Ellis hanya utusan pertama.”
Bab 27 – Pemetaan Ulang
Letnan Harold Spencer berdiri di depan papan besar yang dipenuhi peta militer sektor Balkan. Tangannya menunjuk titik-titik koordinat yang saling bertumpukan, dan sebagian besar berwarna merah. Ia menyipitkan mata, mencoba mencocokkan laporan patroli terakhir dengan peta udara.
“Velinovac,” gumamnya. “Jika memang ada, harusnya ada jejak visual.”
Kolonel Brenner masuk ke ruangan dengan langkah berat. “Kau masih mengutak-atik itu?”
Spencer tidak menoleh. “Kita kehilangan enam tentara, dua kembali nyaris gila, dan tidak satu pun titik koordinat yang cocok dengan cerita mereka. Ini bukan laporan biasa, Pak. Ini sesuatu yang tak ingin ditemukan.”
“Karena mungkin tidak ada,” jawab Brenner pendek. “Atau karena kita tak seharusnya mencarinya.”
Spencer menoleh cepat. “Dengan segala hormat, Kolonel, saya tidak percaya desa yang disebut dua saksi, dengan rincian seragam dan bahasa yang sesuai, hanya halusinasi kolektif. Apalagi dengan sketsa-sketsa Ellis. Beberapa dari bangunan itu... cocok dengan arsip arsitektur Serbia abad ke-17 yang tidak pernah dipublikasikan.”
Kolonel tidak menjawab. Ia hanya menatap peta sejenak, lalu berkata pelan, “Baiklah. Kirim regu pengintai baru. Pakai pandu lokal. Tapi ini operasi senyap. Tak boleh keluar ke media atau jalur diplomatik.”
Regu pengintai baru dikirim, lengkap dengan pemandu lokal dari Gornja Lepa: seorang pria bernama Jovan, keturunan dari salah satu keluarga tertua di wilayah itu. Ia menolak menyebut nama “Velinovac”. Ia hanya bilang, “Desa itu sudah kembali ke tanah.”
Perjalanan memakan dua hari. Jalur yang digunakan Ellis dan Maynard berdasarkan catatan medis mereka diikuti seakurat mungkin. Tapi ketika mereka tiba di area yang seharusnya menjadi Velinovac, yang ada hanya hutan lebat dan bekas longsoran tanah. Tak ada kapel. Tak ada pondasi rumah. Tak ada sumur tua. Bahkan tidak ada suara burung.
Hanya satu hal yang ganjil: kabut. Meski matahari tengah hari bersinar terang di seluruh lembah, kabut tetap menggantung rendah di tempat itu. Tak menyebar, tak mengalir—hanya berdiam, seperti awan kecil yang tak mau pergi.
Kapten regu pengintai melaporkan lewat radio: “Tidak ada jejak pemukiman. Namun... wilayah ini tidak terdaftar sebagai zona kabut permanen. Juga, kompas kami mulai menunjukkan anomali magnetik sejak memasuki perbatasan area ini.”
Lalu satu hal lagi terjadi: mereka kehilangan waktu. Berdasarkan log dan jam tangan, mereka hanya berada di area tersebut selama dua jam. Namun, ketika kembali ke titik pertemuan dengan kendaraan utama, hari telah berganti.
Satu hari penuh hilang—tanpa ingatan, tanpa kejadian. Hanya kabut yang tetap di belakang mereka.
Spencer membaca laporan itu di kantornya sambil mengetuk-ngetukkan pensil ke meja.
Di tangannya, ada dua berkas. Satunya berisi laporan pengintaian terbaru. Satunya lagi... jurnal Ellis yang ia salin diam-diam dari fasilitas medis. Di dalamnya, halaman terakhir diwarnai dengan warna gelap dan garis tak beraturan—hampir seperti Ellis menggambar dengan mata tertutup.
Namun, di bawah kekacauan itu, dengan ketelitian tinggi, Spencer melihat bentuk: denah desa.
Ia memutuskan mencoba satu hal yang gila. Ia memproyeksikan denah itu ke atas peta topografi wilayah Serbia barat. Ia memperbesar, menggeser, dan... sesuatu muncul.
Bentuk denah itu nyaris cocok dengan formasi alami lembah dan sungai kecil di salah satu area yang pernah dilaporkan mengalami pergeseran tanah besar pada tahun 1896. Lokasi itu tidak tercantum dalam peta baru karena dianggap tak lagi bisa diakses secara militer.
“Apakah desa itu... pernah nyata dan terkubur?” tanyanya pada diri sendiri. Tapi lalu ia teringat: kabut. Suara. Dan mimpi-mimpi Ellis yang mengulang kata-kata asing.
Bukan hanya lokasi yang hilang. Waktu di desa itu… berjalan berbeda.
Dalam pertemuan tingkat tinggi, Spencer mencoba menyampaikan temuannya. Tapi hanya Mayor Holloway yang benar-benar mendengarkan. Yang lain menganggapnya terlalu larut dalam obsesi.
“Kita tidak bisa bertindak berdasarkan peta yang ditarik dari mimpi pasien gangguan jiwa,” ujar salah satu perwira tinggi.
“Tapi dia bukan sekadar pasien! Ia menggambar bangunan yang arsitekturnya tidak dikenal di Inggris. Ia tahu simbol-simbol tua yang bahkan para akademisi tak kenal kecuali lewat teks kuno—dan ia tidak pernah belajar itu sebelumnya!” Spencer meninggikan suara.
Kolonel Brenner menghentikannya dengan satu kalimat: “Anggap ini selesai. Operasi ‘Velinovac’ ditutup. Kita tidak akan mencari sesuatu yang tidak ingin ditemukan.”
Spencer berdiri sendirian di luar gedung markas malam itu. Langit mendung, dan suara guntur bergema jauh.
Ia mengeluarkan peta kecil dari sakunya—salinan dari sketsa Ellis yang telah ia cetak dalam ukuran saku. Ia menatapnya lama, lalu melipatnya perlahan dan memasukkannya ke dalam jaket.
Di kejauhan, suara lonceng berdentang—samar, hampir seperti ilusi suara. Tapi tidak ada gereja di sekitar area itu.
Hanya angin.
Dan kabut.
Dan kemungkinan bahwa beberapa tempat... tidak pernah benar-benar ingin ditemukan.
Bab 28 – Maynard Dipindahkan
Unit administrasi logistik yang terletak di barak pinggiran Beograd itu tak seperti markas militer pada umumnya. Tak ada derap sepatu bot di pagi hari. Tak ada tembakan latihan. Hanya suara mesin tik, kertas yang dibolak-balik, dan seragam rapi yang lebih banyak duduk dibanding berjalan.
Maynard duduk di sudut ruangan, di meja nomor tujuh. Di depannya, daftar barang masuk—peluru, kaleng makanan, dan komponen suku cadang truk lapangan. Ia sudah duduk di sana selama tiga minggu. Ia belum terbiasa, dan mungkin memang tak akan pernah.
Tidak ada yang menyambutnya saat dipindahkan. Tidak ada penghargaan, tidak ada pertanyaan berarti. Ia datang sebagai seseorang yang pernah hilang di wilayah abu-abu antara realitas dan halusinasi—dan kembali sebagai seseorang yang sudah “tidak cocok lagi untuk pertempuran.”
Tugasnya kini sederhana: menyortir berkas, mencatat pengeluaran, dan menandatangani surat perintah pengiriman logistik. Tapi kepalanya masih penuh suara bisikan dari sumur tua. Ia masih bisa mendengar denting lonceng kapel itu di ujung telinganya—bahkan di tempat setenang ini.
Maynard tidak pernah diberi penjelasan resmi mengenai statusnya. Ia hanya tahu bahwa de jure, ia masih dianggap prajurit aktif. Tapi de facto, ia sudah dimatikan dari garis depan.
Mayor Eliza Holloway datang menjenguknya pada minggu kedua.
“Bagaimana kabarmu, Maynard?”
Ia mengangkat bahu. “Saya masih bisa menulis. Dan membaca angka.”
Eliza tersenyum tipis. “Tanda bahwa kau masih hidup.”
“Kita semua hidup. Tapi belum tentu kembali.”
Ia mengatakannya tanpa sadar, seperti mengulang sesuatu yang terus berputar di dalam kepalanya. Mayor Holloway hanya mengangguk. Ia tak mencatat pernyataan itu dalam laporan psikologisnya. Tidak kali ini.
“Ellis…?” tanya Maynard.
“Masih di fasilitas. Ia lebih banyak menggambar sekarang. Kadang wajah-wajah. Kadang... tempat.”
“Kau percaya kita tidak gila, Mayor?”
Butuh waktu sebelum Eliza menjawab. “Aku percaya bahwa kalian tidak berbohong. Itu cukup bagiku.”
Maynard menatap meja. Di antara laporan logistik, ia menyelipkan secarik kertas kosong. Ia menulis satu nama kecil di pojok bawahnya: Velinovac. Dengan pensil, sangat halus, nyaris tak terlihat.
Kadang malam hari, ia bangun dengan keringat dingin. Di kamar baraknya yang sempit, ia akan duduk diam selama berjam-jam, mencoba mengingat nama-nama rekannya yang hilang. Ia hafal mereka. Tapi yang membuatnya gelisah adalah: ia merasa ingatannya mulai menghapus detail-detail kecil—warna mata, suara tawa, cara mereka berdiri.
Velinovac tak hanya menelan tubuh. Tapi juga... kenangan.
Ia mencoba menulis ulang semuanya. Di buku kecil yang ia sembunyikan di bawah ranjang, ia mencatat ulang hari-hari mereka: dari perintah pertama, perjalanan, kabut, desa kosong, hingga hilangnya satu per satu. Tapi semakin ia menulis, semakin terasa seperti fiksi.
Kadang ia menulis ulang kalimat yang sama tiga kali. Dan hasilnya selalu berbeda.
Suatu pagi, seorang perwira muda datang ke meja kerjanya.
“Anda Kopral Maynard?”
Ia mengangguk.
“Surat. Dari Inggris.”
Ia menerimanya dengan tangan gemetar. Surat itu berstempel dari ayah Private Ellis—ayah yang dulu sempat menulis ke markas, memohon penjelasan tentang putranya yang hilang. Isinya singkat:
Terima kasih telah kembali. Saya tidak tahu apa yang terjadi di sana, dan mungkin saya tak akan pernah tahu. Tapi karena Anda masih di sini, saya percaya Tuhan tidak sepenuhnya meninggalkan kita. Jaga Ellis, jika suatu hari ia bisa pulang. – Joseph Ellis.
Maynard menatap surat itu lama. Ia lipat pelan, masukkan ke dalam saku, lalu kembali menatap daftar barang masuk.
Sejak saat itu, ia menyimpan satu kotak kecil di bawah mejanya. Isinya bukan alat tulis atau berkas militer. Tapi coretan tangan, potongan gambar, dan dua peluru yang tak pernah ia gunakan. Ia menyebutnya “kotak jiwa”—pengingat bahwa Velinovac bukan mimpi buruk belaka.
Minggu keempat, ia menerima kunjungan tak terduga. Letnan Spencer.
“Masih tertarik pada peta yang tak ada, Letnan?” tanya Maynard dengan suara lelah.
Spencer duduk di kursi seberang. “Masih. Tapi mereka tak ingin aku mencarinya lagi.”
“Kau akan tetap cari?”
Spencer tidak menjawab langsung. Ia mengeluarkan peta kecil dari sakunya. Salinan dari sketsa Ellis, diperkecil. Ia meletakkannya di meja.
“Jika kau ingat sesuatu—apa pun—titik, simbol, suara, bau... beri tahu aku.”
Maynard menatap peta itu. Di ujung kanan bawahnya, ada gambar kecil: menara gereja. Di atasnya, coretan seperti angka. Tapi jika diperhatikan, itu bukan angka.
Itu adalah waktu.
“Jam itu tidak pernah berdentang saat kami datang. Tapi malam terakhir... berdentang tiga kali.”
Spencer mencatat itu.
Sebelum pergi, Spencer berkata pelan, “Kau mungkin diasingkan dari garis depan, Maynard. Tapi kau bukan prajurit yang hilang. Kau penjaga pintu antara yang kita pahami... dan yang kita tolak.”
Maynard hanya tersenyum kecut. “Kalau begitu, aku harap pintu itu tetap tertutup.”
Dan setiap hari, ia duduk di meja nomor tujuh, menyusun laporan yang tak penting bagi dunia. Tapi di hatinya, ia tahu: dunia telah berubah. Velinovac masih ada, mungkin tak lagi di bumi ini, mungkin bukan dalam bentuk desa.
Tapi selama masih ada yang mengingat, maka tempat itu tidak pernah benar-benar hilang.
Bab 29 – Jurnal Terakhir Ellis
Di ruang sunyi di fasilitas militer Cheltenham, di bagian barat daya Inggris, Ellis duduk di kursi kayu tua dengan tangan bergetar pelan. Jendela kecil di dinding membiarkan cahaya musim gugur masuk, menyentuh kertas-kertas yang berserakan di meja kecil di hadapannya.
Ia tidak berbicara. Sudah dua minggu sejak kata terakhir keluar dari bibirnya. Tapi tangannya menulis setiap hari, seolah kalimat-kalimat itu lebih nyaman hidup dalam tinta ketimbang suara.
Jurnal itu kini hampir penuh.
Suster yang membersihkan kamarnya tiap pagi menyebutnya anak yang menggambar kesedihan. Sebab di antara kalimat-kalimat tak selesai, wajah-wajah terus bermunculan—wajah tanpa mata, wajah berselubung kain, dan kadang hanya siluet yang berdiri di antara pepohonan tanpa daun.
Hari ini, ia menulis lagi. Dengan pelan, seolah takut tinta terlalu cepat mengungkapkan rahasia yang belum waktunya dibuka.
“Mereka belum selesai.
Mereka hanya diam.”
Kalimat itu ditulis tiga kali. Di halaman yang berbeda. Dengan huruf berbeda. Tapi bunyinya selalu sama.
Suster Margaret, yang diam-diam membaca jurnal itu ketika Ellis tertidur, mengira itu hanya bentuk dari trauma mendalam. Tapi Letnan Harold Spencer yang datang diam-diam seminggu sekali, punya pendapat lain.
“Ellis tidak hanya mengalami sesuatu. Ia menyimpan sesuatu,” katanya kepada Mayor Holloway saat diskusi internal.
Isi jurnal Ellis tidak linier. Halaman-halaman tak urut. Terkadang satu cerita dipotong oleh gambar. Kadang sebuah gambar berlanjut ke tiga halaman berikutnya, menyatu dengan catatan seperti puisi:
“Kaki mereka tak menyentuh tanah. Tapi bayangan mereka menapak di setiap mimpi.”
“Lonceng itu tidak berbunyi untuk waktu. Tapi untuk jiwa.”
“McCrae berbicara pada udara. Tapi udara menjawab.”
Dan di antara semua itu, satu halaman ditulis dengan tinta yang tampaknya berbeda—lebih pudar, hampir seperti tinta darah yang telah mengering:
“Velinovac tidak tertanam di bumi. Ia tertanam di kesadaran. Ia tumbuh seperti jamur: dalam gelap, dan hanya muncul saat kita paling sendiri.”
Kalimat itu membuat Spencer terdiam lama saat membacanya.
Hari ke-108 sejak kembali dari Serbia, Ellis berhenti menulis selama dua hari penuh. Ia hanya duduk di bawah jendela, menatap ke luar. Seorang perawat berkata ia melihat Ellis mengangkat tangannya sesekali, seolah melambai kepada seseorang yang tak tampak.
Hari ketiga, ia mulai menulis lagi. Tapi berbeda.
Sekarang, ia tidak hanya menulis kejadian. Ia mulai menulis percakapan. Dialog panjang antara dirinya dan entitas yang hanya ia sebut “Mereka yang tinggal di bawah suara.”
“Apa kalian ingin pergi?” tulisnya.
“Kami tidak ingin pergi. Kami ingin digantikan.”
“Siapa?”
“Siapa pun yang ingin hidup terlalu keras.”
Mayor Holloway mulai cemas. Tapi Letnan Spencer justru merasa jurnal itu bukan kegilaan, tapi peringatan yang disamarkan dalam puisi.
Hari ke-112, Spencer menemui Ellis langsung. Duduk di ruangan itu selama hampir satu jam. Ellis tidak berbicara, hanya menatapnya. Tapi di tengah keheningan itu, ia menyerahkan selembar kertas, baru ditulis.
Di kertas itu hanya ada satu kalimat, dengan tulisan tegak-tegak miring khas Ellis:
“Jangan cari mereka. Karena mereka sedang belajar mencari kalian.”
Dokter rumah sakit jiwa menyarankan pengobatan lebih agresif, mungkin terapi kejutan ringan. Tapi Holloway menolak. Ia berkata, “Orang yang selamat dari neraka seharusnya tidak dipaksa lupa. Ia harus ditemani sampai ingatannya sendiri selesai bercerita.”
Tapi tak ada yang tahu kapan cerita itu akan selesai.
Hari ke-119, Ellis menulis halaman terakhir.
“Saya mimpi tentang Billy. Ia masih kuat, tapi ia tidak lagi punya suara. Ia membuka mulut, tapi hanya kabut yang keluar.”
“Saya mimpi tentang McCrae. Ia duduk bersila, mulutnya penuh tanah, tapi ia tersenyum.”
“Saya mimpi tentang Sersan. Ia gantung diri, tapi bayangannya tetap berdiri, memberi hormat.”
Lalu halaman terakhir:
“Saya mimpi tentang saya sendiri. Tapi saya tidak mengenal wajah saya. Wajah itu tertawa, tapi bukan untuk saya. Wajah itu menatap saya seperti saya hanyalah boneka yang pernah diisi oleh sesuatu… dan sudah dikosongkan.”
“Mereka belum selesai. Mereka hanya diam.”
Tiga hari kemudian, Ellis berhenti menulis.
Ia masih makan. Masih bisa berjalan di taman bersama pengawas. Tapi tak satu kata pun keluar lagi. Tangannya menolak menggenggam pena. Matanya menolak bertatapan.
Dan setiap malam, ketika semua lampu kamar sudah padam, satu-satunya suara yang terdengar adalah bisikan pelan dari mulutnya yang setengah terbuka:
“Velinovac…”
“Velinovac…”
“Velinovac…”
Mayor Holloway datang sebulan kemudian, membawa jurnal itu untuk diarsipkan. Ia menyimpannya dalam map berlabel merah: Non-Klasifikasi – Evaluasi Khusus.
Letnan Spencer membacanya untuk terakhir kali sebelum menyimpannya.
Lalu ia berkata, “Kalau Velinovac masih ada, maka Ellis adalah pintu. Dan setiap pintu… punya kunci.”
Dan kunci itu belum ditemukan. Atau mungkin, sudah… dan kita hanya belum sadar sedang memutarnya.
Bab 30 – Petani Tua Berbicara
Senja jatuh lambat di desa Gornja Lepa. Awan tipis berarak di langit pucat, dan matahari tampak seolah enggan menyentuh tanah terlalu lama. Di beranda kayu rumah Milos Draganic, suasana lengang terganggu hanya oleh suara angin yang menyusup di antara sela dedaunan dan gemeretak ubin tua yang mengembang karena lembap.
Maynard duduk di kursi pendek dari rotan, tangannya masih bergetar halus meski sudah tiga hari mendapat asupan makanan layak dan tidur tanpa teror. Di hadapannya, Milos—petani tua berusia lebih dari tujuh puluh tahun—menyalakan pipa kayu kecil yang tampak seperti benda pusaka. Anja, cucunya, duduk tak jauh dari mereka, sesekali menerjemahkan kalimat-kalimat rumit dari bahasa Serbia.
“Tuan Maynard,” kata Milos, suaranya berat dan pelan, seperti tanah basah yang diinjak pelan. “Kau bukan yang pertama datang dari arah Velinovac.”
Maynard menatapnya, dalam hati berharap bahwa akhirnya akan ada penjelasan yang bisa dimengerti oleh logika tentara. Tapi tatapan mata Milos menunjukkan bahwa ini bukan soal logika.
“Dulu, sebelum saya lahir,” lanjutnya, “ayah saya pernah pergi berburu di hutan arah timur. Ia kembali tanpa rusa, tanpa kelinci. Tapi dengan mata yang tak lagi sama.”
Anja menerjemahkan perlahan. Milos menatap jauh ke kebun belakang rumahnya, lalu berkata lagi:
“Ayah bilang, ia melihat menara kapel berdiri di atas kabut. Tapi bukan kabut pagi, bukan kabut alam. Kabut itu… seperti makhluk. Ia menyentuhmu tanpa tangan.”
Maynard menelan ludah. Ia tahu persis jenis kabut yang dimaksud.
“Velinovac dulunya desa biasa,” ujar Milos, suaranya nyaris berbisik. “Tapi pada tahun 1698, kolera menyebar. Banyak yang mati. Orang tua, anak-anak, bahkan binatang. Wabah itu… seolah tidak memilih. Tak ada doa yang cukup kuat, tak ada imam yang bisa menghentikannya.”
Anja menerjemahkan dengan nada lebih pelan dari sebelumnya. Malam mulai jatuh, dan sinar lilin dari dalam rumah mulai terlihat dari jendela.
“Mereka bilang seorang pendeta dari Bihać datang. Membawa kitab kuno, ditulis dalam bahasa yang tidak diajarkan gereja. Ia memimpin ritual—bukan doa, tapi persembahan. Tiga belas anak dibawa ke altar dan dikorbankan. Darah mereka dituangkan ke dalam sumur di tengah desa.”
Maynard menunduk. Jantungnya berdetak lebih keras. Ia mengingat sumur tua itu. Ia mengingat bisikan.
“Setelah malam itu, tak ada yang mati karena kolera. Tapi tak ada juga yang bisa pergi dari Velinovac. Mereka tetap hidup… tapi bukan seperti manusia pada umumnya.”
Anja terdiam sejenak. Matanya menatap Maynard dengan rasa bersalah yang tak berasal dari dirinya sendiri.
“Velinovac mulai… berubah,” lanjut Milos. “Hari-harinya tak teratur. Bayangan orang muncul tanpa tubuh. Ada suara langkah di malam hari, tapi tak ada jejak. Lonceng gereja berdentang tanpa angin, tanpa tali. Dan yang paling mengerikan… adalah anak-anak.”
Maynard mengangkat kepala.
“Anak-anak yang dikorbankan itu… kembali,” ucap Milos. “Tapi bukan sebagai anak. Mereka tak punya mata. Hanya kehendak.”
Anja menelan ludah sebelum menerjemahkan. Suaranya nyaris seperti gumaman doa.
“Setiap beberapa dekade, Velinovac butuh pengganti,” kata Milos pelan. “Itulah bagian dari perjanjian. Supaya ‘yang lama’ bisa tidur lagi. Maka selalu ada orang yang ‘tersesat’ ke sana. Dan selalu… tidak semua kembali.”
Maynard merasakan hawa dingin menjalari tulang punggungnya. “Kau tahu… apa nama makhluk itu?” tanyanya perlahan.
Milos menatapnya dalam-dalam. Api pipanya mati. Ia tidak menyalakannya lagi.
“Veznik,” ucapnya. “Pengikat.”
Maynard mengangguk perlahan. Kata itu pernah ia dengar—atau mimpi—saat malam-malam terkutuk di desa itu.
“Bukan iblis. Bukan dewa. Hanya sesuatu yang lahir dari ketakutan dan doa yang salah arah.”
Sunyi mengisi ruang di antara mereka. Lonceng kecil dari arah gereja tua di desa Gornja Lepa berdentang pelan. Tidak keras. Tapi cukup untuk membuat Maynard menoleh. Refleks.
Anja melanjutkan, kali ini tanpa menunggu terjemahan: “Kakek saya bilang… Velinovac tidak ada di peta bukan karena dilupakan. Tapi karena dipisahkan. Seperti luka yang dijahit, tapi tidak sembuh—hanya tertutup.”
Milos berdiri perlahan. Ia mengambil satu lembar peta tua dari rak kayu. Dengan tangan keriput, ia membuka lipatannya, menunjuk ke arah barat daya dari Gornja Lepa.
“Di sinilah dulu desa itu tercatat,” katanya. “Tapi setelah tahun 1704… namanya dihapus. Bahkan imam-imam pun tak mau menyebutnya.”
Ia menatap Maynard. “Kalian datang ke tempat yang tak ingin dikunjungi. Dan… itu berarti kau membawa sebagian tempat itu ke sini.”
Maynard menggertakkan rahangnya. “Apa yang kau maksud?”
“Kau masih mendengar suara, bukan?” tanya Milos.
Maynard terdiam. Anja menatapnya, bingung. Tapi ia tidak butuh terjemahan. Ia tahu jawaban itu.
Milos kembali duduk, kali ini lebih berat, seperti tubuhnya ingin menancap pada bumi agar tidak terbawa oleh sesuatu yang lebih besar dari waktu.
“Kalau kau ingin tetap hidup,” katanya, “jangan pernah menjawab suara itu. Apapun yang ia bisikkan. Bahkan jika ia memakai suara orang yang kau cintai.”
Senja telah menjadi malam. Dan malam, di desa seperti ini, tak pernah sepenuhnya milik manusia.
London, 15 November 1941.
Di tengah musim dingin yang menggigit, gedung Kementerian Perang di Whitehall berdiri kokoh dalam bayangan kelabu, seolah dibangun bukan dari batu, tapi dari kepatuhan dan rahasia yang dikubur dalam-dalam.
Letnan Kolonel Edward Lyle baru saja dipindahkan ke bagian Arsip dan Intelijen Sejarah Operasi. Sebuah unit kecil, nyaris tak terdengar, tetapi memiliki wewenang penuh terhadap dokumen-dokumen yang dianggap tidak cocok untuk konsumsi publik maupun militer aktif. Di ruang bawah tanah lembap dengan dinding bata merah yang dingin, Lyle menemukan sebuah berkas tua, lusuh, dengan cap merah samar:
RESTRICTED - CLASSIFIED 1915.
Berkas itu berjudul Velinovac. Tidak ada kata tambahan. Hanya satu nama yang terdengar seperti desahan asing dalam lidah Inggris.
Ia membuka halaman pertama. Laporan medis. Nama pasien: Private Thomas Ellis. Diagnosis: Severe hallucinations, trauma-induced dissociation, repetitive linguistic fragments. Kalimat yang terus ia ulangi, tertulis dengan tinta luntur:
“Mereka belum selesai. Mereka hanya diam.”
Halaman berikutnya adalah laporan dari Corporal James Maynard. Tulisannya rapi, militeristik, tapi semakin ke bawah kian penuh coretan. Pada paragraf terakhir, hurufnya seperti kehilangan bentuk—bukan karena gugup, tapi seperti dilanda kekuatan yang ingin mencegahnya menyelesaikan kalimat.
“...kapel itu hidup. Kami semua mendengar suara—bukan suara manusia, tapi gema dari sesuatu yang... lebih dulu dari kita. Hargreaves... ia memandang ke mata kosong anak itu dan—”
Tinta berakhir di situ.
Lyle mengernyit. Ia membuka dokumen pendukung lainnya: sketsa dari jurnal Ellis. Wajah-wajah tanpa mata. Lonceng yang menggantung tanpa tali. Simbol aneh yang menyerupai alfabet Slavia kuno bercampur dengan simbol pagan.
Yang membuat Lyle benar-benar duduk tegak adalah laporan tahun 1927 dari seorang pengamat militer Serbia, tertutup debu dan ditulis tangan. Laporan itu berbicara tentang penduduk desa Gornja Lepa yang percaya bahwa “desa di balik lembah” muncul hanya ketika ‘waktunya tiba’. Tidak ada yang tahu kapan waktunya. Hanya tahu bahwa Velinovac tidak hilang—ia hanya tertutup bagi mata yang tak ditakdirkan melihat.
Lyle bangkit dari kursinya. Ia berjalan ke meja depan tempat seorang perwira muda sedang menyortir arsip.
“Pernah dengar tentang Velinovac?” tanyanya.
Perwira itu menggeleng, “Desa di mana itu, sir?”
Lyle tidak menjawab. Ia kembali ke mejanya dan memanggil salah satu analis bahasa dari divisi rahasia, seorang wanita berdarah campuran Serbia-Inggris bernama Ana Vuković.
Beberapa jam kemudian, Ana duduk di seberang Lyle, membaca ulang lembaran-lembaran yang sudah ditempeli catatan.
“Ini bukan bahasa Serbia modern,” ujarnya pelan. “Bahkan bukan dari abad ke-19. Ini campuran antara aksara Glagolitik dan ragam liturgi dari biara-biara tua Balkan Selatan.”
“Bisakah dibaca?” tanya Lyle.
Ana menatapnya, lalu perlahan menjawab, “Bagian ini seperti peringatan… atau mungkin semacam perjanjian.” Ia menunjuk satu "Veznik… ište senke nevidjene.”: ‘Pengikat mencari bayangan baru.’”
Lyle menghela napas. Selama beberapa minggu berikutnya, dokumen itu menjadi obsesi kecil baginya. Ia memeriksa peta lama, mencocokkan dengan laporan patroli, bahkan meminta akses pada peta Luftwaffe yang dirampas dari Jerman. Namun tetap—tidak ada desa bernama Velinovac dalam catatan resmi apa pun.
Tapi pada Januari 1942, salah satu laporan pengintaian lapangan dari Divisi Keempat Angkatan Darat Inggris di Balkan muncul di mejanya. Isinya ringkas, nyaris terbaca seperti catatan tak penting:
"Satuan kami menghindari jalur barat daya Gornja Lepa. Pemandu lokal menyebut daerah itu 'tanah terlarang'. Sinyal radio menghilang total selama 36 menit ketika unit bergerak terlalu dekat. Tidak ditemukan desa, tetapi kami mencium bau lilin dan pembakaran dupa dari arah hutan."
Lyle membaca ulang kalimat itu berkali-kali. Ia tahu aroma dupa dan lilin bukan hal yang biasa dalam operasi militer.
Hari itu, ia menuliskan catatan terakhir di map Velinovac, sebelum memasukkannya kembali ke dalam laci besi berkode:
“Tempat itu tidak terhapus—hanya tersembunyi. Dan mereka yang mengingatnya… entah sedang menunggu atau menjadi bagian darinya.”
Sebelum menutup map tersebut, ia menuliskan satu nama tambahan di sampul belakang: Milos Draganic — catatan dari informan sipil tahun 1915 dan 1941, dinyatakan ‘hilang’ oleh intelijen lokal, tapi dalam legenda rakyat masih sering disebut sebagai “penjaga nama-nama mati.”
Ketika ia menutup lampu ruangannya malam itu, pantulan wajahnya di kaca jendela tidak sendirian. Sesuatu berdiri di belakangnya. Tapi ketika ia menoleh, hanya dingin yang tersisa.
Bab 32 - Penutup: Desa yang Tak Ada
Dalam arsip militer, tidak ada desa bernama Velinovac. Tidak dalam peta resmi, tidak dalam catatan geografi, bahkan dalam katalog gereja dan wilayah administratif Kekaisaran Austria-Hongaria sekalipun. Beberapa petugas arsip menyebutnya hanya sebagai kesalahan tulis atau disinformasi dari masa perang. Namun, dua nama tetap tak dapat dihapus dari catatan mereka yang kembali: Corporal James Maynard dan Private Thomas Ellis. Dan keduanya, hingga napas terakhir mereka, bersikeras bahwa desa itu nyata.
Maynard, yang menghabiskan sisa tugasnya di unit administratif, hidup tenang di Yorkshire hingga usia 72 tahun. Ia jarang berbicara tentang masa perang, kecuali jika seseorang cukup sabar dan tulus untuk mendengar. Di sebuah wawancara tahun 1963 yang tak pernah dipublikasikan secara resmi, ia menyebut satu kalimat yang masih membuat pewawancaranya terdiam selama bertahun-tahun:
"Kami tidak pernah masuk ke desa itu. Desa itu masuk ke dalam kami."
Ellis tak seberuntung itu. Ia menghabiskan puluhan tahun di rumah perawatan jiwa dekat Kent. Jurnal-jurnalnya, kini disimpan oleh seorang kolektor swasta, dipenuhi gambar wajah-wajah tanpa mata, anak-anak berdiri di kapel, dan satu simbol yang terus berulang: lingkaran dengan dua salib kecil di dalamnya. Para peneliti menyebutnya simbol kultus, para ahli sejarah menyebutnya pengaruh trauma. Tapi ada satu catatan dari seorang perawat yang tak pernah dianggap penting:
"Tuan Ellis malam ini bicara dalam bahasa aneh. Saya catat bunyinya: 'Veznik dolazi... veznik ne zaboravlja...' Ketika saya bertanya apa artinya, ia hanya tertawa dan menangis bersamaan."
Beberapa tahun setelah kematian Maynard, seorang jurnalis investigatif muda bernama Clara Hemsley mencoba menelusuri ulang jejak Velinovac. Ia membaca laporan-laporan, mewawancarai warga tua di Gornja Lepa, bahkan menyusup ke arsip militer yang tidak dibuka untuk umum. Di akhir catatannya, Clara menulis:
"Bukan tidak ada, tapi tidak diperbolehkan ada. Velinovac adalah kenangan yang dipungut oleh entitas yang lebih tua dari sejarah. Dan setiap kenangan, jika terus diingat, akan kembali menagih."
Ia menghilang sebulan kemudian saat melakukan perjalanan ke Serbia. Hanya koper dan buku catatannya yang ditemukan di stasiun kecil dekat perbatasan Montenegro. Di halaman terakhir bukunya, tertulis:
"Aku mendengar lonceng itu. Tiga kali, seperti dalam mimpi Ellis. Dan aku tahu—aku telah dipanggil pulang."
Kini, Velinovac tak lagi disebut di dokumen resmi mana pun. Ia hanya hidup dalam mimpi buruk, dalam getar suara radio yang tiba-tiba menghilang, atau dalam bisikan anak kecil yang bermain di halaman rumah dan bertanya:
"Apakah kamu pernah ke desa yang sunyi itu? Yang menara kapelnya berdiri tanpa bayangan?"
Narator berhenti menulis. Meja kayunya dingin. Lilin menyala, meski ia yakin tak pernah menyalakannya. Di luar, kabut mulai turun. Dan dalam kabut itu, kadang… terdengar suara langkah. Kadang… terdengar suara lonceng.
Dan kadang, ada nama yang dipanggil. Mungkin namamu. Mungkin milikku.
Mungkin, Velinovac belum selesai.
SELESAI
Komentar
Posting Komentar