The Lost Hour Tavern

Gambar
  Kata Pengantar Di suatu tempat yang tak tercatat di peta, di antara jalan-jalan sunyi Cotswolds yang dibalut kabut, berdirilah sebuah tavern tua—terlindung dari waktu, terlihat hanya oleh mereka yang kehilangan arah. Tavern itu tidak menjanjikan keajaiban, tapi menawarkan sesuatu yang lebih langka: ruang untuk duduk sejenak, menghela napas, dan menemukan kembali sesuatu yang hilang dari dalam diri. The Lost Hour Tavern adalah kumpulan dua puluh empat kisah dari jiwa-jiwa yang datang membawa luka, beban, atau sekadar keheningan yang terlalu berat untuk dipanggul sendirian. Mereka datang tak sengaja, namun selalu diterima. Ditemani oleh Mr. Thorne Ashwell yang bijak, dan Ellis sang penjaga diam penuh rahasia, para tamu itu menemukan kembali sebagian dari diri mereka—melalui percakapan, secangkir teh, atau sepotong roti hangat di dekat perapian. Buku ini bukan tentang jawaban, melainkan tentang perjalanan. Bukan tentang melupakan, tapi tentang mengingat kembali apa yang membuat kit...

Pelukis Tua



Bab 1 - Trotoar dan Warna-Warna yang Tersisa

Di bawah rimbun pohon trembesi yang menaungi trotoar Jalan Ir. H. Djuanda, seorang lelaki tua duduk bersila di atas tikar lusuh. Wajahnya keriput, tubuhnya kurus, tetapi tangannya masih cekatan menggoreskan kuas ke atas kanvas. Namanya Wirya Sutisna, pelukis jalanan yang telah menjadi bagian dari denyut kota Bogor.

Setiap pagi, selepas subuh dan secangkir kopi hitam buatan istrinya, Nining Rahmasari, Wirya berjalan pelan dari rumah mereka yang sederhana di gang sempit tak jauh dari Kebun Raya. Dengan membawa gulungan kanvas, tas berisi cat minyak, dan bangku kecil, ia menuju tempat yang telah menjadi "studionya" selama lebih dari dua dekade.

Beberapa orang menyapanya. "Pagi, Mamang! Masih semangat?" seru Mang Ujang, penjual bajigur keliling.

Wirya tersenyum, memperlihatkan barisan gigi yang mulai tanggal. "Masih, Mang. Selagi tangan belum gemetar."

Mang Ujang tertawa. "Lukisan Mamang yang dulu tentang pedagang keliling itu masih digantung di rumah saya, lho. Istri saya suka sekali."

"Terima kasih, Mang," jawab Wirya. Itu sudah cukup menjadi penyemangat.

Setelah menggelar peralatan, ia mulai melukis. Objeknya hari itu: seorang anak kecil yang sedang menunggu ibunya di halte. Dengan warna-warna lembut, ia menangkap cahaya pagi yang jatuh di wajah sang anak, menciptakan suasana yang penuh kehangatan.

Di belakangnya, bangunan kecil bercat putih berdiri sederhana: Galeri Wirya Sutisna. Nama itu dulunya nyaris dilupakan orang. Namun takdir membawanya pada titik balik.


Bab 2 - Nama yang Pernah Bersinar

Di tahun 1960-an hingga awal 1970-an, nama Wirya Sutisna tidak asing bagi kalangan seniman di Jakarta. Lukisannya pernah dipamerkan di Taman Ismail Marzuki, bahkan sempat menjadi perbincangan di antara kolektor Eropa yang terpikat oleh gaya realisme puitis yang ia usung.

Namun, suatu ketika ia memilih diam. Meninggalkan ingar-bingar dunia seni rupa ibukota dan kembali ke kota kelahirannya. Tak banyak yang tahu alasannya. Bahkan istrinya, Nining, hanya tahu sepenggal dari luka batin yang membawanya pulang.

"Aku lelah berpura-pura tertawa pada dunia yang hanya peduli pada harga, bukan jiwa," kata Wirya padanya suatu malam.

Sejak saat itu, ia hanya melukis untuk dirinya. Untuk Nining. Untuk pagi-pagi di Bogor yang basah. Untuk wajah-wajah sederhana yang lewat di depan kantor pos.


Bab 3 - Arga dan Titik Balik

Arga, keponakan jauh dari keluarga Nining, bekerja sebagai desainer grafis di Jakarta. Suatu akhir pekan, ia datang mengunjungi mereka. Saat melihat tumpukan lukisan yang disimpan dalam kamar belakang rumah, ia tertegun.

"Mamang tahu nggak, ini bisa jadi pameran tunggal yang luar biasa?"

Wirya hanya tersenyum samar. "Siapa yang peduli pada pelukis tua, Ga?"

Namun Arga tak menyerah. Ia mengambil beberapa foto karya Wirya dan menunjukkannya pada seorang kliennya di Jakarta, seorang kolektor seni asal Belanda bernama Mr. Hendrik van Cleef.

Tiga minggu kemudian, Hendrik datang sendiri ke Bogor. Ia berdiri lama di depan lukisan-lukisan yang digelar di ruang tamu sempit itu.

"Mr. Sutisna," katanya, "karya Anda menangkap jiwa Indonesia. Saya ingin membeli dua lukisan ini. Dan jika Anda berkenan, saya bersedia mendanai sebuah galeri kecil di kota ini."

Lukisan yang dibeli: Senja di Pasar Anyar dan Gadis Penjual Melinjo. Harga: 15.000 Euro. Cukup untuk membuka pintu baru bagi kisah lama yang nyaris dilupakan.


Bab 4 - Galeri di Tengah Kota

Galeri Wirya Sutisna dibuka enam bulan kemudian. Bangunannya berdiri sederhana namun elegan di belakang lokasi biasa Wirya melukis, tak jauh dari kantor pos. Ada taman kecil, kursi panjang dari kayu jati, dan ruang utama yang terang.

Hari pembukaan, puluhan orang datang. Beberapa adalah seniman muda, beberapa wartawan lokal, dan sisanya rakyat kecil yang selama ini mengenal Wirya hanya sebagai "pelukis tua di trotoar."

"Mamang, sekarang sudah punya rumah karya," ujar Mang Ujang sambil menyeruput bajigur.

Wirya mengangguk. "Tapi tetap, rasanya lebih nyaman melukis di bawah pohon itu."

Seorang wanita dari kantor pos, Rina, menyelipkan komentar, "Pak Wirya, saya dulu sering curi-curi lihat saat Bapak melukis. Lukisan tentang bapak-bapak pos itu luar biasa."

Wirya tersenyum. “Itu untuk kalian yang tiap hari berjuang dalam diam."


Bab 5 - Makan Siang Bersama Nining

Rutinitas tak berubah. Setiap siang, Nining datang ke galeri membawa bekal. Mereka duduk di taman kecil belakang galeri, di bawah naungan pohon mangga.

Menu hari itu: nasi hangat, ikan peda goreng, sambal terasi, sayur asem, dan tahu goreng. Lengkap dengan lalapan daun kemangi dan timun.

"Inget nggak, waktu pertama kali aku masak peda, kamu batuk-batuk?" goda Nining.

Wirya tertawa. "Tapi tetap aku habiskan. Karena waktu itu aku lagi jatuh cinta sama juru masaknya."

Nining tersipu. "Kamu masih jatuh cinta nggak sekarang?"

Wirya meletakkan sendok, memandang istrinya yang kini rambutnya sudah memutih. "Setiap kali kamu datang bawa makanan, rasanya aku jatuh cinta lagi


Bab 6 - Jejak Kecil, Suara Besar

Galeri mulai menarik pengunjung. Bukan hanya pecinta seni, tapi juga anak-anak sekolah, mahasiswa, bahkan pengamen jalanan.

Dede, anak SMP yang sering nongkrong di pelataran, pernah bertanya, "Pak, gimana caranya biar bisa jadi pelukis kayak Bapak?"

"Jangan takut salah," jawab Wirya. "Lukisan yang baik bukan yang sempurna, tapi yang jujur."

Suatu hari, sebuah media nasional menurunkan artikel: Pelukis Tua Bogor dan Galeri Rakyatnya. Sejak itu, galeri tak pernah sepi.


Bab 7 - Surat-Surat di Balik Kanvas

Di satu sore yang lembap, Arga menemukan tumpukan kanvas lama yang belum selesai. Di belakangnya, ada catatan kecil dari Nining. Pesan-pesan singkat, kadang puisi, kadang hanya pengingat.

"Untuk lukisan ini, semoga kamu tidak lagi merasa sendiri." "Kalau kamu capek, berhenti sebentar. Tapi jangan berhenti bermimpi."

Arga menangis diam-diam. Ia memotret catatan-catatan itu dan mencetaknya menjadi katalog kecil.

"Ini bukan sekadar lukisan, Mamang. Ini cinta."

Wirya hanya memandang Nining, lalu menggenggam tangannya erat. "Aku tidak akan pernah berhenti melukis. Selagi kamu masih di sini."


Bab 8 - Warna yang Abadi

Di usia 82 tahun, Wirya masih duduk di trotoar. Kadang tangannya gemetar, tapi setiap garis yang ia buat terasa hidup. Galerinya kini juga menjadi tempat pelatihan anak-anak muda yang ingin belajar melukis tanpa biaya.

Mr. Hendrik kembali datang, kali ini bersama kurator dari Amsterdam. Mereka ingin membawa pameran keliling karya-karya Wirya ke Eropa.

"Satu lukisan yang baru, Pak Wirya. Tentang kota Anda dan cinta Anda pada seni," pinta sang kurator.

Wirya menatap langit sore Bogor. Lalu mengambil kanvas kosong.

"Akan kulukis," katanya, "tentang trotoar ini. Dan semua yang membuatku tetap di sini."

Dan dengan itu, warna-warni hidup yang nyaris redup kini bersinar kembali—bukan dengan gemerlap, tapi dengan kehangatan yang tak akan pudar.


Bab 9 - Lukisan Terjual, Kenangan Terbuka

Sore itu, langit Bogor menggantungkan awan kelabu. Udara lembap menyusup lewat celah-celah jendela galeri kecil yang tenang di Jalan Veteran. Lonceng pintu berdenting pelan saat Arga masuk, membawa tas ransel dan selembar kertas yang sudah agak kusut di tangannya.

"Pak Wirya... saya bawa kabar baik." Suaranya mengambang, seperti tak yakin apakah ini saat yang tepat.

Wirya, yang tengah duduk di kursi rotan menghadap lukisan yang belum selesai, menoleh perlahan. Kuas di tangannya menggantung di udara.

"Apa itu, Ga? Kau seperti anak kecil habis menang undian," ujarnya ringan.

Arga menyodorkan kertas itu. Kertas yang memuat artikel dari situs pelelangan seni internasional. Ada foto sebuah lukisan di sana — seorang perempuan duduk di teras rumah panggung dengan latar kebun pisang, mengenakan kebaya kuning dan selendang merah.

"Lukisan ini, Pak... ‘Perempuan di Teras’. Terjual di Amsterdam minggu lalu. Harga akhirnya... tiga puluh dua ribu euro."

Wirya diam. Matanya terpaku pada gambar itu, seperti menatap sesuatu yang sudah lama ia kubur dalam-dalam.

Nining yang mendengar dari belakang rak bunga, berjalan mendekat. Ia mengenali lukisan itu seketika.

"Itu... itu kan aku," katanya pelan, hampir berbisik.

Arga menoleh ke Nining. "Benar, Bu. Kolektor Belanda yang dulu membelinya — Tuan Henk van Dolder— ternyata menyimpannya selama hampir empat dekade. Katanya, itu salah satu koleksi favoritnya. Tapi dia wafat dua bulan lalu, dan keluarganya melelang seluruh koleksinya."

Wirya meletakkan kuasnya. Tangannya sedikit gemetar. Ia menatap lukisan itu seperti menatap masa lalu yang datang tak diundang, membawa aroma kayu tua, keringat sore, dan debur hati muda.

"Aku melukis itu tahun ‘72. Kau masih muda waktu itu, Ning. Kau ingat?"

Nining tertawa kecil, duduk perlahan di kursi rotan di sebelahnya. "Ingat. Aku rewel. Katamu, duduk di teras saja, jangan ke mana-mana. Lalu kau bilang aku harus diam setengah jam agar lukisanmu tidak ‘berubah mood’."

Arga tersenyum menyimak percakapan mereka, lalu pamit ke dapur, memberi ruang pada nostalgia yang mulai turun perlahan seperti hujan tipis di sore yang sepi.

"Kau bilang... kalau anak kita perempuan, akan kau beri nama Laras, karena nadanya lembut seperti senyuman di lukisan itu," lanjut Nining.

Wirya mengangguk, perlahan. "Tapi Tuhan memberi kita lelaki, dan dia meninggalkan kita terlalu cepat."

Keheningan menggantung. Tapi bukan yang menyakitkan. Seperti selimut tipis yang menyelimuti luka lama, bukan untuk menutupi, tapi untuk meredakannya.

Beberapa menit mereka duduk dalam diam. Hanya bunyi hujan dan aroma tanah basah yang bicara.

"Kau tahu, Ning... kadang aku merasa lukisan itu bukan tentang kamu, tapi tentang kita yang nyaris bahagia."

Nining menoleh, tatapannya lembut. "Kita bahagia, Wir. Cuma tidak panjang. Tapi cukup."

Ia menggenggam tangan Wirya, yang kasar dan dingin. "Dan kamu masih melukis. Itu berarti, kamu belum selesai mencintai dunia."

Mereka duduk begitu saja, dalam ruang galeri kecil yang dikelilingi kanvas dan bingkai kayu. Arga kembali membawa dua cangkir teh dan piring kecil berisi rengginang dan pisang goreng kiriman Amah, seperti biasa setiap sore.

"Pak... Bu... saya usul. Bagaimana kalau kita cetak ulang lukisan ini? Untuk dipajang di galeri, tentu dengan keterangan aslinya. Orang-orang harus tahu, lukisan ini pernah dibuat di kota kecil ini. Di rumah yang kita tinggali."

Wirya hanya mengangguk. Tapi di matanya ada sesuatu yang hangat — seperti api kecil yang mulai menyala kembali.

"Boleh. Tapi bukan cuma itu," katanya kemudian. "Aku ingin mulai lagi. Melukis potret, tapi kali ini wajah-wajah yang sering kita temui di sini."

"Maksud Bapak?"

"Pak Dasta si tukang becak. Amah dengan bakul pisangnya. Rina dari kantor pos. Wajah-wajah kota ini. Mereka bagian dari hidup kita, kan? Kalau orang luar mau membeli kenangan kita, kita harus mengabadikan yang belum sempat mereka lihat."

Nining tersenyum. Tangannya menyentuh lengan suaminya.

"Lukisan tentang yang nyata. Tentang mereka yang tak pernah merasa penting, tapi sesungguhnya jadi bagian dari hidup kita setiap hari."

Dan sore itu, di tengah gemuruh hujan yang perlahan reda, galeri kecil di Jalan Veteran terasa sedikit lebih besar dari biasanya. Bukan karena luasnya berubah, tapi karena ruang di dalam hati mereka mulai terbuka kembali.


Bab 10 - Galeri dalam Hujan

Hari itu hujan turun perlahan sejak siang, merembeskan aroma tanah basah dan udara lembap ke dalam galeri. Tak banyak pengunjung yang datang. Galeri tampak lengang, nyaris hening jika bukan karena suara rintik hujan di atap seng dan jendela kaca. Di sudut ruangan, Nining sedang menata vas bunga berisi kenanga dan melati segar, diletakkannya di dekat lukisan “Senja di Kebun Raya” yang mulai memudar warnanya.

Wirya duduk di dekat jendela, memandangi halaman luar yang becek, sambil sesekali menyeruput teh hangat. Di atas pangkuannya terbuka sketsa wajah Pak Dasta—si tukang becak tua yang sering mangkal di ujung Jalan Suryakencana. Wajah yang keriput, namun penuh keteguhan.

“Pak Dasta bilang, sejak istrinya meninggal, dia tidur di becaknya. Tidak betah di rumah kosong,” kata Nining lirih, duduk di seberangnya.

Wirya mengangguk pelan. “Orang seperti dia harus diabadikan. Mereka bagian dari denyut kota ini.”

Beberapa minggu sebelumnya, Nining mengusulkan sebuah kegiatan yang perlahan menjadi tradisi baru: Ngopi Sore di Galeri. Bukan hanya pameran lukisan, melainkan ruang bertukar kisah dan rasa. Ada yang membaca puisi, menyanyi dengan gitar, atau sekadar duduk di tangga galeri sambil menyeruput kopi tubruk dan makan singkong goreng.

Kadang, Amah datang membawa pisang goreng panas di tampah kecil. Wanita sepuh itu tinggal di gang belakang, sudah lama menjanda. Ia suka tertawa kecil setiap kali Wirya menegurnya, “Terima kasih, Bu Amah. Pisangnya selalu lebih manis dari biasanya.”

“Bukan pisangnya, Pak Wirya. Yang manis itu suasananya,” jawab Amah sambil menepuk-nepuk lututnya.

Lukisan-lukisan baru mulai menghiasi dinding galeri. Potret wajah-wajah akrab di lingkungan mereka: Pak Dasta dengan becaknya yang tua, Amah dengan kerudung batiknya, Tati si penjual lotek yang saban hari mangkal di pojok gang, hingga Herman, petugas kebersihan yang setiap pagi menyapu dedaunan di trotoar.

Setiap lukisan dilengkapi narasi singkat di bawahnya—kisah mereka dalam kalimat yang jujur dan bersahaja. Galeri yang dulu dianggap sunyi, kini menjadi ruang bernafas bagi banyak orang.

Suatu sore, saat hujan belum reda dan kopi masih mengepul di cangkir, datang seorang anak muda membacakan puisinya tentang ibunya yang menjual jamu keliling. Beberapa pengunjung menitikkan air mata.

Wirya mendengarkan sambil mencatat baris-baris puisi itu dalam buku sketsanya. “Lukisan tak selalu harus dari mata,” katanya kepada Nining malam itu. “Kadang dari suara. Dari cerita.”

Dan hujan pun terus turun, seolah menjaga semua cerita itu tetap hidup dalam kehangatan galeri kecil di kota tua.


Bab 11 - Musim Baru

Musim kemarau membawa langit biru bersih di atas kota Bogor. Angin bertiup tenang, seolah turut menjaga keheningan yang selalu menyelimuti Galeri Wirya pada pagi hari. Di teras depan, suara sapu lidi terdengar ritmis. Nining menyapu pelataran dengan telaten. Aroma kopi hitam mengepul dari dapur, menyusul harumnya kue-kue basah yang dia siapkan untuk "Ngopi Sore" nanti.

Galeri kecil itu perlahan dikenal banyak orang. Arga, dengan jaringan seni dan koneksi media, telah membantu mengangkat nama Wirya kembali ke permukaan. Pagi itu, datang undangan resmi dari sebuah sekolah seni di Jakarta untuk mengadakan diskusi bersama para mahasiswa dan dosen seni rupa. Tak hanya itu, mereka juga ingin menampilkan beberapa lukisan Wirya dalam pameran tematik bertajuk “Wajah Kota Kecil”.

Wirya, yang sedang duduk melukis di ruang utama galeri, diam sejenak membaca surat itu. Ada senyum kecil di wajah tuanya, tapi juga keraguan samar.

"Kalau mereka minta Mamang bicara di depan anak-anak muda, jangan-jangan mereka kecewa," katanya lirih sambil menyerahkan surat itu ke Nining.

"Mereka ingin mendengar kisahmu, bukan ceramah dari profesor," jawab Nining sambil mengusap bahunya dengan lembut.

Kabar itu menyebar cepat. Beberapa jurnalis muda datang mewawancarainya. Kamera, mikrofon, dan laptop muncul di ruang galeri yang dulu hanya penuh tumpukan kanvas dan cat. Wirya tetap seperti biasa — tak banyak bicara, lebih banyak tertunduk dan tersenyum, kadang menjawab pelan.

Namun perubahan yang lebih besar datang dari warga sekitar. Semenjak Wirya mulai melukis wajah-wajah mereka, banyak yang datang hanya untuk melihat potret dirinya terpajang. Potret Pak Dasta si tukang becak, duduk santai di bawah pohon; potret Amah si penjual pisang goreng, lengkap dengan keranjang anyamannya; bahkan potret anak-anak kecil yang suka main bola di gang belakang.

"Ini bukan cuma galeri, ini cermin kita," kata Rina, pegawai kantor pos yang kini jadi pengunjung rutin.

Suatu sore, saat "Ngopi Sore" tengah berlangsung, seorang guru seni dari Jakarta berdiri kagum di depan potret-potret warga itu.

"Pak Wirya, ini seperti catatan sosial yang sangat jujur dan intim. Boleh kami ajak mahasiswa datang setiap Sabtu? Belajar langsung dari Bapak?"

Wirya mengangguk, namun Nining yang langsung menyambut, "Silakan, asal mereka mau bantu bersih-bersih juga, ya."

Mulai Sabtu berikutnya, galeri itu dipenuhi anak muda. Ada yang datang dengan pensil dan buku sketsa, ada pula yang hanya duduk memandangi lukisan sambil mencatat. Wirya tak mengajar secara resmi. Ia hanya melukis seperti biasa, dan siapa pun boleh duduk di dekatnya, memperhatikan setiap sapuan kuas.

Namun, di balik semua itu, Nining melihat sesuatu yang tak semua orang tahu. Wirya kerap kelelahan. Malam-malam dia terbangun karena tangannya kram. Kadang dia duduk lama di dapur, memijat lutut sambil termenung.

"Kamu bisa minta mereka bantu lebih banyak," bisik Nining suatu malam.

"Bukan itu yang bikin Mamang lelah," sahut Wirya. "Ini lelah yang bahagia. Tapi tetap lelah."

Nining menatap suaminya. Di wajah yang penuh keriput itu, masih tampak cahaya yang dulu memikatnya — ketenangan, kerja keras, dan cinta tanpa banyak kata.


Bab 12 - Garis Terakhir

Musim hujan mulai menyapa kembali kota Bogor. Hujan turun deras hampir tiap sore, membawa aroma tanah basah dan nostalgia yang sunyi. Galeri Wirya tetap buka, meski lebih sering sepi. Tapi justru dalam kesunyian itu, sebuah karya besar lahir.

Wirya mulai mengerjakan sebuah lukisan berukuran sangat besar. Kanvas setinggi dua meter dipasang di dinding barat ruang utama galeri. Tak ada yang tahu apa yang sedang ia lukis. Ia menutupinya dengan kain setiap selesai melukis.

"Ini potret kota, tapi bukan tentang gedungnya," jawabnya pelan saat Arga bertanya.

Ia melukis tiap hari, dari pagi sampai menjelang malam. Satu per satu, wajah-wajah yang dulu ia lukis secara terpisah, kini dimasukkan dalam satu panorama besar: Pak Dasta sedang mendorong becaknya, Amah tengah menata pisang goreng, anak-anak kecil main karet di gang. Di sudut kanan bawah, ada Nining berdiri di teras, memegang secangkir teh.

"Ini kota kecil kita. Lengkap dengan kesederhanaan dan orang-orangnya," ujar Wirya.

Pada malam terakhir pengerjaan, hujan turun sangat lebat. Galeri sepi. Hanya ada suara rintik hujan dan radio kecil yang memutar lagu keroncong lawas. Nining duduk di kursi kayu, memandangi suaminya yang sedang menyelesaikan sapuan akhir.

Saat ia meletakkan kuas, Wirya berdiri diam, menatap lukisan itu. Ia tidak berkata apa pun. Nining berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya.

"Selesai?" bisiknya.

"Belum. Tapi cukup."

Mereka duduk berdua di lantai kayu galeri yang masih lembap. Malam itu, tak ada selebrasi, tak ada tepuk tangan. Hanya keheningan yang dalam dan senyum kecil di wajah Wirya.

Beberapa hari kemudian, Arga datang membawa bingkai khusus dan tim kecil untuk membantu menggantung lukisan itu secara permanen. Ia berdiri lama di depannya, lalu memotret.

"Ini bukan cuma lukisan," katanya pelan. "Ini warisan."

Wirya hanya tersenyum. Ia tidak ingin menjual lukisan itu. Ia meminta Arga menyimpannya jika nanti galeri harus tutup. Arga mengangguk.

Dalam beberapa bulan setelah itu, Wirya tidak banyak melukis lagi. Ia lebih sering duduk di bangku depan, menyapa orang-orang, atau menemani Nining menyusun bunga. Kadang dia masih menerima tamu, kadang hanya duduk diam.

Galeri kecil itu tetap berdiri, mungkin tak akan pernah megah, tapi ia hidup dalam ingatan banyak orang. Bukan karena kemewahan, tapi karena ketulusan dan kehangatan manusia di dalamnya.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Declan & Grace (Sebuah Cinta yang Tak Terlihat, Tapi Nyata)

Seporsi Rasa, Semangkuk Cinta

Musim Panas Terakhir Kita