The Lost Hour Tavern

Gambar
  Kata Pengantar Di suatu tempat yang tak tercatat di peta, di antara jalan-jalan sunyi Cotswolds yang dibalut kabut, berdirilah sebuah tavern tua—terlindung dari waktu, terlihat hanya oleh mereka yang kehilangan arah. Tavern itu tidak menjanjikan keajaiban, tapi menawarkan sesuatu yang lebih langka: ruang untuk duduk sejenak, menghela napas, dan menemukan kembali sesuatu yang hilang dari dalam diri. The Lost Hour Tavern adalah kumpulan dua puluh empat kisah dari jiwa-jiwa yang datang membawa luka, beban, atau sekadar keheningan yang terlalu berat untuk dipanggul sendirian. Mereka datang tak sengaja, namun selalu diterima. Ditemani oleh Mr. Thorne Ashwell yang bijak, dan Ellis sang penjaga diam penuh rahasia, para tamu itu menemukan kembali sebagian dari diri mereka—melalui percakapan, secangkir teh, atau sepotong roti hangat di dekat perapian. Buku ini bukan tentang jawaban, melainkan tentang perjalanan. Bukan tentang melupakan, tapi tentang mengingat kembali apa yang membuat kit...

Jimmu: Kelahiran Sang Kaisar Matahari

 


Kata Pengantar

Cerita yang akan Anda baca ini adalah sebuah perjalanan melintasi waktu, menyusuri jejak-jejak kuno yang tertulis dalam teks-teks klasik Jepang seperti Kojiki dan Nihon Shoki. Namun, jangan anggap ini semata-mata catatan sejarah—kisah ini adalah fiksi sejarah, yang berani menggabungkan fakta dan imajinasi dalam satu alur yang hidup dan penuh warna.

Lewat narasi ini, saya mencoba menghadirkan kembali sosok Jimmu dan zaman purba yang melingkupinya, bukan hanya sebagai legenda, melainkan sebagai jiwa-jiwa yang berjuang, bertempur, dan berkorban demi membentuk masa depan. Di antara bait-bait cerita, Anda akan menemukan gema sejarah yang tersamar, berpadu dengan sentuhan spiritual dan petualangan yang membangkitkan semangat.

Tulisan ini lahir dari keingintahuan yang mendalam dan rasa hormat terhadap budaya yang telah melahirkan sebuah bangsa. Ia adalah penghormatan sekaligus membuka terhadap kemungkinan—kemungkinan bahwa sejarah bukan hanya apa yang tercatat, tetapi juga apa yang kita bayangkan dan rasakan sebagai manusia.

Selamat menelusuri kisah yang mengaburkan batas antara nyata dan mitos, antara waktu yang lalu dan masa depan yang menunggu. Biarkan cerita ini membuka pintu bagi imajinasi Anda, dan membiarkan sejarah serta fiksi berpadu menjadi satu.


Sinopsis

Edward, seorang profesor paruh baya dari Oxford, menerima surat dari sahabat lamanya, Profesor Hiroshi, tentang penemuan reruntuhan kuil tua yang tidak tercatat dalam sejarah resmi Jepang. Tertarik oleh kemungkinan hubungan kuil itu dengan mitos kuno, Edward terbang ke Jepang—tidak menyangka bahwa perjalanan akademiknya akan berubah menjadi petualangan melintasi waktu.

Bersama Riku, mahasiswa yang menemaninya dalam ekspedisi, Edward secara tak sengaja terbawa ke masa lalu. Bukan ke abad ke-7 seperti yang ia duga, melainkan ke masa jauh sebelum sejarah tertulis: era legendaris Jimmu, yang kelak dikenal sebagai Kaisar pertama Jepang. 

Di dunia yang masih liar dan belum bernama, Edward bertemu dengan Jimmu muda—pemuda keras kepala yang perlahan menemukan panggilannya sebagai pemimpin. Seiring waktu, Edward tak lagi hanya menjadi pengamat; ia terlibat dalam konflik, persahabatan dan pergolakan batin yang membawanya pada satu pertanyaan besar: apakah takdir bisa diubah, atau justru sedang digenapi?

Ketika akhirnya kembali ke masa kini, Edward menuliskan kisah itu sebagai fiksi—sebuah makalah aneh berjudul The Birth of a Divine Emperor. Dunia akademik terbagi: sebagian menertawakannya, sebagian mengaku tergugah. Tapi Edward tahu, sejarah bukan hanya soal kebenaran tertulis, melainkan juga gema dari sesuatu yang lebih dalam.

Dan bila suatu saat seseorang bertanya padanya,
"Apakah itu sungguh terjadi?"
Ia akan menjawab:
"Apa pun yang mengubah caramu melihat dunia, layak disebut nyata"



Bab 1 – Surat dari Timur

Kabut tipis menyelimuti kampus tua di sudut barat Oxford pada siang itu. Angin musim gugur berhembus lembut melewati jendela tinggi bergaya gotik, menggerakkan tirai kanvas warna tanah yang telah memudar oleh waktu. Di balik jendela itu, tersembunyi ruang kerja kecil di lantai tiga Gedung St. John’s College—ruangan yang tak pernah benar-benar rapi, milik seorang pria yang hidup setengah di dunia sekarang dan setengah di dunia yang sudah ribuan tahun lalu terkubur tanah.

Dr. Edward Albright, lelaki berusia lima puluh empat tahun dengan rambut abu-abu yang tak beraturan dan kacamata bundar antik, sedang duduk di balik meja kayu ek tua yang penuh buku, peta, dan artefak kecil dari berbagai penjuru Asia Timur. Dinding di belakangnya dihiasi sketsa kuil-kuil Shintō, cetakan lukisan ukiyo-e, dan potret hitam-putih para arkeolog Jepang abad ke-19 yang ia kagumi. Di atas rak, berdiri rapi tumpukan monograf tentang budaya Yayoi dan Jōmon, sementara satu rak khusus memuat salinan berbagai terjemahan klasik, termasuk satu eksemplar tua Kojiki—diterjemahkan oleh D. L. Philippi tahun 1968, dengan pinggiran halaman yang mulai menguning.*

Sore itu, Edward menyantap makan siangnya di meja kerja, seperti biasa. Sepiring sandwich keju cheddar dan acar bawang putih, seporsi kecil salad air rocket dengan balsamic vinegar, dan secangkir teh Assam hitam yang kini tinggal separuh, mengepul pelan dalam cangkir porselen bergambar burung bangau. Di sebelah cangkir, amplop gading dengan perangko Jepang tampak belum dibuka.

Ia menatap surat itu cukup lama, seperti seseorang yang menatap mimpi yang hampir ia lupakan. Dikirim oleh Prof. Hiroshi Takamura, rekannya di Universitas Tōhoku, surat itu datang tanpa pemberitahuan sebelumnya—dan itu membuatnya lebih menarik. Prof. Takamura bukan orang yang suka basa-basi, dan tak pernah mengirim surat fisik kecuali ada sesuatu yang benar-benar penting.

Edward mengambil pisau kertas dari laci, lalu menyayat tepi amplop dengan hati-hati. Di dalamnya, hanya selembar kertas berisi tulisan tangan halus dalam bahasa Inggris:

Dear Edward,

Sesuatu telah ditemukan di wilayah Shinano. Sebuah reruntuhan kuil, tidak tercatat di naskah manapun yang kami punya—baik di Nihon Shoki maupun Kojiki. Struktur dan artefak yang kami temukan mendahului gaya Yamato yang dikenal. Tapi yang paling aneh adalah simbol-simbol di altar: tak satu pun cocok dengan sistem penulisan manapun.

Aku pikir ini akan menarik bagimu. Jika kau punya waktu, datanglah. Kami akan menunggumu di desa kecil dekat Suwa.

H. Takamura

Edward membacanya dua kali. Tangannya berhenti sejenak di atas surat, sementara pikirannya terbang jauh ke tahun-tahun kuliahnya, ke kenangan tentang lukisan kuno di museum Nara yang menggambarkan keturunan Amaterasu menuruni tangga awan ke bumi. Ia adalah arkeolog, ya, tapi di dalam dirinya masih tinggal anak kecil yang pernah percaya pada mitos.

"Shinano... Suwa..." gumamnya pelan.

Ia mengeluarkan peta Jepang dari laci bawah, membentangkannya di atas meja. Jari telunjuknya menyusuri pegunungan tengah pulau Honshū, lalu berhenti di Danau Suwa, dikelilingi perbukitan dan hutan cemara tua. Itu wilayah tua. Wilayah yang bahkan di zaman Heian masih disebut liar.

Matanya mulai berbinar, seperti obor kecil yang kembali menyala setelah bertahun-tahun hanya menjadi bara.

Ia melirik jam dinding. Sudah hampir pukul dua siang. Ia meneguk sisa tehnya, menaruh peta ke dalam tas kulit usang, lalu berdiri. Di tangannya masih tergenggam surat itu—lembaran kecil yang mungkin akan mengubah seluruh hidupnya.

Catatan kaki:

Kojiki – Teks kuno Jepang
Ukiyo-e – Lukisan atau cetakan balok kayu dari Jepang zaman Edo yang menggambarkan kehidupan      sehari-hari, lanskap, dan dunia hiburan.
Zaman Yayoi – Periode budaya Jepang (sekitar 300 SM – 300 M) yang ditandai dengan pertanian            padi, logam, dan keramik halus.
 Zaman Jōmon – Periode prasejarah Jepang (sekitar 14.000 – 300 SM), dikenal karena budaya pemburu-pengumpul dan keramik bermotif tali (jōmon berarti “tali bermotif”).


Bab 2 – Kuil yang Terlupakan

Langit di atas London tampak kelabu ketika Dr. Edward Albright menaiki taksi yang akan membawanya ke Bandara Heathrow. Kabut tipis mengambang di atas jalanan basah, dan musim semi tampak ragu menyapu sisa-sisa dingin musim dingin. Di kursi belakang taksi, Edward menggenggam paspor dan tiketnya, matanya memandangi arloji tua miliknya—warisan ayahnya yang juga seorang sejarawan. Ada ketegangan yang samar di raut wajahnya, bukan karena takut terbang, tetapi karena surat yang dikirimkan oleh Prof. Hiroshi beberapa hari lalu terus berputar dalam benaknya. Sebuah reruntuhan kuil kuno yang tidak tercatat dalam dokumen manapun? Di Shinano? Sebuah wilayah yang selama ini dianggap hanya memiliki situs Yayoi biasa?

Bandara Heathrow, seperti biasa, ramai. Deru mesin, suara pengumuman, dan langkah kaki silih berganti menciptakan simfoni urban yang membuat Edward merasa kecil namun juga terhubung dengan dunia yang lebih besar. Setelah melalui proses imigrasi dan pemeriksaan keamanan, ia duduk di lounge, menyesap kopi dan membaca ulang catatan yang dikirim Hiroshi. Gambar hitam-putih dari pilar batu dan relief aneh membuatnya mengerutkan kening. "Ini bukan gaya Yayoi," gumamnya pelan. "Lebih tua... atau lebih asing."

Penerbangan menuju Tokyo memakan waktu hampir dua belas jam. Di pesawat, Edward sempat berbincang dengan pramugari Jepang yang terkejut mendengar tujuannya bukan Tokyo atau Kyoto, tetapi Nagano. Ia menjelaskan bahwa ia seorang arkeolog dan hendak bertemu seorang profesor Jepang yang telah menemukan sesuatu yang luar biasa. Mereka menyuguhkan makanan khas Jepang di atas pesawat: teriyaki salmon (ikan salmon panggang dengan saus manis), gohan (nasi putih), miso shiru (sup miso), dan potongan kecil tsukemono (acar sayuran Jepang). Rasa asing di lidah Edward justru memperkuat rasa antisipasi dalam dirinya.

Setibanya di Bandara Haneda, malam telah turun. Lampu-lampu kota Tokyo menyala seperti bintang-bintang buatan manusia. Bandara tampak bersih, tertata rapi, dengan bau samar kayu dan logam yang khas. Di area kedatangan, Edward melihat seorang pria paruh baya berbaju jas abu-abu melambai padanya dengan hangat. Itu Prof. Hiroshi Takamura, dengan senyum lebar dan sorot mata tajam milik seorang peneliti sejati. Di sampingnya, berdiri seorang pemuda berambut hitam sedikit acak-acakan dan mengenakan ransel lusuh.

"Dr. Albright? Selamat datang di Jepang!" sapa Hiroshi.

"Edward, please," katanya sambil menjabat tangan profesor itu.

"Ini Riku Yamazaki, mahasiswa magister saya. Dia akan ikut bersama kita ke lokasi," kata Hiroshi.

Riku membungkuk sedikit. "Hajimemashite, Edward-san."

"Nice to meet you, Riku."

Perjalanan dari Haneda menuju hotel mereka memakan waktu hampir satu jam dengan mobil sewaan. Dari jendela, Edward mengamati gedung-gedung modern Tokyo bercampur dengan papan nama tradisional yang menggunakan aksara kanji. Mereka menginap di sebuah ryokan (penginapan tradisional Jepang) kecil di Shinjuku. Kamar Edward dilapisi tikar tatami, dan di tengah ruangan ada futon (kasur gulung khas Jepang) yang telah disiapkan. Di sudut, sebuah teko keramik dan dua cangkir teh hijau masih mengepulkan uap.

Sebelum tidur, mereka bertiga makan malam di sebuah restoran kecil tidak jauh dari ryokan. Hiroshi memesan kaiseki (hidangan multi-lauk Jepang yang artistik): ada sashimi (irisan ikan mentah), nimono (sayuran dan daging rebus), yakimono (ikan bakar), dan sunomono (salad asam). Edward mengunyah perlahan, mencoba mengenali rasa-rasa halus yang belum pernah ia alami. Malam itu, pembicaraan mereka dipenuhi dengan spekulasi: apakah kuil itu benar-benar lebih tua dari Yayoi? Apa mungkin ini jejak budaya yang belum pernah tercatat?

Edward tidur nyenyak malam itu, dibuai suara angin yang menyusup lewat celah kertas shoji dan aroma kayu hinoki dari lantai. Esok hari, mereka akan menempuh perjalanan ke pedalaman Shinano. Ia tidak tahu, bahwa langkah-langkah kecil menuju kuil yang terlupakan itu akan membawanya jauh lebih dalam dari sekadar sejarah: ke sebuah masa yang tidak seharusnya bisa dijelajahi manusia.

Pagi datang dengan kabut tipis yang menggantung di atas desa pegunungan. Dr. Edward duduk di lantai tatami (lantai tradisional Jepang berbahan jerami) ryokan-nya, menyeruput teh hijau hangat sambil menatap taman kecil yang dihiasi batu-batu lumut dan kolam koi. Waktu baru menunjukkan pukul enam, tapi pikirannya sudah melayang jauh—ke kuil yang belum bernama, dan ukiran-ukiran yang belum tercatat.

Setelah sarapan khas Jepang—nasi putih, sup miso (sup fermentasi kedelai), ikan panggang, dan tamago (telur gulung manis)—ia naik ke mobil bersama Prof. Hiroshi dan Riku. Mereka menempuh perjalanan sekitar dua jam ke arah barat laut, menyusuri lereng-lereng hutan cemara yang dalam dan lembab, hingga akhirnya jalan aspal berganti menjadi tanah berbatu.

"Ini wilayah Kunimi di Shinano," ujar Prof. Hiroshi. "Di sinilah laporan dari warga lokal pertama kali muncul. Katanya, setelah badai besar, sebagian lereng runtuh dan memperlihatkan semacam struktur batu.”

Mereka harus berjalan kaki sekitar tiga puluh menit melewati semak belukar dan pohon-pohon pinus tua sebelum sampai di sebuah dataran tersembunyi yang dikelilingi tebing alami. Di sana, berdiri puing-puing sebuah bangunan kuno—hanya tersisa fondasi batu, beberapa tiang patah, dan altar lapuk yang setengah terpendam tanah.

Dr. Edward melangkah pelan. Ia memeriksa fondasi, mencatat bentuk sudutnya yang tidak biasa.

“Ini bukan gaya Yamato biasa… terlalu simetris, dan ini—lihat lekuk altar ini, seperti motif lingkaran bertemu spiral.”

Riku menyisir bagian belakang altar, membersihkan lumut dengan tangan. Pandangannya terpaku pada sesuatu yang mengintip dari bawah akar kecil.

“Sensei... ada simbol aneh di sini,” ujarnya.

Edward mendekat. Sebuah ukiran mulai tampak: seekor burung gagak berkepala tiga, sayapnya membentuk lingkaran. Burung itu menghadap ke arah timur, dan di bawahnya, simbol-simbol geometris yang belum bisa langsung dikenali.

“Yatagarasu…” bisik Edward. “Tapi ini... bisa jadi lebih tua dari versi yang dikenal dalam mitologi.”

Riku menemukan celah kecil di bawah ukiran, seukuran telapak tangan. Ia menyentuhnya—dan terdengar suara pelan: klik.

Tiba-tiba tanah di depan altar bergetar halus, lalu bergeser, membuka celah sempit ke dalam tanah, bagai napas yang terpendam ribuan tahun.

Lorong batu berlapis lumut terbentang ke dalam kegelapan, nyaris tak terlihat ujungnya.

“Ini bukan reruntuhan biasa…” ucap Edward dengan napas tercekat. “Ini bisa jadi... jejak dari sesuatu yang bahkan belum dicatat dalam Kojiki.”

Lorong itu seakan menunggu.

Catatan kaki:

Yatagarasu – Burung gagak berkepala tiga dalam mitologi Jepang, dianggap sebagai pembimbing ilahi dan simbol kehendak langit. Dikenal membimbing Kaisar Jimmu menuju Yamato. 

Yamato Wilayah kuno yang kini dikenal sebagai Prefektur Nara, dianggap sebagai pusat awal peradaban Jepang dan asal mula dinasti kekaisaran. 


Bab 3 – Catatan dari Batu

Udara di lorong terasa berbeda—lembap, penuh aroma tanah tua dan bebatuan basah. Setiap langkah Edward dan Riku menggema lirih di koridor batu yang menurun, seolah membawa mereka lebih dalam ke perut waktu. Senter yang mereka bawa tak mampu sepenuhnya menghalau kegelapan, hanya menciptakan lingkaran cahaya yang menari di dinding-dinding berlumut.

Lorong itu tak tinggi; Edward harus sedikit membungkuk. Kadang mereka harus merunduk melewati cerukan-cekungan yang seperti diukir alam, kadang seperti tangan manusia purba. Tak ada suara selain napas mereka dan tetesan air dari langit-langit. Semakin dalam mereka masuk, suhu turun perlahan, membuat jaket tipis mereka tak cukup menahan dingin yang merayap.

Setelah hampir dua puluh menit berjalan dalam sunyi, lorong tiba-tiba melebar. Mereka memasuki ruang bundar selebar sekitar lima meter, dengan kubah batu rendah di atas kepala. Di tengah ruangan berdiri sebuah batu menhir persegi, tingginya hampir setinggi dada Edward, permukaannya halus namun berlumut tipis, seolah telah berdiri di sana selama ribuan tahun tanpa tersentuh manusia.

Di permukaan menhir itu, tampak ukiran—bukan aksara modern, tapi guratan-guratan purba dalam pola spiral dan garis sinar, mengarah ke pusat lingkaran seperti matahari. Di bawahnya, terukir simbol-simbol yang menyerupai bentuk aksara kanji awal atau mungkin katakana kuno, tetapi tampak lebih arkais—Edward belum pernah melihat bentuk semacam ini dalam koleksi manapun.

Ia mendekat. Jari-jarinya menyapu debu batu itu perlahan, menelusuri guratan. Riku diam di belakangnya, masih terengah setelah perjalanan dalam lorong yang panjang.

Edward mengeluarkan buku catatan kecil dari dalam jaketnya dan menyalakan lampu tambahan. Ia mulai menyalin bentuk-bentuk ukiran itu, tetapi satu baris menarik perhatiannya:

“Di masa ketika langit dan bumi belum berpisah, Amaterasu menurunkan sinarnya kepada para penjaga akar dunia.”

Ia terdiam. Napasnya tertahan. Itu kalimat yang menyerupai gaya bahasa teks Kojiki, namun dengan diksi yang berbeda.

“Lihat ini,” ucapnya pelan pada Riku. “Ini bukan hanya ornamen. Ini... silsilah atau semacam pesan.”

Di bawah tulisan itu, terukir nama-nama yang mengejutkan Edward: Amaterasu, Ninigi-no-Mikoto, Toyotama-hime, Ugaya Fukiaezu—dan terakhir: Iwarebiko, nama kecil Kaisar Jimmu.

Tubuh Edward merinding. Ia seolah sedang menyentuh naskah hidup dari legenda tertua Jepang. Ia tahu mitos-mitos ini—kisah keturunan dewa matahari yang menurunkan darahnya ke bumi, membentuk garis raja-raja Yamato—tetapi ini adalah bukti fisik. Catatan dari masa lampau yang seharusnya tidak mungkin ada dalam bentuk seperti ini.

Di bagian bawah menhir, terdapat ukiran simbol matahari dengan delapan pancaran cahaya. Edward menyentuhnya. Tidak terjadi apa-apa. Tapi ketika ia menekan lebih keras, terdengar suara klik, disusul desiran batu yang bergeser.

Sebuah celah terbuka di dinding sisi timur ruangan. Sebuah pintu batu terbelah perlahan, mengungkap lorong lain, sempit dan lebih gelap.

Edward dan Riku saling pandang. Tak perlu kata. Mereka melangkah masuk.

Lorong kedua terasa lebih tua. Ukiran-ukiran di dindingnya lebih kasar, lebih primitif. Namun di titik tertentu, dinding berubah menjadi halus, dan di sanalah mereka melihatnya—sebuah ruangan persegi kecil, di mana berdiri altar sederhana. Tidak ada patung, hanya batu persegi rendah dengan lonceng kecil tergantung di atasnya.

Kemudian, udara berubah.

Lampu mereka berkedip. Bau dupa samar mengisi udara, padahal tak ada yang terbakar. Dari sisi ruangan, perlahan muncul cahaya kehijauan—lalu, sosok itu muncul.

Ia tinggi, kurus, mengenakan jubah pendeta dengan pola matahari dan bulan. Rambut dan janggutnya putih panjang, mata setengah terpejam. Ia membawa tongkat kayu berhiaskan cincin dan jimat kertas kusam yang melambai pelan meski tak ada angin.

Riku mundur setapak. “Apa itu…?”

Edward menatap tak berkedip. “Inbe no Mitsunari,” ucapnya perlahan, seperti meyakinkan dirinya sendiri. “Pendeta kuno dari Yamato. Penjaga silsilah suci…”

Sosok itu berjalan menuju dinding di sisi ruangan, menyentuhkan tongkatnya ke batu. Sebuah simbol matahari kedua muncul, bersinar keemasan.

Dinding perlahan terbuka—pintu kedua.

Saat cahaya menyilaukan mengisi ruangan, sosok sang pendeta memalingkan wajahnya ke arah mereka. Matanya—tanpa pupil, seputih pualam—menatap Edward. Bibirnya bergerak, melafalkan kata yang hanya Edward yang bisa mendengarnya:

“Keturunan cahaya harus mengingat.”

Lalu sosok itu menghilang, seperti kabut tertiup angin yang tak terasa.

Edward jatuh terduduk. Tubuhnya gemetar. Bukan karena takut, tapi karena ia tahu—ia baru saja melintasi batas antara sejarah dan mitos. Dan di balik pintu kedua, mungkin bukan hanya peninggalan zaman… tapi masa lalu itu sendiri, yang masih hidup.

Catatan Kaki:

 Amaterasu Dewi matahari dalam mitologi Jepang, diyakini sebagai nenek moyang keluarga kekaisaran. 

Ninigi-no-MikotoCucu Amaterasu yang dikirim turun ke bumi untuk mengawasi dunia manusia, dipercaya sebagai pendiri garis keturunan kekaisaran Jepang. 

Toyotama-hime Dewi laut dan ibu dari Kaisar Jimmu, dikenal dalam mitologi Jepang sebagai pelindung yang berasal dari laut.

Ugaya Fukiaezu Ayah Kaisar Jimmu, merupakan keturunan dari dewa-dewi, namun lebih sedikit dikenal dalam teks-teks mitologi. 

Iwarebiko (Kaisar Jimmu) Kaisar pertama Jepang, pendiri dinasti Kekaisaran Jepang, diangkat menjadi simbol kekuasaan dan keberanian. 

Inbe no Mitsunari – Tokoh fiksi yang terinspirasi dari klan Inbe, keluarga pendeta dan ritualis penting dalam istana kekaisaran Jepang kuno. Mitsunari dalam cerita ini digambarkan sebagai penjaga rahasia warisan Amaterasu yang tertulis dalam batu.



Bab 4 – Simbol Tiga Warisan

Dengan langkah hati-hati, Edward dan Riku melangkah semakin jauh ke dalam lorong gelap yang baru saja mereka temukan. Udara terasa berat dan lembap, dengan bau tanah basah yang menyeruak, mengisi rongga dada mereka. Setiap langkah mereka dipenuhi dengan ketegangan, seolah-olah ruang itu sedang menunggu sesuatu—atau seseorang—untuk datang. Hening, kecuali suara gemericik air yang mengalir di kedalaman bawah tanah, membawa nuansa mistis yang menambah kesan ganjil pada perjalanan mereka.

Pencahayaan hanya berasal dari senter yang mereka pegang, menciptakan bayangan besar dan bergerak di sepanjang dinding yang lembap dan tertutup lumut. Lorong ini tampak seperti bagian dari kuil yang lebih besar, tersembunyi jauh di bawah tanah. Keterasingan dan keheningan membuat keduanya semakin merasa bahwa mereka sedang memasuki ruang yang lebih dari sekedar reruntuhan arkeologi. Tempat ini terasa hidup, penuh dengan energi kuno yang tidak bisa dijelaskan.

"Riku, apakah kau merasa ada yang aneh?" tanya Edward, sambil menyesuaikan arah cahaya senter yang dipancarkan ke dinding lorong. Riku hanya mengangguk pelan, matanya tajam menatap ke depan, seperti merasakan kehadiran yang tidak tampak oleh Edward. Sesekali Riku menghela napas panjang, seolah mencoba mengusir perasaan tidak nyaman yang mulai merayapi dirinya.

"Jangan khawatir, Profesor," jawab Riku dengan suara pelan, meskipun ada getaran ketegangan yang tak bisa disembunyikan dari suaranya. "Ini... tempat yang sangat tua. Bahkan orang-orang di sekitar sini jarang yang berani mendekat."

Setelah beberapa menit berjalan, mereka tiba di sebuah ruangan besar yang tampaknya menjadi pusat dari kuil ini. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan ukiran-ukiran kuno yang menggambarkan makhluk-makhluk yang tampaknya merupakan dewa-dewa atau roh. Namun, tidak ada ruang untuk terlalu banyak detail. Semua dihimpit oleh dimensi ruang yang sempit dan gelap, menjadikan suasana semakin mencekam.

Di tengah ruangan itu, di atas altar batu besar yang sudah sangat tua, terdapat tiga benda yang sangat mencolok. Mereka tersusun rapi di atas alas batu yang tampaknya telah disiapkan khusus, meskipun sudah banyak lapisan debu dan lumut menutupi permukaan altar tersebut. Suasana terasa semakin berat, dengan sesuatu yang tak terlihat mengitari mereka.

Edward mendekatkan dirinya ke altar, dan matanya langsung tertuju pada tiga benda yang terletak di sana. Dalam diam, ia memandangi mereka satu per satu, merasakan ketegangan yang semakin membesar di dadanya.

Yang pertama adalah sebuah cermin bulat besar, dengan bingkai yang berkilau samar di dalam cahaya redup. "Yata no Kagami," gumam Edward pelan. Cermin ini adalah simbol kebijaksanaan, salah satu dari Tiga Warisan yang dianggap sangat sakral dalam sejarah Jepang. Dikenal sebagai simbol refleksi diri, Yata no Kagami tidak hanya dianggap sebagai cermin biasa, tetapi sebuah alat yang dapat menunjukkan kebenaran. Cermin ini adalah penghubung antara dunia manusia dan dunia roh.

Di sebelahnya, terletak sebuah pedang yang tampaknya sangat tua, dengan pegangan yang terbuat dari logam hitam yang sudah pudar. "Kusanagi no Tsurugi," bisik Riku dengan terkejut. Pedang ini, salah satu dari Tiga Warisan Jepang, dikatakan memiliki kekuatan yang luar biasa, berhubungan dengan pertempuran dan kemenangan. Legenda mengatakan bahwa pedang ini ditemukan oleh Susanoo, dewa badai, saat dia mengalahkan naga dan memperoleh pedang tersebut dari tubuh naga. Pedang ini bukan hanya simbol kekuatan, tetapi juga simbol keberanian dan tekad.

Di sisi lain altar, sebuah permata berbentuk seperti mata melengkung terletak dengan anggun. Permata ini memiliki kilauan yang tidak biasa, berpendar dengan cahaya yang sangat samar, seolah memiliki energi yang bisa terasa dalam rongga dada mereka. "Yasakani no Magatama," kata Edward dengan suara terbata-bata. Magatama ini adalah simbol keberuntungan, ketenangan, dan kehormatan. Menurut legenda, permata ini adalah hadiah dari Amaterasu kepada cucunya, Ninigi-no-Mikoto, saat dia turun ke bumi. Simbol ini memiliki hubungan erat dengan perlindungan dan kekuasaan yang diberikan oleh dewa-dewa kepada penguasa dunia manusia.

Edward menatap ketiga simbol tersebut, rasa takjub dan takut bercampur aduk di dalam hatinya. Namun, di balik keagungan benda-benda tersebut, ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan—sebuah energi yang mengalir di ruangan ini, sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya merinding. Seolah-olah benda-benda itu bukan hanya simbol dari kekuatan dan kebijaksanaan, tetapi juga mengandung rahasia yang lebih dalam.

Saat mereka berdiri di sana, tiba-tiba, sebuah suara terdengar, pelan namun jelas, seperti bisikan yang datang dari dalam batu dan udara yang penuh dengan sejarah. Edward menoleh cepat ke arah Riku, namun Riku tampak terdiam, matanya kosong seakan mendengar sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

Tiba-tiba, bayangan bergerak di sudut mata Edward. Dalam cahaya yang redup, bayangan seorang pria muncul, hanya beberapa langkah di depan mereka. Pria itu mengenakan pakaian kuil kuno, dengan rambut panjang yang diikat, wajahnya berseri dengan ekspresi yang tidak bisa Edward pahami. Tak ada suara, namun tubuhnya tampak bergerak dengan sangat alami, seolah-olah ia adalah bagian dari ruangan itu, atau bahkan penjaga dari tempat tersebut.

"Siapa... siapa kamu?" tanya Edward dengan suara yang hampir tak terdengar, namun bayangan itu tidak memberi jawaban. Dia hanya berdiri diam, mengamati mereka dengan tatapan yang sangat dalam.

Akhirnya, pria itu berbalik dan melangkah ke arah altar. Tanpa kata-kata, ia mengambil sebuah cermin kecil dari samping Yata no Kagami, kemudian memandang ke cermin itu, seolah sedang menilai sesuatu yang jauh lebih dalam dari yang tampak.

Lalu, bayangan itu menghilang dalam sekejap mata, seolah disapu oleh angin yang tak terlihat, meninggalkan keduanya dalam keheningan yang mencekam. Edward dan Riku saling berpandangan, keduanya merasakan bahwa mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mereka tahu, di dalam kedalaman kuil ini, ada lebih banyak dari yang mereka bayangkan.

Catatan Kaki:

Yata no Kagami Cermin sakral dalam mitologi Jepang, simbol kebijaksanaan dan kebenaran. Bagian dari Tiga Warisan (Sanshu no Jingi)
Kusanagi no Tsurugi  Pedang suci simbol kekuatan dan keberanian, bagian dari Tiga Warisan.
Yasakani no Magatama Permata sakral melambangkan keberuntungan dan kehormatan, bagian dari Tiga Warisan.


Bab 5 – Lintasan Waktu

Langit-langit ruangan bawah tanah mulai merintih. Getaran halus merambat dari altar batu, menyusup ke tulang, membuat jantung Edward berdetak lebih cepat dari biasanya. Cahaya lembut dari simbol-simbol suci—Yata no Kagami, Kusanagi no Tsurugi, dan Yasakani no Magatama—berdenyut perlahan, seakan bernapas. Riku merapatkan jaketnya, bukan karena dingin, tapi karena udara terasa lebih berat, penuh tekanan tak kasatmata.

"Ini… seperti sebuah peringatan," gumam Edward sambil meneliti guratan di sekitar altar. Di antara retakan lantai, ukiran kuno yang semula samar kini terlihat jelas: pola spiral tiga arah yang terhubung di tengah, mirip tomoe, lambang keseimbangan dalam mitologi Jepang.

Riku menyentuh bagian tengah spiral. Seketika, cahaya menyembur—bukan menyilaukan, melainkan seperti kabut cahaya yang berputar dalam ritme pelan. Ruangan itu bergetar, tapi tidak ambruk. Justru terasa seperti sesuatu yang lama tersegel... dibuka kembali.

Udara berubah. Aroma tanah kuno bercampur bau logam lembap dan dupa tua. Ruang itu melengkung, seperti dunia sedang melipat dirinya. Dalam sekejap, tubuh Edward terasa ringan, lalu berat, lalu ringan lagi, seolah ditarik melalui celah antara waktu dan tempat.

Suara-suara mulai terdengar: nyanyian lemah, tabuhan drum dari kejauhan, denting alat logam yang tak dikenal. Edward sempat melihat siluet seseorang—seorang perempuan dengan rambut panjang, berpakaian putih, membawa cermin bundar. Tapi sebelum ia bisa bertanya, semuanya berubah menjadi gelap pekat.

Udara segar langsung menyergap wajah mereka. Edward membuka matanya perlahan. Langit biru membentang, luas, tanpa satu garis listrik atau suara mesin apa pun. Burung-burung liar berterbangan di atas hutan purba, dan tanah di bawahnya terasa empuk, penuh rerumputan liar.

“Di mana kita…?” tanya Riku, suaranya hampir berbisik.

Mereka berdiri di tepi sebuah padang rumput yang luas, dikelilingi pepohonan besar yang tak pernah Edward lihat sebelumnya. Batang-batang pohon seukuran rumah, dan dari salah satu dahan menggantung semacam jimat dari jerami dan kertas putih bergelombang—shide, lambang pembersihan spiritual. Tak jauh, tampak jalur tanah mengarah ke pemukiman kecil dari gubuk kayu dan jerami, dengan asap tipis mengepul dari tungku-tungku terbuka.

Edward mengamati langit. Mataharinya berada lebih tinggi dari biasanya, dan sinarnya terasa berbeda—lebih murni, lebih menyilaukan namun tidak menyakitkan. Semuanya terasa seperti dunia yang belum dijamah manusia modern. Dan dari jauh, terdengar gumaman irama nyanyian kuno: ritmis, sakral.

Ia sadar mereka telah terseret ke masa lampau.

“Mungkin... beberapa bulan sebelum kelahiran Jimmu,” gumam Edward. “Kalau penanda-penanda ini benar.”

Langkah kaki menghentikan perenungan mereka. Dari balik semak tinggi, muncul sosok pria tua berkulit gelap, mengenakan jubah putih lusuh dan membawa tongkat kayu bersimbol spiral. Rambutnya diikat tinggi, dan di dahinya tergantung manik-manik bulat. Matanya menyipit namun tajam.

“Kalian bukan berasal dari dunia ini,” katanya dalam bahasa Jepang yang sangat kuno, namun masih bisa dipahami.

Edward dan Riku menegang.

“Siapa Anda?” tanya Edward.

“Aku Inbe no Mitsunari,” jawabnya, suaranya dalam dan bergema pelan. “Aku penjaga perlintasan waktu. Dan kalian telah menyentuh pusaka yang menyimpan ingatan para dewa. Maka kalian dibawa ke sini.”

Riku hampir kehilangan keseimbangan. Edward, dengan pengalaman spiritual dan literatur mitologi yang luas, justru merasa... damai. Seperti seluruh hidupnya menuntun ke momen ini.

Mitsunari melanjutkan, “Ini bukan hanya masa lalu. Ini adalah memori suci yang membentuk asal-usul Yamato. Tempat di mana para kami menurunkan jejaknya.”

Mereka mengikuti Mitsunari melalui jalur kecil menuju sebuah kuil kuno yang tersembunyi di balik pepohonan tua. Dindingnya dari kayu belum digergaji, dan atap jerami ditutup daun lebar. Di dalam, altar sederhana terbuat dari batu kasar berdiri, dengan tiga objek kecil di atasnya—miniatur dari cermin, pedang, dan permata.

“Kalian telah menyentuh yang asli. Yang di sini hanyalah bayangan... tapi bayangan yang hidup.”

Riku menunduk. “Kami mencari kebenaran di balik mitos.”

Mitsunari mengangguk pelan. “Maka dengarkan alam, bukan hanya kitab. Dan bersiaplah. Karena waktu ini bukan milik kalian. Ia akan menguji jiwa, bukan hanya tubuh.”

Edward merasa tengkuknya dingin. Ia tahu, perjalanan baru saja dimulai.

Catatan Kaki:

Shide Kertas putih berbentuk zigzag yang digantung dalam ritual Shinto, simbol penyucian dan kehadiran roh suci (kami).


Bab 6 – Dunia Yayoi

Dengan langkah ragu, Edward dan Riku menginjakkan kaki mereka ke tanah yang tampak begitu jauh dari dunia yang mereka kenal. Setelah mengikuti Inbe no Mitsunari menuju desa, mereka kini berdiri di tengah sebuah komunitas yang seluruhnya tampak baru, seperti keluar dari sejarah yang tak pernah mereka pelajari di sekolah. Dunia ini bukan dunia yang sekadar terbungkus dalam keabadian masa lalu; ini adalah dunia yang hidup, penuh dengan ketegangan antara kehidupan sehari-hari yang sangat sederhana dan kekuatan alam yang tak terlihat, namun sangat nyata.

Saat mereka memasuki desa yang terletak di lembah subur, pemandangan yang menyambut begitu kontras dengan kehidupan modern yang mereka tinggalkan. Rumah-rumah di desa ini terbuat dari kayu kasar dan atap jerami. Tiap rumah tampaknya lebih dekat dengan alam ketimbang dengan manusia, seolah bagian dari tanah itu sendiri. Bau kayu yang baru dipotong dan rumput liar memenuhi udara, bercampur dengan aroma tanah yang lembap dan harum dari sawah-sawah yang terbentang di sekitarnya.

Di sepanjang jalan setapak yang sempit, mereka melihat kelompok-kelompok penduduk desa bekerja dengan riang. Beberapa pria tampak sedang mengolah tanah di sawah yang luas, menggunakan cangkul tradisional. Di antara mereka, wanita dan anak-anak sibuk mengumpulkan hasil bumi—beras, biji-bijian, dan sayuran yang akan dimasak untuk makan malam. Ada nuansa kedamaian yang terasa begitu mendalam di tempat ini, meski juga ada rasa keakraban dan kerja sama yang tidak bisa disembunyikan.

"Kehidupan kami sangat bergantung pada tanah ini," Inbe berkata, suaranya tenang, namun penuh kebanggaan. "Kami hidup di tanah yang diberikan oleh dewa-dewa. Setiap butir padi yang kami tanam adalah berkat dari mereka. Setiap langkah kami adalah hasil dari doa dan kerja keras." Inbe menuntun mereka ke salah satu area yang lebih besar di tengah desa, tempat sebuah kuil kecil berdiri di bawah bayangan pohon besar. Pohon itu—sebuah pohon sakura kuno—tampak seperti penjaga yang diam, seolah menyaksikan seluruh dunia selama berabad-abad.

“Ini adalah tempat kami menghormati dewa-dewa yang menjaga desa kami,” Inbe menambahkan, berhenti di depan kuil tersebut. "Kami percaya bahwa alam ini penuh dengan roh, dan kami berusaha untuk hidup selaras dengan mereka."

Edward dan Riku melangkah lebih dekat ke kuil, terpesona oleh kesederhanaannya yang agung. Dinding-dinding kuil terbuat dari kayu hitam yang dipoles dengan hati-hati, dikelilingi oleh taman batu kecil yang dihiasi patung-patung batu berbentuk dewa-dewa alam. Terdengar suara angin yang merayap melalui pepohonan, membawa kedamaian, namun juga kesan misterius, seolah sesuatu yang lebih besar dari kehidupan mereka ada di sekitar mereka, mengawasi setiap langkah mereka.

Di sisi lain, Riku, yang lebih peka terhadap atmosfer spiritual, merasa ada sesuatu yang tak kasat mata tengah menunggu untuk terungkap. "Edward," katanya, matanya terfokus pada patung batu yang lebih besar di sudut kuil. "Apakah kamu merasakannya? Ada kekuatan di sini, seolah ada yang sedang memanggil kita."

Edward menoleh, melihat ke arah yang ditunjuk oleh Riku. Di atas altar, sebuah batu besar yang tampaknya sangat tua berdiri tegak, dikelilingi oleh dupa yang mengepul, berputar-putar di udara. Ada semacam daya tarik yang sangat kuat dari benda itu, seperti sebuah magnet yang menarik perhatian mereka.

"Tempat ini memang penuh dengan energi," jawab Edward dengan suara lembut. "Sesuatu yang lebih tua daripada apapun yang pernah kita lihat."

Saat mereka berdiri di depan altar, Inbe memberi penjelasan tentang bagaimana desa mereka bergantung pada ritus-ritus yang dilakukan di kuil tersebut. Setiap tahun, ada upacara yang melibatkan pemujaan terhadap roh-roh leluhur dan roh alam, yang diyakini memberikan kesejahteraan bagi desa. Dalam upacara tersebut, mereka mempersembahkan hasil bumi dan doa, berharap agar musim yang akan datang membawa panen yang melimpah.

Di tengah percakapan ini, seorang wanita muda dengan wajah cerah muncul dari dalam kuil. Rambutnya panjang dan hitam, tergerai indah, mengenakan kain besar yang dililitkan di tubuhnya, terbuat dari serat pohon mulberry. Kain tersebut diikat di pinggang dan membungkus tubuhnya secara sederhana, dengan bagian bawahnya jatuh hingga pergelangan kaki. Warna kainnya cokelat alami dengan sentuhan hijau yang dihasilkan dari pewarnaan alami. Wajahnya tampak penuh kebijaksanaan, namun ada kerinduan dalam sorot matanya.

“Ini adalah Hana, adik perempuan saya,” kata Inbe, memperkenalkan wanita itu. "Dia membantu menjaga kuil ini dan selalu menyertai upacara-upacara kami."

Hana menyambut mereka dengan senyuman hangat, namun ada sesuatu dalam tatapannya yang seakan menyembunyikan cerita panjang. Mungkin dia tahu lebih banyak tentang dunia ini daripada yang ia perlihatkan. "Selamat datang di tempat kami," katanya, suaranya lembut namun penuh makna. "Kami jarang sekali menerima tamu dari luar dunia kami. Kehadiran kalian pasti memiliki makna yang lebih dalam."

Dengan perasaan yang bercampur aduk, Edward dan Riku mengikuti Hana ke sebuah tempat terbuka, di mana penduduk desa sedang mempersiapkan sebuah perayaan besar. Tenda-tenda kecil berdiri di sekitar api unggun, di mana makanan akan dibagikan kepada seluruh desa. Dalam suasana ini, terlihat sekali bagaimana mereka sangat terhubung dengan alam. Setiap kegiatan mereka—mulai dari berburu, bercocok tanam, hingga beribadah—adalah bagian dari ritual yang lebih besar, yang tak hanya berkisar pada hidup mereka sehari-hari, tetapi pada peran mereka sebagai bagian dari semesta.

Saat malam mulai menyelimuti desa, api unggun yang menyala terang menjadi pusat kehidupan. Penduduk desa berkumpul untuk merayakan hasil panen mereka dengan tarian dan lagu-lagu kuno yang telah diwariskan turun-temurun. Mereka menari dengan penuh kebahagiaan, namun ada nuansa mistis dalam gerakan mereka, seolah mereka sedang berhubungan langsung dengan dunia roh.

Edward dan Riku merasa seakan mereka menjadi bagian dari upacara itu, meskipun mereka tahu mereka berasal dari dunia yang jauh berbeda. Mereka tidak bisa menghindari rasa kagum yang mendalam terhadap kehidupan yang mereka saksikan. Ini adalah dunia yang lebih sederhana, namun sangat penuh dengan kedalaman spiritual yang belum mereka pahami sepenuhnya.

Malam itu, ketika mereka berbaring di dalam gubuk kayu yang disediakan oleh Inbe dan Hana, keduanya terdiam lama, merenungkan pengalaman mereka. Mereka merasa terhubung dengan dunia yang sangat berbeda—lebih alami dan lebih dekat dengan kekuatan alam dan roh-roh yang mengatur segala sesuatu.

Di bawah langit yang dihiasi dengan bintang-bintang yang bersinar cerah, mereka tertidur dengan pikiran yang penuh pertanyaan tentang dunia yang baru saja mereka masuki. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa peran mereka dalam semua ini?

Malam itu, suara alam yang menemani tidur mereka, membawa mereka lebih dalam ke dalam dunia Yayoi, di mana segala sesuatu tampak lebih sederhana, namun penuh makna yang tak terungkapkan.


Bab 7 – Yamato yang Masih Muda

Udara pagi di lembah Yamato masih dibalut kabut tipis saat Edward dan Riku menuruni lereng bukit bersama Inbe no Mitsunari. Di kejauhan, sinar matahari mulai membakar ujung puncak, menyoroti lanskap bergelombang yang ditumbuhi rerumputan tinggi, pohon ek tua, dan jalur setapak dari tanah yang telah dilewati generasi demi generasi. Di hadapan mereka terbentang desa dengan atap-atap jerami dan rumah panggung dari kayu mentah. Asap dari perapian pagi membubung perlahan ke langit.

Inilah Yamato, seperti yang belum pernah tercatat dalam buku sejarah mana pun,” gumam Edward, setengah tak percaya.

Penduduk desa menatap mereka penuh ingin tahu namun tak berani mendekat. Beberapa anak kecil bersembunyi di balik kaki ibu mereka, sementara para lelaki muda mengamati mereka dengan waspada. Mitsunari berdiri di depan, dengan suara tenang dan dalam mengucapkan kalimat dalam bahasa kuno yang asing bagi Edward dan Riku.

“Aku sedang menjelaskan bahwa kalian adalah tamu dari langit,” bisik Mitsunari kepada mereka setelah selesai berbicara kepada orang-orang.

Edward memandangi sekeliling. Detail kehidupan masa lalu begitu nyata—bakul-bakul anyaman, kendi tanah liat yang diletakkan di bawah tenda kulit binatang, suara lesung penumbuk padi, dan irama nyanyian ritual dari kejauhan.

Mereka dipandu menuju aula kayu panjang yang disebut miya, tempat pemujaan leluhur dan arwah langit. Di dalamnya terdapat altar sederhana berisi batu halus, beberapa cabang sakaki, dan perhiasan dari magatama berwarna hijau kebiruan. Di sudut ruang, seorang lelaki tua duduk bersila, rambutnya putih panjang dan mengenakan jubah kasar dari serat tanaman yang telah diwarnai merah tua oleh tanah dan waktu. Sosoknya kurus, matanya tajam seperti elang, dan tubuhnya dihiasi tato samar pada lengan dan dada.

Ia adalah Hieda no Takeyo—dukun tua dari garis keturunan kuno yang disebut-sebut sebagai penjaga ingatan para leluhur.

Langit membelah waktu, membawa pesan pada tanah ini,” ucap Takeyo dalam suara berat dan lambat. “Aku telah menunggu kalian.”

Edward merasakan bulu kuduknya berdiri. Dukun itu tak berbicara padanya secara langsung, tetapi seolah kepada jiwanya.

Takeyo mengambil mangkuk dari tanah liat dan mengisi dengan air yang telah didoakan, lalu menaburkannya ke tanah dan menggumamkan mantra dalam bahasa yang bahkan Mitsunari tak sepenuhnya pahami. Setelah itu, ia menggambar simbol pada tanah di depan altar: lingkaran besar yang mengelilingi tiga bentuk—cermin, pedang, dan permata.

Simbol ini,” ujar Takeyo pelan sambil menatap Edward dan Riku, “adalah tanda langit yang kalian bawa. Kalian adalah jembatan.”

Edward mengangguk perlahan. Rasa kagum bercampur gentar menguasainya.

Di luar miya, para tetua desa berkumpul. Mereka menunduk saat Mitsunari memperkenalkan Edward dan Riku. Lalu seorang wanita tua, mungkin pemimpin spiritual perempuan desa, menghampiri dengan membawa sejenis bubur beras merah dan ikan kering kecil. Ia menyodorkannya kepada Edward dengan senyuman lembut.

Terimalah, ini adalah makanan persembahan untuk mereka yang datang dari arah matahari terbenam,” kata Mitsunari.

Edward menerimanya dengan dua tangan. Rasanya sederhana—beras fermentasi, sedikit asin dan masam, tetapi menghangatkan perutnya.

Hari itu, Edward dan Riku tinggal di rumah kayu milik keluarga pemuka desa. Mereka duduk di tikar anyaman dan mendengarkan Takeyo bercerita—tentang arwah langit, tanda-tanda di bintang, dan nubuat tentang kembalinya keseimbangan antara dunia roh dan dunia manusia.

Segalanya akan terungkap ketika kalian menyentuh inti mitama dari tiga warisan itu,” kata Takeyo.

Riku bertanya perlahan, “Apa yang harus kami lakukan?”

Takeyo menatap ke api unggun kecil di tengah ruangan. “Ikuti arus waktu yang akan membawamu ke awal. Kalian akan melihat Jimmu, bukan sebagai mitos, tetapi sebagai pemuda.”

Edward memejamkan mata. Ia merasa dirinya tidak lagi berada di sebuah rumah kayu, tetapi di ambang pintu sejarah yang hidup.

Malam itu, di bawah naungan bintang yang cemerlang dan langit yang bersih dari polusi zaman modern, desa Yamato terasa seperti berhenti dalam waktu. Api unggun di tengah lingkaran batu membara dengan tenang. Asapnya menjulang, membawa harum daun-daunan kering dan damar yang dibakar sebagai persembahan kepada roh leluhur.

Hieda no Takeyo, dukun tua yang telah lama dihormati, memulai sebuah ritual sederhana. Ia menggambar pola spiral dan garis-garis panjang di tanah dengan tongkat kayunya, lalu menaburkan debu halus dari kantung kulit rusa. Di belakangnya, beberapa pemuda dan pemudi desa berdiri mengelilingi api, mengenakan pakaian serat tumbuhan yang dililitkan dengan tali kulit, menggumamkan nada monoton seperti mantera.

Edward dan Riku duduk bersila di samping Inbe no Mitsunari. Wajah mereka diterangi cahaya merah kekuningan dari api. Takeyo perlahan membuka gulungan daun yang telah dikeringkan, memperlihatkan pecahan ukiran kayu kecil yang dipahat dengan simbol langit dan matahari. Salah satunya menyerupai tiga bentuk oval melingkar—simbol magatama, yang pernah mereka lihat di altar bawah tanah.

Ini bukan sekadar lambang,” kata Takeyo dengan suara berat, “tapi tanda bahwa kalian telah memasuki urutan waktu yang sakral. Kita berada di batas antara alam para leluhur dan dunia manusia.”

Edward merasakan bulu kuduknya meremang. Ada keheningan yang ganjil. Di belakang suara mantera, ia mendengar bisikan seperti desir angin yang berbicara—atau bayangan dari masa lampau yang belum padam.

Inbe no Mitsunari bangkit lalu mengisyaratkan kepada dua anak laki-laki desa untuk membawa dua potong batu pipih besar dari gudang belakang. Ketika batu itu disusun membentuk meja persembahan, Takeyo meletakkan di atasnya tiga benda: bulu hitam dari burung besar, pecahan cermin perunggu yang buram, dan sebuah batu akik hijau tua berbentuk koma.

Warisan langit tak hanya diturunkan dalam bentuk benda,” ucap Takeyo, “tetapi dalam roh yang mewujud. Kalian akan menyaksikan kelahiran pewaris roh ini… dalam wujud manusia yang akan dikenal dunia sebagai Jimmu.”

Ia lalu menatap api unggun dan berkata perlahan, “Tapi sebelum kalian melihatnya, kalian harus memasuki kembali arus waktu. Tanda-tandanya akan datang dalam mimpi.”

Malam itu, Edward bermimpi. Ia berjalan di hutan lebat, diterangi cahaya matahari redup yang seperti jatuh dari langit asing. Di kejauhan, ia melihat seorang wanita muda menggendong bayi di depan kuil batu. Bayi itu memandangnya—dan untuk sesaat, Edward merasa sang bayi mengenalnya.

Catatan kaki:

  • Miya: istilah awal untuk bangunan pemujaan sebelum bentuk kuil Shinto modern; digunakan dalam konteks arsitektur keagamaan awal Jepang.

  • Magatama: manik-manik melengkung dari zaman Jōmon–Yayoi, dianggap memiliki kekuatan spiritual; salah satu dari Tiga Regalia Kekaisaran Jepang.

  • Hieda no Takeyo: tokoh fiksi, terinspirasi dari nama "Hieda no Are", yang dikisahkan memiliki ingatan luar biasa dan dipercaya berperan dalam penyusunan Kojiki.



Bab 8 – Pertanda dari Langit

Langit di atas Yamato tampak tak biasa sejak fajar pertama. Warna langit yang biasanya jingga lembut kini membentang dalam gradasi perak pucat keunguan, dan di tengah-tengahnya menggantung seberkas cahaya lembut menyerupai kabut bercahaya. Awan-awan tipis seperti tirai sutra membentuk pusaran lambat, seolah langit tengah menghela napas panjang.

Edward dan Riku berdiri di halaman kuil batu itu, tempat mereka telah berdiam beberapa hari bersama Inbe no Mitsunari. Angin bertiup pelan, namun udara seolah bergetar dengan suara-suara tak terdengar—sebuah bisikan dari dunia yang tak kasatmata.

Langit bersuara,” kata Inbe dengan kepala tertunduk. “Zaman tengah bergeser.”

Tak jauh dari sana, suara lonceng perunggu dari menara kayu kecil bergema. Di kejauhan, para petani yang biasa bekerja di ladang menghentikan cangkul mereka dan mendongak. Beberapa memejamkan mata, seakan mengerti bahwa ini bukan cahaya biasa.

Di ruang dalam kuil, Hieda no Takeyo duduk bersila di depan api dupa yang membumbung perlahan. Aromanya menusuk lembut—rempah, akar, dan kulit kayu hutan kuno. Ia menggambar lambang segitiga dengan jarinya di lantai tanah, lalu menatap ke langit-langit dari jerami dan balok kayu gelap.

Toyotama-hime sedang mengandung,” ucapnya lirih. “Rahimnya membawa cahaya, bukan hanya kehidupan. Ini adalah anak dari darah langit dan laut.”

Edward menoleh pada Riku. Nama itu terdengar asing, namun aura sekitarnya membuat mereka paham ini bukan sekadar kabar gembira atas kehamilan. Ini adalah awal dari sesuatu yang besar, sesuatu yang tak hanya berpengaruh pada satu desa, tetapi pada arah sejarah seluruh negeri.

Inbe no Mitsunari membawa mereka ke puncak bukit tempat berdiri sebuah miya kecil—kuil pemujaan kuno dari kayu dan batu, sederhana namun sarat energi. Di sana para pendeta berdiri mengelilingi lingkaran batu yang diguratkan simbol kuno. Mereka menyanyikan nyanyian panjang dalam bahasa yang tak dimengerti Edward, namun setiap getar suaranya membuat rambut di tengkuknya berdiri.

Langit kemudian mengeluarkan suara aneh—tidak seperti guntur, tapi lebih seperti dengungan dalam perut bumi yang menyusup keluar. Para pendeta berhenti bernyanyi. Seekor burung hitam melintas rendah, mengepakkan sayap perlahan seolah membelah udara yang padat.

Hieda melangkah maju dan menancapkan tongkatnya ke tanah. “Pertanda telah lengkap. Jika bayi itu lahir dengan tubuh kuat dan mata cahaya, maka benarlah nubuat—ia akan menyatukan tanah-tanah yang berserakan. Ia akan menjadi matahari pertama Yamato.”

Riku menatap Edward, masih bingung. “Apakah mereka bicara tentang... Jimmu?”

Edward tak menjawab. Matanya terpaku ke langit, tempat cahaya perak perlahan menyusut, meninggalkan satu lingkaran lembut—seolah cakrawala telah mengingat nama yang belum disebut.

Malam itu, langit Yamato dipenuhi bintang-bintang yang berkelip seperti mata para dewa yang mengawasi bumi. Di tengah kegelapan, sebuah cahaya lembut muncul dari arah timur, perlahan-lahan membesar hingga menerangi seluruh desa dengan sinar keperakan.

Di dalam kuil, para pendeta dan dukun berkumpul mengelilingi api suci yang berkobar tenang. Hieda no Takeyo mengangkat tangannya, memulai nyanyian kuno yang hanya dikenal oleh para penjaga tradisi. Suara-suara mereka bergema, menyatu dengan alam, seolah memanggil roh-roh leluhur untuk menyaksikan momen sakral ini.

Inbe no Mitsunari menaburkan garam suci di sekeliling lingkaran ritual, menciptakan batas antara dunia manusia dan dunia spiritual. Asap dupa mengalir naik, membentuk wujud naga yang menari di udara sebelum menghilang ke langit.

Tiba-tiba, suara lembut terdengar dari luar kuil. Seorang wanita muda dengan wajah bercahaya memasuki ruangan, membawa kabar bahwa Toyotama-hime telah merasakan gerakan pertama dalam kandungannya. Para pendeta menundukkan kepala, menyadari bahwa pertanda dari langit telah menjadi kenyataan.

Hieda no Takeyo berbicara dengan suara penuh wibawa, "Anak ini akan menjadi jembatan antara langit dan bumi, menyatukan semua klan di bawah satu panji. Ia adalah harapan baru bagi Yamato."

Edward dan Riku, yang menyaksikan semua ini, merasakan getaran energi yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Mereka menyadari bahwa mereka bukan hanya pengamat, tetapi bagian dari takdir yang sedang terungkap.

Catatan kaki:

  • Toyotama-hime: Putri dari dewa laut Ryūjin. Ia menikah dengan Hoori (putra Ninigi) dan melahirkan Ugayafukiaezu, ayah Jimmu. 

  • Ugayafukiaezu: Secara harfiah berarti "yang tali pusarnya belum sempat dikeringkan", simbol kelahiran yang tergesa. Ayah dari Kaisar Jimmu. 



Bab 9 – Takeminakata Bangkit

Di wilayah Shinano, udara terasa berat, sesak dengan ketegangan yang tak terlihat namun begitu nyata. Pegunungan yang menjulang tinggi di kejauhan seolah menatap dengan diam, menyimpan kisah-kisah kuno dari zaman yang sudah lama terlupakan. Daerah itu, yang sering diselimuti kabut tipis dan hujan rintik yang turun pelan, seakan-akan berbicara dalam bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh jiwa-jiwa yang peka terhadap dunia gaib.

Di antara hutan lebat dan aliran sungai yang berkelok-kelok, di situlah Takeminakata, sang dewa yang dikenal sebagai penguasa alam, mulai merasakan gelombang ketidakpuasan yang semakin kuat. Takeminakata, yang selama ini dihormati sebagai pelindung dan penguasa tanah, tiba-tiba mendengar suara dari langit, bisikan yang penuh dengan ancaman dan takdir. Langit yang selama ini menjadi tempat bagi para dewa untuk mengamati dunia manusia, kini mulai menunjukkan wangsit yang membuat Takeminakata resah.

Sebagai dewa yang setia kepada kehendak langit, ia biasanya tak pernah menentang atau meragukan takdir. Namun, kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Suara itu terdengar lebih keras, lebih mengintimidasi, dan mengandung perintah yang tidak bisa ia abaikan. Itu adalah panggilan yang memerintah, namun di sisi lain, ada keraguan yang mulai tumbuh dalam hati Takeminakata. "Apa artinya ini?" gumamnya dalam hati, merasakan ketidakpastian yang mengganggu ketenangannya.

Di tengah malam yang sunyi, hanya suara angin yang berbisik melalui pepohonan, Takeminakata berdiri di depan altar yang sederhana, terbuat dari batu hitam yang sudah tua, dipenuhi lumut dan rerumputan. Ia menatap langit yang gelap, penuh dengan bintang yang berkilauan seperti mata-mata dewa yang mengawasi dunia. Namun kali ini, bintang-bintang itu tampak berbeda. Mereka tidak hanya berkilauan, mereka seolah mengawasi dengan cemas, seolah menunggu sesuatu yang tak pasti akan terjadi.

Di sisi lain, di desa Shinano yang tersembunyi di bawah kaki gunung, ketegangan mulai meningkat. Para pemimpin suku yang tinggal di sana mulai merasakan dampak dari perubahan yang terjadi. Mereka berbicara dengan suara rendah, namun dengan mata yang penuh kecemasan. Seiring dengan meningkatnya ketidakpuasan dewa Takeminakata terhadap wangsit langit, mereka mulai merasakan ada sesuatu yang besar akan terjadi. Sesuatu yang akan mengubah keseimbangan dunia ini.

Takeminakata, yang selama ini dikenal sebagai dewa yang bijaksana dan berwibawa, kini tampak gelisah. Di dalam batinnya, terbangun sebuah pertanyaan yang lebih dalam, tentang apa yang sesungguhnya diinginkan oleh langit, dan apakah takdir yang digariskan oleh para dewa memang harus diterima tanpa pertanyaan. Seiring dengan pertanyaan itu, kekuatan-kekuatan dari dunia lain mulai bergerak, seperti gelombang besar yang perlahan-lahan akan menghancurkan ketenangan yang telah berlangsung begitu lama.

Malam itu, di tengah udara yang dingin dan pekat, Takeminakata mulai merasakan kekuatan baru yang bangkit dalam dirinya. Sebuah kekuatan yang tak dapat ia pungkiri lagi, sebuah panggilan yang tidak bisa ia abaikan. Kekuatan itu terasa lebih kuat dari sebelumnya, seakan datang dari kedalaman dunia yang lebih gelap dan lebih misterius. Itu adalah kekuatan yang akan mengubah segalanya.

Sementara itu, di balik kabut pagi yang menyelimuti desa Shinano, suara-suara dari para pemimpin suku mulai semakin lantang. Ketegangan antar suku semakin meningkat, dan para penduduk desa mulai merasakan bahwa ada sesuatu yang tak dapat mereka elakkan. Mereka merasa seperti berada di ambang sesuatu yang besar, sebuah peristiwa yang tidak dapat mereka hindari, sebuah takdir yang akan mengubah hidup mereka selamanya.

Takeminakata tahu bahwa saatnya sudah dekat. Wangsit langit, yang selama ini menjadi pedoman bagi para dewa dan manusia, kini dipertanyakan. Apakah benar takdir itu harus diterima begitu saja? Ataukah mereka, baik dewa maupun manusia, memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidup mereka sendiri?

Malam semakin larut, dan Takeminakata tetap berdiri di depan altar, merenungkan kekuatan yang kini bangkit dalam dirinya. Kekuatan yang akan membawanya ke arah yang tak terduga. Kekuatan yang bisa mengubah dunia ini selamanya.

Seiring dengan angin yang berhembus semakin kencang, Takeminakata mengangkat kedua tangannya ke langit, seakan-akan hendak menyerahkan dirinya kepada takdir atau menantang kekuatan yang lebih besar. Dalam keheningan malam, hanya ada suara desahan angin yang menggema, membawa dengan mereka bisikan-bisikan dari dunia lain yang menunggu untuk dipenuhi.

Catatan Kaki:

  • Takeminakata: Dewa angin dan laut dalam mitologi Jepang, salah satu dewa utama dalam Kojiki dan Nihon Shoki, dikenal sebagai pelindung bagi para petani dan nelayan. Ia juga disebut sebagai pendiri dan pelindung wilayah barat Jepang.



Bab 10 – Ugaya Sang Penjaga

Kabut pagi menggantung di atas tebing Kushifuru, seperti tirai tipis antara dunia yang tampak dan yang tersembunyi. Di balik kabut itu berdiri Ugaya Fukiaezu, ayah dari Jimmu, dengan sorot mata tenang dan postur tegak laksana penjaga gerbang masa depan.

Edward dan Riku berdiri terpaku. Meski udara dingin menusuk, tubuh mereka terasa hangat, seolah pancaran energi dari Ugaya merambat menembus ruang dan kulit. Riku, yang biasanya rasional, merasa seolah berdiri di tengah batas antara mitos dan kenyataan.

Ugaya mengenakan jubah putih yang jatuh lembut hingga menyentuh tanah basah. Di lehernya tergantung sebuah magatama, batu lengkung berwarna giok yang tampak berdenyut pelan dalam cahaya pagi. Ia menatap Edward lama, seperti membaca riwayat panjang yang belum dituliskan.

Aku telah melihat kalian dalam mimpi para leluhur,” kata Ugaya pelan, suaranya seperti gema air dari masa purba. “Kalian datang bukan sebagai pengganggu, melainkan sebagai pembaca. Bukan hanya sejarah yang kalian bawa, tapi juga pertanda.”

Riku menelan ludah. “Apakah kami… diizinkan mengetahui masa depan?”

Ugaya tersenyum samar. “Masa depan bukan untuk diketahui, tapi untuk diresapi. Ia datang seperti kabut—tak bisa digenggam, hanya bisa dilewati.”

Edward melangkah maju. “Kami melihat langit berubah ketika nama Jimmu disebut. Apakah itu pertanda bahwa waktunya telah tiba?”

Langit tidak hanya bercerita melalui cahaya,” jawab Ugaya. “Kadang ia bersuara lewat diam. Jimmu, darahku, adalah gema dari kehendak langit, tapi juga cermin dari kehendak bumi. Ia akan membawa dua dunia itu dalam satu napas.”

Edward memandangi lembah di bawah. Kabut perlahan mengangkat, memperlihatkan hutan lebat dan sungai yang berkelok seperti urat nadi bumi. Di kejauhan, burung gagak terbang melingkar, seperti menandai sesuatu yang belum terjadi.

Ugaya mendekat, lalu menyentuh pundak Riku. “Shinano bergolak. Takeminakata menantang tatanan surgawi. Pertanda akan memuncak. Tapi jangan takut—pertarungan tak selalu berupa pedang. Terkadang ia hadir dalam bisikan, dalam pemilihan jalan.”

Edward merasa sesuatu menggeliat dalam dirinya. Seperti suara yang belum sempat ia dengar. “Dan kami, peran kami?”

Ugaya menatapnya dalam. “Kalian adalah saksi. Dan dari saksi, lahirlah makna.”

Kabut mulai mengurai, diterpa angin dari arah timur. Matahari menembus di antara pepohonan, mengubah embun menjadi kristal cahaya. Ugaya melangkah ke arah altar kecil yang terbuat dari batu, lalu berlutut dan menundukkan kepala.

Besok kalian akan melanjutkan perjalanan. Tapi malam ini, kalian tidur di sini. Bumi ini adalah pelindung kalian.”

Ia bangkit perlahan, lalu memutar tubuh, jubahnya mengepak tertiup angin. Namun ia tidak menghilang. Ia hanya berdiri di kejauhan, diam seperti batu suci, matanya mengawasi, menjaga.

Edward dan Riku saling berpandangan. Mereka tahu, malam ini bukan hanya malam. Ini adalah gerbang waktu, dan Ugaya—sang penjaga gerbang—masih ada di sana, menanti langkah mereka berikutnya.

Catatan kaki:

Ugaya Fukiaezu adalah tokoh dalam mitologi Jepang, dikenal sebagai ayah dari Kaisar Jimmu, pendiri Dinasti Jepang pertama. Ugaya dipandang sebagai sosok yang penting dalam sejarah mitologi, dan namanya mengandung makna "yang tidak sempat menyusui" karena ibunya, Toyotama-hime, kembali ke laut setelah melahirkannya. 

Magatama adalah manik-manik berbentuk melengkung yang merupakan simbol spiritual dan sering digunakan dalam upacara keagamaan Shinto. Magatama ditemukan di banyak situs arkeologis di Jepang dan dianggap sebagai benda yang mengandung kekuatan mistis. 


Bab 11 – Jimmu Lahir

Fajar menyentuh pucuk-pucuk kabut yang masih menyelimuti permukaan danau. Udara di Yamato pagi itu terasa hening, seolah seluruh alam menanti sesuatu. Kabut menggulung perlahan, membentuk tirai tipis antara dunia roh dan dunia manusia. Dalam keheningan yang tak biasa, dari dalam rumah beratap alang-alang tempat ritus kuno dilangsungkan, terdengar tangis bayi pertama kali.

Tangis itu bukan sembarang tangis. Ia terdengar menggema ke seantero lembah, menembus hutan, dan memantul ke pegunungan seakan disambut oleh roh-roh leluhur. Bayi itu adalah putra dari Ugayafukiaezu no Mikoto dan Tamayori-hime, adik dari dewi laut Toyotama-hime. Namanya kelak adalah Kamuyamatoiwarebiko no Mikoto, yang dunia akan kenal sebagai Kaisar Jimmu.

Tamayori-hime, masih lemah pasca melahirkan, digendong oleh para pendeta perempuan ke dekat perapian. Asap dupa memenuhi ruangan, bercampur dengan wewangian kulit kayu manis dan cemara, persembahan dari hutan suci. Ia menatap putranya dengan sorot mata yang dalam, seolah menyadari bahwa anak itu bukan sekadar darah dagingnya—tapi juga titisan kehendak langit.

Dukun tertua dari klan Yamato, seorang wanita sepuh bernama Sawa-no-Ushi, memimpin upacara penyucian. Ia mengangkat bayi ke arah timur, lalu berdoa dalam bahasa kuno yang hanya dimengerti oleh roh-roh penjaga. Para pendeta laki-laki meniup seruling dari bambu, mengiringi tarian lambat yang melambangkan kelahiran dari dunia arwah menuju dunia jasad.

Di tengah upacara itu, seekor burung bangau putih melintasi langit, lalu terbang berputar di atas rumah itu sebelum lenyap ke arah laut. Penduduk percaya, burung itu adalah utusan Ryūjin, sang dewa laut, yang memberkati cucunya dari kejauhan. Dalam kepercayaan lama, tanda-tanda semacam itu bukan kebetulan, melainkan pesan dari alam para dewa.

Malam harinya, langit dipenuhi bintang, namun satu bintang di timur tampak bersinar lebih terang dari yang lain. Para penafsir langit mencatat kemunculan cahaya itu sebagai hoshi-no-sugata, bentuk bintang yang menandai kelahiran pemimpin besar. Klan-klan di sekitar Yamato mengirimkan kurir membawa persembahan: beras suci, tenunan halus, dan garam dari pantai, untuk memberi hormat kepada sang bayi.

Namun dalam bisik-bisik para tetua, juga muncul rasa gentar. Sebab setiap kelahiran besar disertai perubahan besar. Di kejauhan, suara anjing melolong bersahut-sahutan. Tamayori-hime menatap langit malam dari ambang pintu, sembari menggendong bayinya, bisikannya nyaris tak terdengar, “Langit telah membuka gerbangnya. Anakku adalah jembatan.”

Catatan kaki
Tamayori-hime adalah adik dari dewi laut Toyotama-hime, dan dalam mitologi Jepang ia menjadi ibu dari Kaisar Jimmu setelah bersatu dengan Ugayafukiaezu. Figur ini muncul dalam Kojiki dan Nihon Shoki sebagai penghubung antara keturunan dewa dan manusia. 
Ryūjin adalah dewa naga penguasa laut dalam mitologi Jepang. Ia sering dikaitkan dengan istana bawah laut Ryūgū-jō dan muncul dalam kisah Toyotama-hime. 
Hoshi no sugata secara harfiah berarti "bentuk bintang", sering muncul dalam kisah-kisah rakyat dan penafsiran langit sebagai pertanda ilahi atau kelahiran penting, meski tidak menjadi istilah astronomi formal.


Bab 12 – Pelatihan Sang Kaisar

Fajar menyapu langit dengan warna oranye keemasan ketika Jimmu muda berdiri di halaman latihan, napasnya mengepul dalam udara pagi yang dingin. Tubuhnya kurus, namun setiap gerakan pedangnya memancarkan kekuatan tersembunyi. Keringat menetes di pelipisnya, membentuk alur di wajah yang masih remaja tapi telah menyimpan tekad seorang pria dewasa.

Edward memperhatikan dari sisi arena, tangan terlipat di dada. Ia datang sebagai pengamat dari barat, membawa keingintahuan tentang kekaisaran kuno yang katanya dibentuk oleh langit dan diwarisi oleh para dewa. Namun yang ia lihat bukanlah upacara megah atau kemegahan istana. Yang ia lihat adalah anak laki-laki yang mengayunkan pedang hingga tangannya gemetar, menahan rasa sakit tanpa keluhan, dan menatap lawannya dengan mata yang membakar.

“Dia tidak bertarung untuk menang,” bisik Edward pada dirinya sendiri. “Dia bertarung untuk menjadi sesuatu yang lebih.”

Pelatih-pelatih tua memandangi Jimmu dengan hormat. Bukan karena ia keturunan kaisar, tapi karena semangatnya tidak bisa diajarkan. Setiap jatuh, Jimmu bangkit lagi. Setiap luka menjadi alasan untuk lebih kuat. Ia menyerap pelajaran bukan hanya dengan pikiran, tapi dengan tulang dan otot.

Dan untuk pertama kalinya, Edward mengerti alasan kekaisaran ini bertahan selama ribuan tahun. Karena mereka tidak membentuk pemimpin. Mereka membentuk Kaisar. Dan Jimmu, dengan segala kecerdasan, karisma, dan keyakinannya, adalah titisan langit yang tengah disiapkan untuk mengubah segalanya.

Namun malam itu, saat istana mulai hening dan hanya suara serangga menggantikan denting pedang, Edward melihat sisi lain dari sang pewaris tahta.

Di lorong kayu yang menghadap taman batu, Jimmu duduk seorang diri. Pakaian latihannya masih melekat, kini basah oleh gerimis yang turun perlahan. Wajahnya menunduk, bukan dalam kelemahan, tapi dalam pencarian.

Edward mendekat pelan. Ia tahu bahwa diam kadang lebih penting dari nasihat.

“Aku sering bertanya,” ucap Jimmu tanpa menoleh, “apakah jalan ini milikku, atau milik leluhur yang tak pernah kukenal.”

Edward diam sejenak. Lalu, dengan suara rendah, ia menjawab, “Mungkin bukan soal siapa yang memulai jalan itu, tapi siapa yang berani menapakinya sampai akhir.”

Jimmu menatap langit. Gerimis membasahi wajahnya, seperti air suci yang membersihkan keraguan.

“Aku ingin menjadi Kaisar bukan karena darahku, tapi karena jiwaku pantas untuk itu,” katanya pelan.

Dan di malam yang sunyi itu, Edward menyadari bahwa Jimmu bukan sekadar calon pewaris takhta. Ia adalah jiwa yang ditempa bukan oleh kenyamanan, melainkan oleh keraguan, pengorbanan, dan keyakinan. Jiwa seorang Kaisar yang sedang dilahirkan—bukan di atas singgasana, tapi di antara hujan dan kesunyian.


Bab 13 – Jalan ke Timur

Kabut pagi menggantung berat di atas teluk Hyūga, seperti selimut dunia lama yang enggan disingkap. Perahu-perahu kecil bergoyang lembut, bersandar diam seolah menunggu sesuatu yang lebih besar dari angin atau gelombang. Di kejauhan, garis pantai perlahan pudar ke dalam kabut putih yang rapat.

Edward berdiri di atas batu datar dekat dermaga, ia mengenakan jubah tebal dari kain kasar yang tidak cukup melawan dingin, tapi cukup untuk menyamarkan degup jantungnya yang mengeras. Ia mencatat dalam buku kulitnya, dengan tangan gemetar bukan karena cuaca, melainkan karena perasaan asing yang muncul: rasa gentar.

Di hadapannya, barisan kecil prajurit  bersiap menaiki perahu. Tidak ada pekikan atau lagu perang. Hanya suara kain yang digesekkan, senjata disarungkan, dan tatapan-tatapan yang tertuju ke timur. Di antara mereka, Jimmu berdiri—masih muda, belum setinggi para prajurit di sekitarnya, tapi pancaran keyakinannya membuat orang-orang memberi jalan.

Riku muncul dari balik kabut, berjalan lambat ke sisi Edward. Wajahnya lelah tapi tegas, dan matanya tak lepas dari sosok Jimmu. “Kau lihat itu?” katanya tanpa menoleh. “Itulah masa depan Jepang, tapi ia belum tahu betapa panjang jalannya.”

Edward menutup bukunya perlahan. “Sejarah mencatat ekspedisi ke timur. Tapi melihatnya begini... rasanya lebih seperti takdir yang ragu-ragu.”

Riku mengangguk. “Karena sejarah belum terjadi. Kita hanya tahu bagaimana ia seharusnya terjadi. Tapi semua masih bisa berubah.”

Saat itu, seekor burung hitam melintas di atas kepala mereka—terbang rendah dan hening. Tubuhnya besar, bulu-bulunya seperti arang mengilap, dan yang paling ganjil: ia memiliki tiga kaki. Burung itu tidak mengeluarkan suara, hanya melayang perlahan di atas Jimmu, lalu berputar sekali dan menghilang ke dalam kabut di timur.

Beberapa orang berseru pelan. Beberapa lainnya berlutut. Edward hanya bisa menatap, napasnya tercekat. “Apa itu?” bisiknya.

Riku menjawab tanpa ragu, suaranya nyaris hormat. “Yatagarasu. Tanda dari langit.”

Jimmu pun melihat ke atas, mengikuti lintasan burung itu dengan mata yang tajam. Ia tidak tersenyum, tapi matanya berubah. Ada kilatan baru, seperti api kecil yang baru disulut. Ia naik ke perahu tanpa bicara, lalu memberi isyarat. Layar dibentangkan. Angin datang seperti tahu waktunya.

Edward menatap rombongan itu semakin menjauh. Air di sekitarnya tenang, tapi ia bisa merasakan sesuatu sedang bergerak—sesuatu yang lebih besar dari mereka semua. Sejarah bukan lagi kumpulan nama dan tahun di buku. Ia hidup, dan berlayar menuju Yamato.


Bab 14 – Pertemuan dengan Ōkuninushi

Kabut pagi menyelimuti lembah itu, seperti nafas dunia yang lambat-lambat dilepaskan ke langit. Di kejauhan, pohon-pohon cemara berdiri tegak, diam seperti penjaga kuno yang telah melihat generasi berlalu tanpa suara. Sungai mengalir tenang di kaki bukit, berkilau keperakan, membawa bisik-bisik yang tak dapat diterjemahkan oleh manusia biasa.

Edward berdiri di antara bebatuan lumut, membenamkan kakinya dalam tanah lembap yang seakan menyimpan kenangan ribuan tahun. Ia tidak tahu bagaimana dirinya bisa sampai di tempat ini, hanya bahwa panggilan itu datang dalam mimpi. Sebuah suara tua, dalam bahasa yang nyaris punah, memanggilnya untuk datang dan menyaksikan sesuatu yang “tidak lagi sekadar legenda”.

Dari balik tirai kabut, muncul sosok tinggi dengan jubah rami kusam yang menjuntai hingga tanah. Rambutnya panjang, terurai seperti akar tua, dan matanya—mata yang telah melihat dunia sebelum nama diberikan pada segala sesuatu—menatap Edward dengan tenang. Inilah Ōkuninushi, dewa penguasa tanah dan penenang jiwa-jiwa yang tersesat. Namun hari itu, Edward melihat bukan dewa, melainkan seorang ayah.

“Anak-anakku tak mengerti damai,” ujar Ōkuninushi, suaranya serak seperti dedaunan kering yang bergesekan di musim gugur. “Takeminakata ingin menantang langit, seolah kekuatan adalah segalanya. Ia lupa bahwa bumi pun punya lidahnya sendiri, dan lidah itu berbicara dalam kesabaran.”

Edward mendengar tanpa menyela. Ia tahu, ini bukan waktunya bertanya. Yang ditawarkan Ōkuninushi bukan sekadar kisah, tapi pengakuan—pengakuan dari mitos yang tengah mengalami retak kecil di dasar jiwanya.

“Dulu,” lanjut Ōkuninushi, “aku pun seperti dia. Aku melawan ayahku. Membentuk jalanku sendiri. Tapi jalan kekuasaan bukan hanya tentang kemenangan. Ia tentang apa yang hilang setelahnya.”

Di belakang Ōkuninushi, berdiri para pengikutnya. Tak ada sorak-sorai, tak ada nyala api. Hanya diam. Keheningan yang terasa berat, seperti dunia sedang menahan nafas.

Edward menatap wajah sang dewa lebih lama, mencoba memahami keriput yang seperti ukiran batu. Di matanya terlihat luka yang tak bisa dijahit waktu—luka seorang ayah yang menyaksikan anaknya berbaris ke medan yang ia sendiri tahu akan penuh darah.

Ia membuka mulut perlahan. “Mengapa kau izinkan dia pergi?”

Jawaban datang setelah jeda panjang. “Karena dunia tidak dibentuk oleh kehendak satu orang, Edward. Bahkan oleh dewa sekali pun. Dunia dibentuk oleh tabrakan kehendak—dan hanya waktu yang tahu mana yang bertahan.”

Lalu Ōkuninushi berjalan ke tepi jurang. Dari sana, terlihat lembah Suwa di kejauhan, tempat Takeminakata dan kekuatan langit kelak akan bertemu. Ia mengangkat tangan seakan memberi restu, atau mungkin perpisahan.

Edward tidak tahu mana yang lebih menyakitkan—melihat dewa menjadi manusia, atau melihat manusia tak bisa menolong dewa yang sedang menjadi ayah.

Ia mencatat semuanya, tak hanya di lembar-lembar buku yang ia bawa, tapi juga di tempat terdalam dari hatinya. Sebab hari itu, mitos turun dari langit, menyentuh tanah, dan mengajarkan bahwa bahkan kekuatan besar pun tak bisa lepas dari luka kecil bernama keluarga.

Catatan kaki
Ōkuninushi dikenal dalam mitologi Jepang sebagai penguasa kuno tanah Izumo, sering dikaitkan dengan perdamaian, pertanian, dan roh-roh bumi.
Takeminakata adalah anaknya, yang kemudian melawan pasukan Jimmu dalam kisah legendaris tentang penyatuan Jepang.
Lembah Suwa merupakan wilayah yang dianggap sebagai tempat tinggal Takeminakata, dan tempat terjadinya peristiwa penting dalam mitos Jepang.


Bab 15 – Cermin, Pedang, Permata

Kabut turun lebih awal hari itu, menyelimuti lereng gunung dengan selendang perak yang menggigil di kulit. Langit tak bersuara. Udara menggantung berat seolah menahan napas, menunggu sesuatu yang belum sepenuhnya nyata namun akan mengubah segalanya.

Jimmu berdiri seorang diri di tengah lingkaran batu tua yang telah tertanam sejak dunia belum mengenal nama. Pakaiannya sederhana—jubah putih dari serat rami, diikat tali merah yang telah memudar warnanya. Di hadapannya, tiga artefak terletak di atas altar batu, masing-masing dibungkus kain hitam yang tampak lebih tua dari waktu itu sendiri.

Angin pertama bertiup pelan. Kain yang menyelimuti cermin terangkat pelan, menyingkap permukaan perak mengkilap yang tak memantulkan wajah Jimmu, tapi bayangan masa lalu. Ia melihat ibunya, menangis di pinggir laut. Ia melihat para leluhur menunduk dalam doa. Lalu, ia melihat dirinya—bukan sebagai Kaisar, tetapi sebagai anak lelaki kecil yang mencari kebenaran dalam dunia yang menutupinya dengan teka-teki. Tiba-tiba tubuhnya terasa ringan. Ia seolah melayang ke dalam permukaan cermin, menyelam ke dasar jiwanya.

"Jangan lihat dunia," bisik suara yang tidak memiliki asal. "Lihatlah dirimu. Dan kau akan tahu apa yang harus dilihat."

Jimmu tersentak keluar dari trans itu. Cermin kini redup, seperti kabut telah mengendap di balik permukaannya. Ia membungkuk, menyentuh lantai tanah, dan berterima kasih dalam diam.

Angin kedua datang lebih dingin. Kain pada pedang terangkat, dan bilahnya memantulkan cahaya meski matahari tersembunyi. Jimmu mengulurkan tangan. Ketika jari-jarinya menyentuh gagang pedang, tubuhnya terhuyung. Ia berada di medan perang—namun tanpa darah, tanpa musuh. Hanya dirinya, berhadapan dengan rasa takut, kemarahan, dan keraguan. Setiap ayunan pedang bukan melawan makhluk, tapi melawan pikiran-pikiran yang menghalangi langkahnya.

"Lindungi bukan hanya tubuh rakyatmu," suara itu datang lagi, "tapi lindungi juga mimpi mereka."

Keringat dingin mengalir di pelipisnya saat ia kembali sadar. Ia menunduk, menghormati kekuatan yang lebih tua dari besi.

Angin ketiga datang tak terasa, seperti napas bumi itu sendiri. Kain di atas permata terbuka dengan gerakan halus, dan cahaya merah jambu menyebar ke sekeliling, seolah membangunkan kehidupan dari tidur panjang. Permata itu berdenyut seperti jantung, mengirimkan gelombang lembut ke tubuh Jimmu.

Dalam cahaya itu, ia melihat wajah-wajah yang belum lahir—generasi mendatang yang menunggu dipimpin, diberi harapan. Tapi permata juga menunjukkan kehancuran: sungai-sungai kering, rumah-rumah terbakar, suara tangis yang tak berujung. Tugasnya bukan hanya memerintah, tapi menjaga keseimbangan.

Jimmu menutup mata, menempatkan tangannya di atas permata. Sebuah getaran halus merambat ke dadanya, seperti janji yang mengikat.

Lalu semuanya hening.

Edward, yang menyaksikan dari kejauhan bersama pendeta-pendeta kuno, tidak berkata sepatah pun. Ia tahu, yang baru saja terjadi bukanlah seremoni. Itu adalah transformasi. Dan langit telah menyaksikan semuanya.

Jimmu tidak membawa ketiga pusaka itu dengan bangga. Ia membawanya dengan beban. Tapi di balik beban itu, ada keyakinan: bahwa jalan Kaisar bukan jalan kekuasaan, melainkan jalan kesadaran.

Catatan kaki
Tiga pusaka suci Jepang dikenal sebagai “Sanshu no Jingi”: Cermin Yata no Kagami, Pedang Kusanagi no Tsurugi, dan Permata Yasakani no Magatama.
Cermin melambangkan kebijaksanaan dan kejujuran diri, pedang mewakili keberanian, dan permata simbol dari kasih dan hubungan suci antara langit dan manusia.
Penyerahan pusaka secara spiritual diyakini sebagai tanda restu langit bagi Kaisar yang sah.


Bab 16 – Pertempuran Shinano

Langit di atas lembah Shinano memerah, bukan karena matahari terbit, tapi karena nyala obor yang membakar malam terakhir sebelum pertempuran. Kabut belum sepenuhnya terangkat, membuat pasukan Jimmu tampak seperti bayang-bayang roh yang bergerak diam dalam kesiapan sunyi.

Jimmu berdiri di atas batu datar, mengenakan baju zirah ringan dari sisik tembaga, cermin pusaka tergantung di dadanya. Di sisi kirinya, Riku menahan napas, wajahnya tegang tapi matanya menyala. Angin pegunungan membawa suara terompet kerang dari kejauhan—sinyal bahwa pasukan Takeminakata mulai bergerak dari sisi timur.

"Apa kau siap, Riku?" tanya Jimmu, suaranya tenang tapi tajam seperti bilah pedang yang baru diasah.

"Aku takut," jawab Riku tanpa ragu. "Tapi jika kau memimpin, aku tak akan mundur."

Jimmu mengangguk. “Ketakutan bukan musuh. Ia hanya ujian. Kau lulus ujian ini saat kau tetap melangkah.”

Di bawah, pasukan bersenjata tombak bambu dan pedang batu mulai menyusun formasi. Di antara mereka, wajah-wajah muda, sebagian bahkan belum menumbuhkan janggut. Tapi semangat menyala di mata mereka. Seseorang berseru, “Untuk langit dan tanah Shinano!” Sorakan menggema, dan tanah pun seperti bergetar.

Benturan pertama terjadi saat barisan tombak bertabrakan. Suara logam dan kayu menghantam seperti guntur pecah di darat. Riku bertarung di barisan depan, tombaknya menari cepat—menusuk, menangkis, menghantam.

Dari sisi bukit, pasukan Takeminakata datang seperti air bah. Pemimpinnya sendiri—berbadan tinggi dan membawa gada besar dari batu gunung—maju sambil meneriakkan mantra perang. Ia tampak seperti dewa pegunungan, rambut panjangnya dikepang, tubuhnya dilukis dengan simbol suku kuno.

“Jimmu!” teriak Takeminakata. “Kau datang membawa pusaka langit, tapi ini tanah kami!”

Jimmu maju perlahan, menyibak barisan dengan pedangnya yang bersinar.

“Langit memberi, bukan untuk menguasai, tapi untuk menyatukan!” jawabnya keras.

Mereka saling mendekat, dan pertarungan pribadi pun terjadi. Gada dan pedang saling membentur. Tanah bergetar tiap kali Takeminakata menghantam, tapi Jimmu lincah, menghindar dengan gerakan seperti tarian. Dalam satu momen, pedang Jimmu mengenai lengan musuhnya, darah memercik di udara seperti kabut merah.

Takeminakata mundur, terpincang. “Ini belum akhir…” desisnya sebelum berlari ke arah hutan lebat di lereng gunung. Pasukannya kocar-kacir menyusul, kehilangan arah dan semangat.

“Dia menuju gunung,” gumam Riku.

“Biarkan dia,” jawab Jimmu. “Gunung itu bukan tempat untuk perang. Ia akan menemukan takdirnya sendiri di sana.”

Pasukan Jimmu berdiri di tengah ladang yang sunyi setelah pertempuran. Bau darah, keringat, dan tanah basah bercampur jadi satu. Mereka menang, tapi bukan dengan sorak, melainkan dengan diam penuh hormat. Pertempuran ini bukan sekadar kemenangan. Ini permulaan dari sesuatu yang lebih besar.

Catatan kaki
Pertempuran Shinano merujuk pada perlawanan lokal terhadap perjalanan timur Jimmu, yang kelak dianggap sebagai kampanye penyatuan spiritual dan politik Jepang.
Gunung tempat Takeminakata menghilang dikaitkan dengan Suwa-taisha, salah satu kuil tertua dan tersuci di Jepang.


Bab 17 – Jalan Menuju Yamato

Angin timur membawa bau pinus dan tanah basah. Matahari menggantung rendah di langit musim gugur ketika rombongan Jimmu memulai perjalanan mereka, meninggalkan dataran Shinano yang telah menjadi saksi pertempuran dan sumpah. Tanah di belakang mereka penuh darah dan kenangan, namun di hadapan mereka: Yamato, tanah impian, pusat takdir yang ditetapkan langit.

Jalan menuju Yamato bukanlah sekadar rute geografis. Ia adalah ujian bagi tekad, bagi iman yang dibentuk dari legenda dan sumpah purba. Hutan-hutan lebat membentang seperti dinding hidup, sungai-sungai deras menjadi garis pemisah antara sekarang dan masa depan. Di antara pohon-pohon cedar yang menjulang, suara burung gagak terdengar seperti nyanyian arwah leluhur, membisikkan restu dan peringatan.

Jimmu berjalan paling depan. Tubuhnya dibalut jubah linen dan kulit rusa, rambutnya diikat tinggi dengan hiasan perunggu pemberian para pendeta. Tatapannya menembus kabut pagi, tidak bergeming walau jalan berliku dan tak selalu pasti. Di sebelahnya, Riku menuntun kudanya sendiri, sedikit lebih lambat, mencatat apa pun yang bisa ia pahami.

“Apa yang kau pikirkan, Riku?” tanya Jimmu, tanpa menoleh.

“Bahwa kita sedang menulis sejarah, bahkan sebelum kita tahu akhirnya,” jawab Riku pelan. “Langkah-langkah ini akan menjadi ayat dalam kitab negeri ini.”

Dari belakang barisan, Edward menyeka keringat dari pelipisnya. Mantel wolnya—sebuah peninggalan dari dunia lain—terasa berat, tapi ia tetap menjaganya erat. Baginya, hari itu bukan sekadar perjalanan. Ia menyaksikan kelahiran legenda, dan di matanya sendiri, setiap debu yang beterbangan terasa sakral.

“Kau tak mencatat semua ini, Edward?” celetuk seorang prajurit muda, tersenyum sambil mengangkat tombaknya.

“Aku mencatat, tapi tidak dengan tinta,” jawab Edward. “Dengan ingatan.”

Gelak tawa kecil terdengar. Di antara kelelahan dan ketegangan, manusia tetap membawa canda sebagai pelipur.

Di sebuah tikungan lembah, rombongan berhenti. Di depan mereka, kabut mulai menipis, menampakkan celah tanah tinggi yang mengarah ke timur. Di sanalah letak Yamato, dikelilingi dan dilindungi oleh pegunungan keramat.

“Lihat itu,” kata Jimmu. “Di sanalah kita akan mendirikan takhta langit.”

Tak ada sorak. Tak ada gegap gempita. Hanya angin yang melintas, dan dada yang membusung perlahan.

Sepanjang perjalanan, mereka melewati lembah dan sungai, kadang bertemu desa-desa kecil yang menyambut mereka dengan hati-hati. Anak-anak mengintip dari balik tirai jerami, sementara para tetua membungkuk dalam hormat. Kabar tentang Kaisar muda yang memimpin sendiri pasukannya sudah tersebar luas, seperti angin musim gugur yang tak dapat dihentikan.

Malam itu, saat api unggun kecil menyala di antara lingkaran batu, Jimmu duduk merenung. Di sekelilingnya, suara nyanyian lembut terdengar, lagu lama dari Kyūshū tentang tanah baru dan dewa-dewa pelindung.

Edward menatap wajah sang calon Kaisar yang diterangi cahaya api. Ada sesuatu dalam sorot mata Jimmu—bukan sekadar ambisi atau keberanian. Itu adalah keyakinan yang menembus waktu.

"Sejarah..." gumam Edward lirih. "Aku sedang melihat sejarah berjalan. Bukan di dalam buku, tapi di tanah basah, di napas para prajurit ini, di nyala mata Jimmu.


Bab 18 – Pengorbanan Riku

Langit di atas Yamato memancarkan cahaya lembut keemasan, seolah matahari pun ikut memberi restu pada kemenangan itu. Padang rumput yang semula menjadi medan pertempuran kini hanya menyisakan jejak-jejak kaki dan bendera yang berkibar malas tertiup angin. Burung-burung kembali terdengar. Bau tanah basah bercampur keringat dan darah yang belum sepenuhnya hilang. Tapi bagi para prajurit, itu semua sudah menjadi bagian dari cerita yang akan mereka ceritakan pada anak cucu nanti.

Riku berdiri bersama Hana di pinggiran bukit kecil. Dari sana, mereka melihat para prajurit menyiapkan altar syukur. Para miko menari lambat, menyusun bunga, menabur garam, dan memanggil roh-roh leluhur agar damai bersama mereka.

“Aku belum pernah merasa sedamai ini,” bisik Riku.

Hana menggenggam tangannya. “Karena hatimu sudah menemukan rumah.”

Beberapa langkah dari mereka, Edward menatap jarum kompas perunggunya yang bergetar ringan. Cahaya samar mulai muncul di antara celah pepohonan suci. Ia tahu—gerbang itu terbuka lagi. Tapi dadanya berat, seolah waktu yang seharusnya lurus, kini bercabang dua.

Langkah tegap mendekat. Jimmu, tubuhnya dibalut jubah panjang berwarna biru tua dan merah tanah, berdiri menghadap Edward. Di tangannya, ia membawa tongkat upacara berhias cakar burung gagak.

“Edward,” katanya, suaranya dalam dan tenang, “kau datang dari dunia yang tak kami kenal. Tapi langit melihat keberanianmu. Dan aku melihat hati manusia di dalam dirimu.”

Edward menelan ludah. “Aku tak tahu bagaimana harus membalas semua ini. Kalian memberiku lebih dari sekadar petualangan. Kalian memberiku rasa.”

Jimmu mengangguk perlahan. “Kelak, di masa depanmu, orang-orang mungkin hanya mengingatku sebagai mitos. Sebuah nama yang kabur dalam catatan tua. Tapi kau... kau melihat aku sebagai manusia. Itu lebih berharga dari seribu prasasti.”

Edward menatap mata Jimmu. “Dan kau bukan hanya raja. Kau pemimpin sejati. Bukan karena pedang, tapi karena engkau mendengar dan meragukan, mencintai dan merelakan.”

Untuk sesaat, keheningan memeluk mereka. Angin bergerak pelan. Cahaya gerbang waktu makin kuat. Ia menoleh ke Riku, yang berdiri tak jauh, tangannya memegang tangan Hana, adik dari pendeta Inbe no Mitsunari. Mata keduanya saling bertemu dalam hening, dan dalam tatapan itu, Edward tahu: Riku telah memutuskan.

Hana mengangkat wajahnya. “Jika kau harus pergi... aku tidak akan menahanmu,” ucapnya, suara lirih namun tegas.

“Tapi aku ingin tetap,” jawab Riku pelan. “Hana... Sejak malam kita menari di halaman kuil, sejak kau merawat lukaku dengan tanganmu yang gemetar... aku tahu dunia ini lebih hidup daripada masa depanku yang penuh logika.”

Air mata menggenang di mata Hana. Ia mengangguk kecil, kemudian memeluk Riku erat. Edward menatap mereka dari kejauhan, lalu menunduk—tak hanya karena haru, tapi karena kehilangan yang mulai ia rasakan.

Riku berjalan ke arahnya, masih menggenggam tangan Hana. Mereka bertiga berdiri diam sejenak, dikelilingi suara angin, tawa prajurit, dan samar-samar lonceng dari kuil yang sudah mulai dibersihkan.

“Kita harus pergi,” katanya pelan.

Riku menggeleng. “Aku sudah sampai. Ed, kau tahu aku selalu tersesat di dunia kita. Semua terasa asing. Tapi di sini... untuk pertama kalinya, aku tahu siapa diriku.”

Hana mendekap lengannya. Ia tidak menangis, hanya menatap Edward dengan mata yang tenang. “Ia tidak akan sendiri.”

“Pergilah, Edward,” ucap Riku. “Kau harus kembali. Dunia kita butuh saksi.”

Edward menghampiri mereka. Mereka saling berpelukan, satu persatu. Lama, tanpa kata-kata.

“Jaga dia, Hana,” kata Edward.

“Dan jaga kisah kami di duniamu,” ucap Riku.

Ketika Edward melangkah ke arah cahaya, suara Jimmu memanggilnya sekali lagi.

“Tulis kisah kami bukan dengan tinta kekuasaan, tapi dengan napas manusia.”

Edward menoleh. “Kisahmu akan hidup di antara keduanya.”

Dan lalu, dengan langkah berat namun pasti, ia masuk ke cahaya.

Di belakangnya, dunia masa lalu perlahan menutup pintu. Tapi bagi Riku dan Hana, bagi para prajurit Yamato dan sang kaisar langit—hari itu adalah awal dari kisah yang tak akan pernah mati.

Catatan kaki 

Jimmu seringkali digambarkan secara simbolis sebagai tokoh mitologis, namun dalam tradisi lisan dan puisi klasik, ia juga dikenang sebagai tokoh dengan sisi manusiawi yang kuat. 


Bab 19 – Kembali ke Dunia Asal

Udara terasa berbeda. Lebih tipis, lebih cepat, dan berisik.
Edward terbatuk pelan saat kepalanya menembus semak kering di kaki bukit. Cahaya dari lampu jalan menusuk matanya. Di seberang sana, jalan raya yang lengang membentang, dilintasi suara mesin mobil dari kejauhan—nyaring dan asing, sekaligus akrab.

Ia duduk perlahan, menatap sekeliling. Tempat itu masih di Jepang, masih di kaki gunung yang sama. Tapi semua terasa salah—atau justru terlalu benar.
Tangannya meraba saku mantel wolnya. Lalu dada. Buku catatan itu masih ada. Agak hangus di tepinya, namun semua tulisan selamat. Ia memeluknya erat.

“Pak, Anda baik-baik saja?”
Seorang pria paruh baya dengan helm pekerja konstruksi menghampirinya. Di belakangnya, lampu sorot dari truk proyek menyala terang.
Edward mengangguk pelan. “Saya... tersesat, mungkin. Tertidur.”
Pria itu menatapnya dengan curiga, tapi kemudian menghela napas dan memberi air mineral dari sakunya.
“Berbahaya kalau tidur dekat jurang. Apalagi malam-malam begini.”

Edward meneguk pelan. Air itu dingin dan segar, tapi rasanya tak sama seperti sungai di dataran Yamato. Ia menoleh ke arah bukit, tapi celah portal itu telah menghilang, seakan waktu sendiri telah menutup luka yang pernah ia masuki.

Ia menginap malam itu di penginapan terdekat. Kamar bersih, pendingin ruangan dingin, dan cahaya putih dari lampu LED menyorot meja kecil tempat ia membuka kembali buku catatannya. Ia membacanya dari awal—tulisan tangannya sendiri, tetapi seakan ditulis oleh orang yang berbeda.

Di lembar terakhir, ada sesuatu yang membuat napasnya tercekat: sebuah catatan kecil, dalam tulisan tangan lain. Lebih halus, penuh gaya. Tulisan Riku.

Kawan, jika kamu membaca ini di masa yang jauh, ketahuilah bahwa aku tidak menyesal. Aku telah memilih jalanku. Kumohon, jangan lupa kisah ini.

Edward menutup buku perlahan. Di luar jendela, lampu kota bergemerlapan. Tapi di dalam kepalanya, masih bergema suara tabuh perang, tawa Hana, raungan Takeminakata, dan sorot mata Jimmu yang mengarah jauh ke timur.

Keesokan harinya, ia kembali ke Tokyo. Di sebuah kafe kecil dekat kuil Yasaka, ia bertemu dengan Profesor Hiroshi Takamura —seorang arkeolog lokal yang dulu memperkenalkan padanya tentang legenda Jimmu.

“Kau terlihat seperti baru kembali dari perang,” kata Hiroshi sambil menyeruput kopi hitam.
Edward tersenyum samar. “Mungkin memang begitu.”
Ia mengeluarkan buku catatannya dan meletakkannya di atas meja.

Hiroshi membuka beberapa lembar dan tertawa kecil. “Kau menulis ini semua?”
“Sebagian.”
“Ini—ini seperti manuskrip yang hilang dari zaman mitologi. Tapi tidak ada yang akan percaya.”
“Biarkan saja mereka tak percaya,” jawab Edward. “Tapi kisah ini tidak untuk mereka. Ini untuk yang bersedia mendengar.”

Dalam beberapa kepercayaan kuno, waktu bukanlah garis lurus, melainkan pusaran—dan pusaran itu terkadang membuka celah bagi yang tak dicari.

Ketika Edward keluar dari kafe dan melangkah ke jalan, langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya—namun lebih pasti. Ia membawa sejarah dalam genggamannya, tapi juga rasa kehilangan.
Dan di suatu tempat, jauh di masa lalu yang mungkin tak lagi bisa ia datangi, seorang sahabat bernama Riku menatap langit Yamato, tersenyum, dan memilih tinggal.


Bab 20 – Catatan yang Terungkap

Langit Haneda mendung pagi itu. Edward berdiri di dekat jendela besar terminal internasional, memandangi pesawat British Airways yang bersiap di kejauhan. Tangannya memegang erat paspor dan boarding pass, sementara tas selempangnya terasa lebih berat—bukan karena isi, tapi karena kenangan yang kini memenuhi setiap jengkal pikirannya.

Di dalam tas itu, buku catatan dari masa lalu disimpan rapi di antara baju dan map dokumen. Ia tak membukanya sejak pertemuan terakhir dengan Profesor Hiroshi. Ada sesuatu yang sakral dari diamnya buku itu—seakan suara masa lalu hanya boleh dibuka kembali di tanah kelahiran Edward, di Oxford, di ruang kerjanya yang sunyi.

“Mr. Edward Albright,” panggil petugas di konter check-in. “Bagasi Anda sudah siap. Penerbangan akan boarding dalam 45 menit.”
“Terima kasih.”
“Dan... semoga perjalanan Anda menyenangkan,” ucap si petugas sambil tersenyum. Mungkin sekadar basa-basi, tapi terdengar jujur di telinga Edward hari itu.

Di banyak budaya, pulang bukan sekadar kembali ke rumah. Pulang adalah ujian akhir dari sebuah perjalanan jiwa.

Perjalanan udara selama hampir 13 jam itu seakan tak berujung. Di jendela oval pesawat, langit berganti dari kelam ke jingga, lalu biru pucat. Edward tak banyak tidur. Ia membuka laptop sekali, mencoba menulis, tapi hanya satu kalimat yang muncul:

"Apa yang akan dunia katakan jika kebenaran sejarah bukan ditemukan, melainkan dialami?"

Di sampingnya, seorang wanita muda asal Malaysia yang baru pertama kali ke Inggris bertanya, “Apakah Oxford benar-benar seperti di film-film?”
Edward menoleh dan tersenyum samar. “Lebih tua dari yang kau bayangkan. Tapi tetap menyimpan keajaiban.”
Wanita itu mengangguk dan kembali menatap layar hiburan di kursinya.

Pesawat mendarat di Heathrow sore hari. Hujan ringan menyambutnya, gerimis khas Inggris yang seperti tak pernah benar-benar turun, tapi juga tak kunjung reda. Edward menarik napas dalam-dalam begitu keluar dari imigrasi. Aroma tanah Inggris. Asam dan dingin. Tapi kini terasa lebih jauh dari sebelumnya.

Kereta ekspres membawa Edward ke pusat kota London, lalu ia melanjutkan dengan kereta menuju Oxford. Setiap stasiun yang dilewati bagai potongan hidup lama yang menatapnya kembali—Reading, Didcot Parkway, hingga akhirnya menjejakkan kaki di peron Oxford Central.

Di gerbang Universitas, penjaga keamanan mengenalnya.
“Ah, Dr. Albright! Sudah lama tak kelihatan.”
“Saya baru pulang dari perjalanan yang... agak panjang.”
Penjaga itu terkekeh. “Penelitian ke Jepang, ya? Selalu penuh kejutan, negara itu.”

Edward tiba di kantornya saat senja menyapa kota. Jendela besar menghadap halaman batu berlumut, dan aroma buku tua menyambutnya. Di meja kayu tuanya, ia meletakkan buku catatan, lalu duduk dengan tenang. Butuh waktu tiga hari hingga ia mulai menulis makalahnya—bukan laporan ilmiah biasa, tapi semacam pengakuan yang dibungkus sebagai “cerita fiksi akademis”.

Ia memberi judulnya: The Birth of a Divine Emperor: A Fictional Ethnography into Yamato Myth and Time.

Makalah itu dipresentasikan dalam simposium musim gugur. Ruangan penuh. Beberapa kolega tertarik, beberapa tersenyum sinis. Seorang profesor dari Harvard menyebutnya “eksperimen naratif yang liar tapi brilian.” Seorang lain dari Berlin menuduhnya “mengaburkan garis antara ilmu dan fantasi.”

Di lorong setelah presentasi, seorang mahasiswi muda menghampirinya.
“Dr. Albright... apakah Anda benar-benar... mengalami semua itu?”
Edward menatapnya sebentar, lalu berkata, “Apa kamu percaya bahwa waktu bisa terbuka untuk orang yang siap?”
Mahasiswi itu ragu sejenak, lalu mengangguk.

Edward tersenyum. “Kalau begitu, simpan pertanyaan itu baik-baik. Jawabannya bisa datang dengan caranya sendiri.”

Di ruangannya malam itu, ia menyalakan lilin kecil. Cahaya temaram menyinari halaman terakhir buku catatan.
Tinta sudah mulai pudar, tapi satu kalimat dari Riku tetap jelas:

"Kisah ini akan hidup sejauh ada yang percaya.Kisah bukan untuk membuktikan, melainkan untuk menghidupkan. Sebab tidak semua yang nyata harus terbukti".


Epilog – Ketika Sejarah Menatap Balik

Langit Oxford masih abu-abu ketika Edward melangkah masuk ke perpustakaan kampus. Tangannya membawa naskah setebal dua ratus halaman, berjudul The Birth of a Divine Emperor. Ia duduk di ruang kerjanya yang berantakan—peta Jepang kuno menempel di dinding, secangkir teh mendingin di samping buku catatan kulit yang telah menemaninya sepanjang perjalanan.

Makalah itu ia tulis sebagai fiksi akademik. Atau setidaknya itulah yang ia katakan pada dekan dan kolega-koleganya—cara satu-satunya agar kisah itu bisa lolos dari jeruji rasionalisme ilmiah. Tapi di antara kalimat-kalimat ilmiah dan kutipan mitologi, tersembunyi sesuatu yang lebih dalam: pengakuan akan pengalaman yang mengubah hidup.

Publikasi itu mengguncang dunia akademik. Sebagian menyebutnya karya jenius: gabungan antara historiografi, sastra, dan spiritualitas. Sebagian lainnya menganggapnya lelucon yang terlalu serius. Di balik debat itu, satu hal tak terbantahkan: naskah itu menyalakan kembali minat pada asal-usul mitologi Jepang, dan membuka ruang bagi pertanyaan lama yang diajukan dengan cara baru.

Beberapa peneliti mulai melacak catatan serupa—catatan kuno yang tampaknya selaras dengan kisah Edward. Arkeolog di Kyūshū mengklaim menemukan fragmen logam yang cocok dengan deskripsi pusaka langit. Seorang profesor di Nara menemukan rujukan samar pada seorang "gaikokujin (orang asing) dengan mata terang, menulis kelahiran seorang kaisar suci" dalam dokumen kuno dari zaman Yamato awal.

Di antara semua reaksi, Edward tetap diam. Ia menolak wawancara. Ia tidak menghadiri simposium yang membahas karyanya. Ia lebih sering terlihat berjalan sendiri di taman kampus, membawa payung meski tak hujan, seakan masih mencari pintu di antara ranting dan kabut.

Namun dalam sunyi, Edward tahu satu hal: Riku tidak pernah kembali. Tak pernah muncul lagi, bahkan sekadar dalam mimpi. Tapi setiap kali musim semi tiba, dan bunga sakura mekar di sudut halaman Jepang di taman botani, Edward merasa kehadiran Riku di sana—seolah waktu hanya melipat dirinya sendiri, bukan menghapus.

Dan bila suatu saat seseorang bertanya padanya,
“Apakah itu sungguh terjadi?”

Ia akan menjawab:
"Apa pun yang mengubah caramu melihat dunia, layak disebut nyata."

Yang paling abadi dari waktu bukanlah jejaknya,tapi bagaimana ia membentuk kita menjadi manusia.


Bibliografi

• Aston, William G. Nihongi: Chronicles of Japan from the Earliest Times to A.D. 697. Oxford: Clarendon Press, 1896 / Tokyo: Tuttle Publishing, 1972.

• Philippi, Donald L. Kojiki. Princeton: Princeton University Press, 1968.

• Hardacre, Helen. Shinto: A History. Oxford: Oxford University Press, 2017.

• Senda, Mitsuru. “The Archaeology of Yamato: Tombs, Rituals, and State Formation.” Japanese Journal of Archaeology 2 (2015): 25–48.

“Jimmu.” In Encyclopædia Britannica. Last modified March 26, 2024.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Declan & Grace (Sebuah Cinta yang Tak Terlihat, Tapi Nyata)

Seporsi Rasa, Semangkuk Cinta

Musim Panas Terakhir Kita